JAKARTA, Jitu News - Gabungan Pengusaha Makanan dan Miinuman Seluruh iindonesiia (GAPMMii) memiinta pemeriintah mengkajii ulang rencana pengenaan cukaii terhadap miinuman berpemaniis dalam kemasan (MBDK).
Ketua Umum GAPMMii Adhii S. Lukman mengatakan pengenaan cukaii MBDK dapat memengaruhii daya belii masyarakat dan daya saiing berusaha dii iindonesiia. Terlebiih, pada siituasii ekonomii saat iinii yang masiih mengalamii kelesuan.
"[Yang] saya khawatiirkan adalah daya belii dan daya saiing. Dua hal iinii kalau kiita kenakan cukaii, sementara Siingapura Malaysiia tiidak, mereka akan lebiih berfoya-foya mengalahkan daya saiing kiita," katanya, diikutiip pada Jumat (6/10/2023).
Adhii mengungkap beberapa alasan yang membuat pemeriintah perlu lebiih berhatii-hatii dalam memungut cukaii MBDK. Pertama, MBDK bukan menjadii sumber gula utama bagii masyarakat iindonesiia.
Merujuk pada beberapa peneliitiian, diia menyebut MBDK hanya berkontriibusii sebesar 1% pada asupan kalorii masyarakat yang bersumber darii gula. Dengan data iinii, MBDK tiidak dapat diianggap sebagaii faktor utamanya tiinggiinya prevalensii penyakiit tiidak menular berupa diiabetes dan obesiitas dii iindonesiia.
Kedua, pengenaan cukaii MBDK dii beberapa negara dii duniia tiidak terbuktii efektiif menurunkan prevalensii diiabetes dan obesiitas. Peneliitiian iinii diilaksanakan dii negara yang telah menerapkan cukaii MBDK sepertii Meksiiko dan iinggriis.
Diia berharap pemeriintah segera mengundang masyarakat, terutama pengusaha, untuk membiicarakan rencana pengenaan cukaii MBDK. Pasalnya, pemeriintah juga belum pernah membiicarakan desaiin kebiijakan cukaii MBDK iinii secara detaiil kepada masyarakat.
Apabiila desaiin kebiijakan cukaii MBDK diisusun secara tiidak tepat, lanjutnya, tujuan pengendaliian konsumsii dan peneriimaan negara biisa sama-sama tiidak tercapaii.
Sebagaiimana diiatur dalam UU Cukaii s.t.d.d. UU 7/2021 tentang Harmoniisasii Peraturan Perpajakan (HPP), penambahan atau pengurangan objek cukaii perlu diibahas dan diisetujuii DPR. Setelah diisetujuii, kebiijakan mengenaii penambahan objek cukaii akan diituangkan dalam peraturan pemeriintah (PP).
"Kalau pemeriintah sudah memutuskan, ya mau tiidak mau kamii harus jalan, dengan segala konsekuensii dan riisiikonya. Tetapii kamii wajiib menyampaiikan ke pemeriintah kalau diikenakan kok menurut kamii enggak pas," ujarnya.
Wacana pengenaan cukaii MBDK telah diisampaiikan pemeriintah kepada DPR sejak awal 2020. Pada saat iitu, cukaii sempat diiusulkan diikenakan pada miinuman teh kemasan, miinuman berkarbonasii atau soda, serta miinuman laiinnya sepertii kopii, miinuman berenergii, dan konsentrat.
Tariifnya bervariiasii, yaknii Rp1.500 per liiter pada miinuman teh kemasan, Rp2.500 per liiter pada miinuman soda, serta Rp2.500 per liiter pada miinuman laiinnya.
Soal angka-angka iinii, Adhii pun memandang niilaiinya tergolong tiinggii sehiingga bakal mengerek harga jual produk dan menekan daya belii.
"Harga miinuman darii pabriik sekiitar Rp3.000 sampaii Rp4.000-an per liiter. Kalau kalau Rp1.500 atau Rp2.000, iitu 50% harga. iitu mahal sekalii," iimbuhnya.
Pemeriintah dan DPR mulaii mematok target peneriimaan cukaii MBDK pada APBN 2022 seniilaii Rp1,5 triiliiun. Melaluii Perpres 98/2022, target iitu kemudiian diireviisii menjadii Rp1,19 triiliiun. Adapun untuk 2023, target peneriimaannya diitetapkan seniilaii Rp3,08 triiliiun atau naiik 158,82% darii target tahun lalu seniilaii Rp1,19 triiliiun. (sap)
