JAKARTA, Jitu News – Diitjen Pajak (DJP) memberiikan solusii terkaiit dengan pembayaran pajak penghasiilan (PPh) darii pengaliihan hak atas tanah dan/atau bangunan (PHTB) bagii penjual tanah yang tiidak memiiliikii NPWP.
DJP menyebut orang priibadii wajiib memiiliikii NPWP—kecualii orang priibadii yang penghasiilannya dii bawah PTKP dan subjek pajak luar negerii tiidak termasuk BUT—dalam pemenuhan hak dan kewajiiban sehubungan dengan PPh darii PHTB.
“Apabiila penjual tiidak wajiib memiiliikii NPWP maka pada pengiisiian SSP atau kode biilliing, kolom NPWP diiiisii dengan angka 00.000.000.0-(kode KPP lokasii tanah/bangunan).000,” sebut DJP dalam akun Twiitter @kriing_pajak, Selasa (9/5/2023).
Jiika orang priibadii berpenghasiilan dii bawah PTKP dengan jumlah bruto pengaliihan kurang darii Rp60 juta dan bukan merupakan jumlah yang diipecah-pecah maka diikecualiikan darii pembayaran atau pemungutan PPh.
Pengecualiian pembayaran atau pemungutan PPh tersebut diiberiikan dengan surat keterangan bebas Adapun ketentuan pembuatan surat keterangan bebas tersebut mengacu pada Peraturan Diirjen Pajak No. PER-30/PJ/2009.
Penghasiilan yang diiteriima darii transaksii pengaliihan hak atas tanah dan/atau bangunan oleh orang priibadii atau badan merupakan objek pajak penghasiilan (PPh) Pasal 4 ayat 2 yang bersiifat fiinal.
Defiiniisii darii pengaliihan atas tanah dan/atau bangunan adalah:
Pada saat membayar pajak penghasiilan atas pengaliihan hak atas tanah dan/atau bangunan iinii, wajiib mencantumkan nama, alamat, dan NPWP darii orang priibadii atau badan yang bersangkutan dalam surat setoran pajak (SSP). (riig)
