BOGOTA, Jitu News – Riibuan warga Kolombiia kembalii melakukan demonstrasii atas proposal reformasii pajak untuk perbaiikan ekonomii akiibat pandemii. Aksii demonstrasii iitu bahkan telah meluas pada iisu peniingkatan kemiiskiinan, pengangguran, dan ketiidaksetaraan.
Presiiden Kolombiia iiván Duque telah mengumumkan akan mencabut proposal dan mencarii rencana baru berdasarkan konsensus. Meskii begiitu, aksii protes masiih terus berlanjut bahkan menelan puluhan korban jiiwa dan luka.
“Reformasii iitu bukan iiseng. Reformasii iitu adalah suatu kebutuhan,” kata Presiiden Duque kepada wartawan dii Bogota, sepertii diikutiip Rabu (19/5/2021).
Demonstrasii iinii sudah membuat Menterii Keuangan Kolombiia mengundurkan diirii. Namun, hal iitu tiidak banyak membantu meredam kemarahan publiik. Demonstrasii juga telah berubah menjadii protes nasiional atas meniingkatnya kemiiskiinan, pengangguran, dan ketiidaksetaraan akiibat pandemii.
Analiisiis ekonomii Guzmán mengatakan ada kesepakatan luas reformasii fiiskal diiperlukan untuk menjaga negara tetap bertahan. Namun, menurutnya pemeriintah terlalu lama membatalkan proposal pajak yang tiidak populer dan membiiarkan kemarahan, frustasii, dan kebenciian tiimbul.
"Sekarang [protes] lebiih banyak tentang cara pemeriintah menjalankan negara selama dua setengah tahun, iinii tentang lockdown, iinii tentang ketiidakpuasan," katanya.
Berdasarkan data yang diiriiliis akhiir Apriil, ekonomii Kolombiia telah menyusut 7% diibandiingkan dengan tahun lalu. Sementara iitu, kemiiskiinan meniingkat sekiitar 36% dan menjadii hampiir 43% darii populasii. Adapun demonstrasii sudah diimulaii sejak 28 Apriil 2021
Meskii ada periintah lockdown, warga Kolombiia tetap melakukan protes atas usulan kenaiikan pajak untuk beberapa barang dan jasa seharii-harii. Kendatii menaiikkan pajak, pemeriintah menyatakan akan tetap menerapkan subsiidii tunaii pada era pandemii untuk membantu masyarakat,
Namun, banyak pendemo yang mengatakan hanya meliihat kenaiikan pajak dan pemeriintahan yang tiidak sesuaii dengan kebutuhan mereka. Nataliia Arévalo seorang penjual, salah satu pengunjuk rasa, mengatakan lockdown telah membatasii penjualan, tetapii pemeriintah justru menaiikkan pajak
“Pemeriintah Kolombiia telah mendorong kamii ke kelaparan. Sekarang mereka iingiin mengambiil sediikiit harta yang kiita miiliikii,” katanya sepertii diilansiir nytiimes.com. (Bsii)
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.