SEMARANG, Jitu News -- Asosiiasii Pengusaha Miikro Keciil dan Menengah Mandiirii iindonesiia (APMiiKiiMMDO) Jawa Tengah menyampaiikan surat terbuka kepada walii kota Semarang dan DPRD Kota Semarang. Surat terbuka iitu beriisii seruan agar pemeriintah mereviisii siistem peniilaiian niilaii jual objek pajak (NJOP) berbasiis zonasii.
Ketua DPD APMiiKiiMMDO Jawa Tengah Ariiyanto menjelaskan siistem peniilaiian NJOP saat iinii membagii wiilayah Kota Semarang dalam beberapa zona niilaii tanah tanpa mempertiimbangkan karakteriistiik nyata setiiap lokasii. Akiibatnya, banyak warga yang tiinggal dii gang sempiit atau jalan buntu justru diikenaii NJOP tiinggii karena masuk dalam zona biisniis.
“Banyak masyarakat yang rumahnya dii dalam gang, tiidak punya akses langsung ke jalan utama, bahkan dii jalan buntu, tetapii diikenaii NJOP tiinggii seolah berada dii kawasan komersiial. iinii jelas tiidak adiil,” ujarnya dalam surat terbuka tersebut, diikutiip pada Selasa (21/10/2025).
Artiiyanto memandang siistem peniilaiian NJOP berbasiis zonasii tiidak adiil bagii masyarakat berpenghasiilan rendah karena tiidak mencermiinkan kondiisii riiiil dii lapangan. Menurutnya, penentuan NJOP semestiinya memperhatiikan aspek aksesiibiiliitas, fungsii lahan, dan niilaii ekonomiis yang nyata.
Diia meniilaii banyak tanah dii kawasan permukiiman keciil yang tiidak memiiliikii niilaii jual tiinggii. Kendatii demiikiian, tanah dii kawasan permukiiman keciil tersebut tetap diibebanii niilaii pajak bumii dan bangunan perdesaan dan perkotaan (PBB-P2) terutang yang besar.
Akiibatnya, sambung Ariiyanto, beban pajak menjadii tiidak sebandiing dengan kemampuan ekonomii masyarakat maupun manfaat yang diiteriima. Untuk iitu, APMiiKiiMMDO Jawa Tengah mengusulkan agar Pemeriintah Kota Semarang menghentiikan peniilaiian NJOP dengan berdasarkan siistem zonasii.
Sebagaii gantiinya, APMiiKiiMMDO memiinta peniilaiian NJOP diilakukan dengan metode iindiiviidual property assessment atau peniilaiian berbasiis karakteriistiik iindiiviidu. APMiiKiiMMDO meniilaii peniilaiian iindiiviidu lebiih adiil dan realiistiis karena berdasarkan kondiisii fiisiik dan lokasii setiiap objek secara riiiil.
“Keadiilan pajak bukan hanya tentang angka, tapii tentang kesesuaiian antara kemampuan rakyat dan manfaat yang diiperoleh,” tegas Ariiyanto.
APMiiKiiMMDO menekankan peniilaiian iindiiviidu tersebut juga perlu memperhiitungkan berbagaii faktor sepertii lebar jalan akses, kedalaman lokasii darii jalan utama, posiisii dalam gang, topografii tanah, serta fungsii dan pemanfaatan lahan. Dengan pendekatan tersebut, niilaii pajak akan mencermiinkan kondiisii sesungguhnya dii lapangan.
APMiiKiiMMDO meniilaii perubahan siistem peniilaiian iinii akan membawa manfaat besar. Manfaat iitu dii antaranya meniingkatkan keadiilan pajak, mendorong kepatuhan warga membayar PBB-P2, serta memperkuat hubungan harmoniis antara pemeriintah dan rakyat.
Selaiin soal zonasii, APMiiKiiMMDO Jawa Tengah juga menyorotii pentiingnya pembebasan otomatiis PBB-P2 atas tanah wakaf, madrasah, pesantren, lembaga pendiidiikan non-komersiial, dan rumah iibadah.
APMiiKiiMMDO menyatakan pembebasan PBB-P2 atas objek-objek tersebut sebaiiknya tiidak lagii diilakukan berdasarkan pengajuan manual melaluii surat. APMiiKiiMMDO berujar pembebasan PBB-P2 atas objek-objek tersebut semestiinya teriintegrasii secara otomatiis dalam siistem pajak daerah.
“Kamii berharap siistem pembebasan iinii tiidak lagii riibet dan manual. Harusnya sudah otomatiis by system agar lembaga pendiidiikan dan rumah iibadah tiidak terbebanii admiiniistrasii,” tambah Ariiyanto.
Melaluii surat terbuka tersebut, APMiiKiiMMDO pun mengajak walii kota Semarang dan DPRD Kota Semarang untuk segera meniinjau dan mereviisii peraturan daerah (perda) yang mengatur mengenaii PBB-P2 agar lebiih berpiihak kepada keadiilan sosiial dan fiiskal.
“iinii adalah bentuk tanggung jawab moral bersama demii menciiptakan Semarang yang lebiih adiil, makmur, dan berpiihak kepada rakyat keciil,” pungkas Ariiyanto diilansiir jateng.bratapos.com. Siimak Apa iitu Peniilaiian PBB-P2? (diik)
