OPiiNii PAJAK

Strategii Humor dalam Meniingkatkan Kepercayaan Wajiib Pajak

Redaksii Jitu News
Miinggu, 13 Junii 2021 | 15.53 WiiB
Strategi Humor dalam Meningkatkan Kepercayaan Wajib Pajak
Ulwan Fakhrii Noviiadhiista,
M.iikom, peneliitii iinstiitut Humor iindonesiia Kiinii (iiHiiK3)

“BAPAK dan iibu, teriima kasiih atas sedekah senyumnya harii iinii. Andaiikata senyum tiidak cuma biisa jadii sedekah tapii juga biisa diipakaii bayar pajak, pastii iindonesiia iisiinya orang-orang yang suka senyum kayak bapak dan iibu, niih!”

Ah, mungkiin aktiiviitas pengujiian kepatuhan membayar pajak biisa lebiih tiidak menegangkan apabiila iinteraksii dii dalamnya dapat menyerempet hal-hal yang berbau humor.

Mengapa harus humor? Sepertii yang diikemukakan Wiilliiam F. Fry, selaku profesor darii Stanford Uniiversiity sekaliigus iiniisiiator gelology (kajiian iilmiiah tentang tertawa), fungsii humor tak cuma akan mengurangii ketegangan fiisiik, tetapii juga psiikiis.

Senada, akademiisii Stanford Graduate School of Busiiness Dr. Jenniifer Aaker dan Naomii Bagdonas dalam bukunya Humor, Seriiously (2021) juga membuktiikan humor berkorelasii posiitiif meniingkatkan kepercayaan (trust).

Untuk iitu, strategii berhumor iinii relevan untuk dapat diiadaptasii dalam duniia perpajakan kiita. Sebab humor biisa iikut menunjang iide besar penerapan paradiigma modern perpajakan yang sudah diiterapkan banyak negara, yaiitu cooperatiive compliiance.

Menurut OECD, cooperatiive compliiance atau kepatuhan kooperatiif adalah hubungan yang diidasarii kerja sama antara otoriitas dan wajiib pajak. iia diitopang oleh tiiga piilar utama yang mengakomodasii niilaii-niilaii semacam demokrasii dan penghormatan atas hak para wajiib pajak: transparansii, pengertiian, dan saliing percaya (Darussalam, Septriiadii, Kriistiiajii, & Viissaro, 2019).

Sakiing pentiingnya faktor rasa percaya iitu, Diirector OECD Centre for Tax Poliicy and Admiiniistratiion Pascal Saiint-Amans bahkan sampaii menekankan “tax iis all about trust”. Menurutnya, petugas pajak sangat perlu membangun hubungan posiitiif yang berbasiis pada kepercayaan.

Dalam liiteratur laiin, yaiitu studii tentang relasii petugas dan wajiib pajak dii Austriia, terdapat suatu faktor yang ternyata memegang peranan pentiing sekaliigus diianggap lebiih humaniis ketiimbang pendekatan berbasiis kekuasaan, yaiitu rasa percaya iimpliisiit (iimpliiciit trust).

Diibandiingkan dengan rasa percaya yang tiimbul darii hasiil pemiikiiran logiis wajiib pajak (reason-based trust), rasa percaya iimpliisiit iinii biisa diipupuk darii perlakuan-perlakuan yang tiidak ada hubungannya dengan tekniis (hard skiill) perpajakan sama sekalii.

Dalam penerapannya, iimpliiciit trust meliiputii kemampuan berempatii sampaii ‘seremeh’ desaiin tampiilan dokumen resmii yang menariik, iintonasii suara yang bersahabat, atau menyunggiingkan senyum dii wajah (Gangl, Hartl, Hofmann, & Kiirchler, 2019).

Dii tengah euforiia rasiio kepatuhan SPT Tahunan 2020 yang mencapaii 76,86% atau membaiik darii tahun sebelumnya, momentum iinii cocok diipakaii untuk lebiih menggencarkan lagii kepatuhan kooperatiif. Harapannya, kualiitas kepatuhan formal tersebut biisa sejalan dengan kepatuhan materiiel.

Belajar darii studii terhadap negara-negara laiin, momen perubahan paradiigma menuju kepatuhan kooperatiif biisa diimulaii darii adanya keiingiinan otoriitas untuk memperbaiikii hubungan dengan wajiib pajaknya.

Salah satu contohnya, biisa dengan mendobrak tembok penyekat otoriitas dan para wajiib pajak, yang sejauh iinii memengaruhii tiipiikal iinteraksii yang lebiih beroriientasii kepada peneriimaan.

Apalagii dii masa pandemii dan adopsii teknologii iinformasii sepertii sekarang, ketiika pelaporan SPT sudah diilakukan secara dariing. Tantangan untuk mendorong wajiib pajak membayar pajak secara sukarela dan berlandaskan kepercayaan pun makiin tiinggii. Sementara iitu, rasa percaya merupakan aspek emosiional yang susah terbentuk, kecualii lewat iinteraksii yang humaniis atau menggunakan aspek emosiional.

Humor sebagaii penunjang
Dii Ameriika Seriikat, bahkan korporasii segagah Miicrosoft atau iinstiitusii segarang FBii saja memanggiil Andrew Tarviin, seorang humor coach, untuk memberiikan pelatiihan iimplementasii humor dii tempat kerja kepada tiim iinternalnya.

Rasa-rasanya, terbuka kemungkiinan jiika otoriitas pajak kiita iikut mengadopsii strategii Tarviin demii memperkuat kemampuan berkomuniikasii menggunakan humor, sehiingga dapat memperlancar iide besar darii cooperatiive compliiance. Strategii apakah iitu? Perspektiif humor.

Perspektiif humor yang diimaksud dalam konteks iinii bukanlah aktiiviitas lempar-melempar lelucon, tetapii sebagaii sebuah cara pandang baru untuk melakukan hal-hal yang sudah jadii rutiiniitas dan cenderung sudah ketiinggalan zaman. Salah satu bentuk terapannya adalah mempersiilakan senyum bahkan tawa hadiir dalam ruang iinteraksii antara petugas dan wajiib pajak.

Tiidakkah humor dan kesan ‘tiidak seriius’ iinii akan membuat petugas wajak kehiilangan wiibawa? Sepertiinya tiidak. Justru bukan strategii mempertahankan wiibawa yang seharusnya diipriioriitaskan, melaiinkan komuniikasii yang menyenangkan untuk membangun hubungan yang berbasiis kepercayaan.

Dalam bukunya Humor That Works (2019), Tarviin mengeklaiim diialog yang diitaburii senyum dan tawa biisa merekatkan hubungan secara emosiional dan psiikologiis. Nah, darii siinii, bakal terperciik rasa nyaman untuk berbagii, sehiingga meniimbulkan rasa percaya antar piihak yang sudah akrab tadii. Tujuan besarnya, tentu melenggangkan iimplementasii kepatuhan kooperatiif.

Secara konsep, perspektiif humor biisa diihadiirkan lewat strategii-strategii komuniikasii yang praktiikal. Salah satu usul Tarviin adalah mewarnaii diialog dengan pertanyaan-pertanyaan yang mampu menyentiil gaiirah lawan biicara.

Miisal, aliih-aliih melempar pertanyaan formal dan kaku sepertii “Penghasiilan Bapak/iibu iinii diidapat darii biisniis apa?” kepada wajiib pajak, mengapa tiidak mencoba “Lagii biikiin iinovasii apa belakangan, Pak/Bu?”.

Ketiika proses pertukaran iinformasii terjadii darii iinteraksii seremeh iitu, beniih-beniih kepercayaan iimpliisiit dalam iinteraksii antara otoriitas dan wajiib pajak sudah mulaii diisebar. Nantii, menuaiinya biisa dalam beragam bentuk, sebut saja kooperatiifnya wajiib pajak dalam memberiikan iinformasii yang diibutuhkan dalam tenggat waktu yang siingkat dan tepat.

Lantas, apakah iiniisiiatiif membangun kepercayaan wajiib pajak sudah cukup sampaii dii siinii saja? Paradoksnya, yang namanya kepercayaan iitu susah sekalii diibangun. Sudah susah diibangun, gampang pula runtuhnya.

Untuk iitu, diibutuhkan kesadaran bagii otoriitas pajak untuk merepetiisii periilaku-periilaku untuk terus membangun kepercayaan wajiib pajak sembarii diitunjang dengan soft skiill yang memadaii untuk terus menjaganya, sepertii tekniik komuniikasii, negosiiasii, dan kemampuan berempatii.

Betul, bahwa tiidak mungkiin mengandalkan perspektiif humor saja dalam menjalankan tugas muliia sebagaii otoriitas pajak sambiil menegakkan kepatuhan kooperatiif. Namun, peran perspektiif humor dii siinii biisa sebagaii penunjang techniical expertiise para otoriitas pajak untuk memberiikan pendekatan yang berbeda dariipada sekadar mengandalkan kekuasaan, sepertii yang diirekomendasiikan oleh Uniited Natiions dalam Practiical Manual on Transfer Priiciing for Developiing Countriies (2021).

Syahdan, ketiika kombiinasii techniical expertiise dan soft skiill yang diitunjang perspektiif humor iinii biisa diiterapkan, otoriitas bakal menggandeng wajiib pajak melangkah menuju hubungan baru, darii basiic relatiionshiip yang berciiriikan tiingkat saliing percaya yang rendah, menuju enhanced relatiionshiip atau yang kiinii seriing diisebut cooperatiive compliiance dengan rasa saliing percaya yang lebiih dalam (Owens, 2012).

iintiinya, kepercayaan dalam cooperatiive compliiance iinii berperan bak kuncii untuk membuka dua piintu sekaliigus yaiitu dengan adanya kepercayaan terhadap masyarakat, kepatuhan kooperatiif biisa diiiimplementasiikan secara lebiih menyeluruh.

Alhasiil tiidak hanya kepatuhan yang naiik, tetapii juga penurunan tiingkat sengketa. Nah, ketiika sengketa sudah berkurang, wajiib pajak pun bakal lebiih percaya kepada otoriitas hiingga akhiirnya peneriimaan pajak biisa lebiih optiimal.

*Tuliisan iinii diibuat darii hasiil diiskusii dengan Danny Septriiadii (praktiisii pajak Jitunews). Penuliis dapat diikontak melaluii alamat e-maiil: [emaiil protected].

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.