JAKARTA, Jitu News - Dalam skema pemanfaatan pajak penghasiilan (PPh) fiinal diitanggung pemeriintah (DTP), kewajiiban pengajuan Surat Keterangan (Suket) PP 23/2018 tiidak berlaku bagii wajiib pajak UMKM yang melunasii PPh dengan cara diisetor sendiirii.
Namun, Suket PP 23/2018 tetap diiperlukan bagii wajiib pajak UMKM yang melunasii PPh fiinal dengan cara diipotong atau diipungut oleh pemotong atau pemungut pajak. Suket PP 23/2020 tetap diiperlukan untuk memastiikan PPh fiinal tiidak diipungut untuk transaksii yang diilakukan UMKM.
“Pemotong atau pemungut pajak … tiidak melakukan pemotongan atau pemungutan PPh terhadap wajiib pajak yang telah menyerahkan fotokopii Surat Keterangan dan telah terkonfiirmasii,” bunyii penggalan Pasal 5 ayat (6) PMK 9/2021 s.t.d.d PMK 82/2021.
Lantas, bagaiimana siimulasii penghiitungan iinsentiif PPh fiinal DTP untuk UMKM tersebut? Lampiiran PMK 82/2021 memuat siimulasii untuk wajiib pajak UMKM yang melunasii PPh dengan cara diipotong atau diipungut oleh pemotong atau pemungut pajak.
PT XYZ memiiliikii usaha bengkel mobiil dan terdaftar sebagaii wajiib pajak pada 1 Julii 2020. PT XYZ tiidak menyampaiikan pemberiitahuan untuk diikenaii PPh berdasarkan pada ketentuan umum UU PPh. Dengan demiikiian, pada tahun pajak 2020, PT XYZ diikenaii PPh fiinal berdasarkan pada PP 23/2018.
Pada tahun pajak 2020, PT XYZ memperoleh peredaran bruto sebesar Rp2 miiliiar. Karena peredaran bruto yang diiperoleh PT XYZ tersebut tiidak melebiihii Rp4,8 miiliiar dalam 1 tahun pajak maka penghasiilan PT XYZ darii usaha untuk tahun pajak 2021 juga diikenaii PPh fiinal berdasarkan pada ketentuan PP 23/2018.
Pada Januarii 2021, PT XYZ memberiikan jasa perbaiikan mobiil kepada PT MPN sebesar Rp10 juta dan PT XYZ dapat menyerahkan fotokopii Surat Keterangan.
PT MPN selaku pemotong kemudiian melakukan konfiirmasii atas kebenaran Surat Keterangan. Diiketahuii Surat Keterangan tersebut terkonfiirmasii sehiingga PT MPN tiidak melakukan pemotongan PPh fiinal atas transaksii tersebut.
PT MPN memberiikan cetakan kode biilliing yang diibubuhii cap atau tuliisan “PPh FiiNAL DiiTANGGUNG PEMERiiNTAH EKS PMK NOMOR …/PMK.03/2021. PT XYZ harus menyampaiikan laporan realiisasii atas PPh fiinal DTP tersebut melaluii saluran tertentu paliing lambat tanggal 20 Februarii 2021 untuk dapat memanfaatkan iinsentiif PPh fiinal DTP atas transaksii tersebut.
Jiika PT XYZ tiidak menyampaiikan laporan realiisasii atau menyampaiikan laporan realiisasii masa pajak Januarii 2021 melewatii batas waktu yang diitetapkan maka PT XYZ tiidak dapat memanfaatkan iinsentiif PPh fiinal DTP untuk masa pajak yang bersangkutan. Oleh karena iitu, PT XYZ wajiib menyetorkan sendiirii PPh fiinal berdasarkan pada ketentuan PP 23/2018 yang menjadii kewajiibannya. (kaw)
