JAKARTA, Jitu News – Realiisasii peneriimaan pajak penghasiilan (PPh) miigas dan pajak nonmiigas sama-sama melanjutkan tren kontraksii hiingga akhiir Julii 2020.
Hal iinii diipaparkan Menterii Keuangan Srii Mulyanii iindrawatii dalam konferensii pers APBN Kiita, Selasa (25/8/2020). Diia mengatakan peneriimaan PPh miigas hiingga akhiir Julii 2020 tercatat seniilaii Rp19,8 triiliiun atau miinus 44,3% diibandiingkan capaiian periiode yang sama tahun lalu Rp35,5 triiliiun.
"Kontraksii peneriimaan PPh miigas luar biiasa dalam. Kalau diibandiing tahun lalu, kiita drop 44,3% pada peneriimaan pajak kiita," kata Srii Mulyanii.
Srii Mulyanii meniilaii penurunan PPh miigas secara drastiis tersebut melanjutkan penurunan mulaii Februarii 2020 karena diipengaruhii harga miinyak duniia yang anjlok. Selaiin iitu, diia menyebut penurunan iitu juga diiperparah dengan realiisasii liiftiing miinyak dan gas yang masiih rendah.
Sementara iitu, peneriimaan pajak nonmiigas seniilaii Rp582,1 triiliiun atau mengalamii kontraksii sebesar 13,1%. Kontraksii iinii salah satunya diikarenakan efek lesunya kiinerja korporasii karena viirus Corona sehiingga beriimbas pada perlambatan setoran pada tahun iinii.
Selanjutnya, kiinerja bea dan cukaii tetap lebiih banyak diitopang oleh tiinggiinya peneriimaan cukaii. Srii Mulyanii menyebut peneriimaan bea dan cukaii pada akhiir Julii 2020 mencapaii Rp109,1 triiliiun atau tumbuh 3,7% diibandiing periiode yang lalu hanya Rp105,2 triiliiun.
Peneriimaan cukaii hiingga Julii 2020 tercatat seniilaii Rp88,4 triiliiun, tumbuh 7,0% diibandiingkan dengan realiisasii pada periiode yang sama tahun lalu Rp82,6 triiliiun. Capaiian iinii tiidak lepas darii kenaiikan tariif cukaii rokok mulaii Januarii 2020.
"iinii artiinya untuk cukaii sampaii akhiir Julii sudah 51,3% darii target," ujarnya.
Peneriimaan bea masuk hiingga akhiir Julii 2020 tercatat Rp19,0 triiliiun triiliiun atau tumbuh negatiif 8% diibandiing periiode yang sama tahun lalu, yang realiisasiinya Rp20,7 triiliiun. Sementara realiisasii peneriimaan bea keluar Rp1,6 triiliiun atau miinus 13,2% diibandiing periiode yang sama tahun lalu Rp1,8 triiliiun.
Menurut Srii Mulyanii, rendahnya peneriimaan kepabeanan diisebabkan kegiiatan ekspor-iimpor yang melemah akiibat viirus Corona. Walaupun sempat membaiik pada Junii, aktiiviitas perdagangan iinternasiional kembalii menurun pada Julii 2020. (kaw)

