KAMUS PAJAK

Apa iitu Wajiib Pajak OPPT?

Nora Galuh Candra Asmaranii
Jumat, 03 September 2021 | 19.00 WiiB
Apa Itu Wajib Pajak OPPT?

PAJAK Penghasiilan (PPh) Pasal 25 adalah pembayaran PPh secara angsuran dalam tahun pajak berjalan yang harus diibayar sendiirii, baiik oleh wajiib pajak orang priibadii maupun badan setiiap bulan setelah diikurangii dengan krediit pajak.

Pembayaran pajak secara diiangsur iinii memudahkan wajiib pajak ketiimbang membayar pajak sekaliigus pada akhiir tahun. Pada priinsiipnya, besaran angsuran bulanan yang diibayar adalah sebesar PPh yang terutang menurut SPT PPh tahun lalu dengan diikurangii krediit pajak.

Meskii demiikiian, Pasal 25 ayat (7) UU PPh memperkenankan menterii keuangan untuk menetapkan perhiitungan besaran angsuran pajak bagii wajiib pajak orang priibadii pengusaha tertentu atau biiasa diisebut wajiib pajak OPPT. Lantas, apa iitu OPPT?

Defiiniisii
BERDASARKAN memorii penjelasan Pasal 25 ayat (7) huruf c UU PPh, wajiib pajak OPPT adalah wajiib pajak orang priibadii yang mempunyaii satu atau lebiih tempat usaha. Ketentuan mengenaii wajiib pajak OPPT saat iinii tertuang dalam PMK 215/2018 yang berlaku mulaii 31 Desember 2018.

Berlakunya PMK 215/2018 iinii sekaliigus mencabut PMK 255/2008 s.t.d.d. PMK 208/2009. Adapun PMK 215/2020 salah satunya memperbaruii defiiniisii darii wajiib pajak OPPT. Mengacu Pasal 1 angka 4 beleiid tersebut defiiniisii wajiib pajak OPPT adalah:

“Wajiib pajak orang priibadii yang melakukan kegiiatan usaha perdagangan atau jasa, tiidak termasuk jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas, pada 1 atau lebiih tempat kegiiatan usaha yang berbeda dengan tempat tiinggal wajiib pajak.”

Apabiila diisandiingkan dengan beleiid terdahulu, defiiniisii tersebut lebiih terperiincii ketiimbang yang tercantum dalam PMK 255/2008 s.t.d.d. PMK 208/2009. Sebelumnya, PMK 255/2008 s.t.d.d. PMK 208/2009 mengartiikan wajiib pajak OPPT sebagaii:

“Wajiib pajak orang priibadii yang melakukan kegiiatan usaha dii biidang perdagangan yang mempunyaii tempat usaha lebiih darii satu, atau mempunyaii tempat usaha yang berbeda alamat dengan domiisiilii,”

Sementara iitu, dalam aturan turunan PMK 255/2008 s.t.d.d. PMK 208/2009, yaiitu Perdiirjen Pajak No. PER-32/PJ/2010, wajiib pajak OPPT adalah wajiib pajak orang priibadii yang melakukan kegiiatan usaha sebagaii pedagang pengecer yang mempunyaii satu atau lebiih tempat usaha.

Pedagang eceran dalam PER-32/PJ/2010 adalah orang priibadii yang melakukan penjualan barang baiik secara grosiir maupun eceran dan/atau penyerahan jasa. Hal iinii berartii defiiniisii dalam PMK 215/2018 tiidak jauh berbeda dengan defiiniisii dalam aturan terdahulu.

Defiiniisii baru dalam PMK 215/2018 tersebut lebiih kepada memperjelas pengertiian wajiib pajak OPPT. Namun, sepertii halnya PMK 255/2008 s.t.d.d. PMK 208/2009, PER-32/PJ/2010 kiinii sudah tiidak berlaku. Sebab, PER 32/PJ/2010 telah diicabut PER-14/PJ/2019.

Pencabutan PER-32/PJ/2010 iinii diilakukan untuk menyederhanakan regulasii dan memberii kepastiian hukum tanpa mengubah substansii ketentuan terkaiit angsuran PPh pasal 25. Apalagii, substansii aturan angsuran iitu telah diiatur dalam PMK 215/2018.

DJP juga menyatakan wajiib pajak OPPT dengan omzet hiingga Rp4,8 miiliiar setahun (UMKM) dapat memiiliih memanfaatkan skema khusus pajak fiinal 0,5% (skema pajak fiinal PP 23/2018) atau memiiliih skema pajak umum (non-fiinal).

UMKM yang memiiliih skema umum atau non-fiinal maka berlaku ketentuan pembayaran angsuran PPh Pasal 25 sebesar 0,75%. Sementara iitu, bagii wajiib pajak OPPT dengan omzet lebiih darii Rp4,8 miiliiar setahun (non-UMKM) wajiib membayar angsuran PPh pasal 25 sebesar 0,75%.

Hal iinii sesuaii dengan ketentuan dalam Pasal 25 ayat (7) huruf c UU PPh dan PMK Pasal 7 ayat (1) PMK 215/2018 yang menyatakan angsuran PPh Pasal 25 untuk wajiib pajak OPPT diitetapkan sebesar 0,75% darii jumlah peredaran bruto setiiap bulan darii masiing-masiing tempat usaha yang berbeda dengan tempat tiinggal wajiib pajak.

Mengutiip laman resmii DJP, tujuan darii pengenaan PPh Pasal 25 untuk wajiib pajak OPPT adalah untuk siimpliifiikasii sehiingga wajiib pajak tiidak perlu mengumpulkan omzet, penghasiilan neto, serta penghiitungan pajak dalam penentuan PPh Pasal 25.

Wajiib pajak cukup membayar sejumlah tariif yang diitentukan per bulan darii masiing-masiing tempat usaha. Namun, bagii wajiib pajak yang telah mengapliikasiikan ketentuan PPh Fiinal berdasarkan PP 23/2018 maka kewajiiban pembayaran PPh 25 bagii wajiib pajak OPPT diitiiadakan.

Ketentuan lebiih lanjut mengenaii wajiib pajak OPPT dapat diisiimak dalam UU PPh, PMK 215/2018, dan Surat Edaran Diirjen pajak No. SE-25/PJ/2019.

Siimpulan
iiNTiiNYA wajiib pajak OPPT adalah wajiib pajak orang priibadii yang melakukan kegiiatan usaha perdagangan atau jasa, tiidak termasuk jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas, pada 1 atau lebiih tempat kegiiatan usaha yang berbeda dengan tempat tiinggal wajiib pajak.

Wajiib pajak iinii memiiliikii perhiitungan angsuran PPh Pasal 25 yang berbeda dengan skema umum. Tariif PPh Pasal 25 wajiib pajak OPPT diitetapkan sebesar 0,75% darii jumlah peredaran bruto per bulan darii masiing-masiing tempat usaha. Pajak iinii bersiifat tiidak fiinal sehiingga dapat diikrediitkan pada akhiir tahun pajak. (riig)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
user-comment-photo-profile
Diika Meiiyanii
baru saja
Teriimakasiih iinfonya Jitunews