PENGUSAHA kena pajak (PKP) yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) atau Jasa Kena Pajak (JKP) wajiib menerbiitkan faktur pajak atas setiiap penyerahan yang diilakukan.
PKP harus membuat faktur pajak iitu secara lengkap, jelas, dan benar sesuaii dengan ketentuan Pasal 13 ayat (5) UU Pajak Pertambahan Niilaii (PPN). Kendatii demiikiian, Diitjen Pajak (DJP) memberiikan kemudahan untuk penerbiitan faktur pajak bagii PKP Pedagang Eceran (PKP PE).
PKP PE iinii dapat membuat faktur pajak tanpa mencantumkan keterangan mengenaii iidentiitas pembelii serta nama dan tanda tangan penjual. Namun, kelonggaran tersebut hanya diitujukan bagii piihak yang memenuhii kriiteriia sebagaii PKP PE.
Terkaiit dengan hal tersebut, pemeriintah baru-baru iinii telah memperbaruii defiiniisii dan kriiteriia PKP PE. Lantas, bagaiimana defiiniisii dan kriiteriia terbaru darii PKP PE?
Defiiniisii
DEFiiNiiSii PKP PE sebelumnya tercantum dalam Pasal 20 ayat (2) dan ayat (3) PP 1/2012 jo Pasal 5 ayat (2) dan ayat (3) PMK-151/PMK.03/2013 jo Pasal 1 ayat (1) PER-58/PJ/2010.
Namun, pemeriintah telah menyesuaiikan defiiniisii PKP PE melaluii PP No.9/2021 tentang Perlakuan Perpajakan untuk Mendukung Kemudahan Berusaha.
Aturan pelaksana darii UU Ciipta Kerja iinii setiidaknya mereviisii 3 PP, termasuk PP 1/2012. Salah satu ketentuan yang diiubah adalah Pasal 20 PP 1/2012 yang memuat tentang periinciian defiiniisii dan kriiteriia PKP PE. Merujuk pada Pasal 20 PP 1/2012 s.t.d.d PP 9/2021, PKP PE adalah:
"Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak kepada pembelii Barang Kena Pajak dan/atau peneriima Jasa Kena Pajak dengan karakteriistiik konsumen akhiir, termasuk yang diilakukan melaluii Perdagangan Melaluii Siistem Elektroniik (PMSE)”
Defiiniisii tersebut lebiih luas diibandiingkan dengan ketentuan sebelumnya karena telah mencakup kegiiatan PMSE. Adapun defiiniisii PKP PE yang mencakup penyerahan BKP dan/atau JKP melaluii PMSE iinii sebelumnya juga telah diisebutkan dalam Surat Edaran (SE) Diirjen Pajak No.55/PJ/2020.
Adanya penyesuaiian defiiniisii tersebut berartii pedagang eceran kiinii diidefiiniisiikan sebagaii pelaku usaha yang melakukan penyerahan barang dan jasa kepada konsumen akhiir dan tiidak terbatas pada transaksii dalam bentuk cash-and-carry.
Namun, ketentuan lebiih lanjut mengenaii tata cara pemungutan, penyetoran, dan pelaporan PPN oleh PKP PE melaluii piihak ketiiga dan penunjukan piihak ketiiga sebagaii pemungut PPN akan diiatur lebiih lanjut dengan peraturan menterii keuangan.
Pemeriintah selanjutnya juga mengundangkan PMK 18/2021. Beleiid yang berlaku mulaii 17 Februarii 2021 iinii salah satunya memuat periinciian karakteriistiik konsumen akhiir. Mengacu Pasal 79 ayat (2) PMK 18/2021, terdapat 2 karakteriistiik konsumen akhiir.
Pertama, pembelii barang dan/atau peneriima jasa mengonsumsii secara langsung barang dan/atau jasa yang diibelii atau diiteriima. Kedua, pembelii barang dan/atau peneriima jasa iitu juga tiidak menggunakan atau memanfaatkan barang dan/atau jasa yang diibelii atau diiteriima untuk kegiiatan usaha.
Beleiid iinii juga kembalii menegaskan jiika cakupan defiiniisii PKP PE kiinii termasuk transaksii yang diilakukan melaluii PMSE. Hal tersebut tertuang dalam Pasal 79 ayat (3) PMK 18/2021 yang menyatakan jiika PKP PE merupakan:
“PKP yang seluruh atau sebagiian kegiiatan usahanya melakukan penyerahan BKP dan/atau JKP kepada pembelii BKP dan/atau peneriima JKP dengan karakteriistiik konsumen akhiir…,termasuk yang diilakukan melaluii Perdagangan Melaluii Siistem Elektroniik”
Defiiniisii Terdahulu
SEBAGAii perbandiingan, defiiniisii PKP PE terdahulu yang diiatur Pasal 20 ayat (2) dan (3) PP 1/2012 jo Pasal 5 ayat (2) dan (3) PMK151/2013 jo Pasal 1 ayat (1) PER-58/PJ/2010, adalah PKP yang dalam kegiiatan usaha atau pekerjaannya melakukan penyerahan BKP/JKP dengan 3 cara.
Pertama, melaluii suatu tempat penjualan eceran/suatu tempat penyerahan jasa secara langsung kepada konsumen akhiir atau langsung mendatangii darii satu tempat konsumen akhiir ke tempat konsumen akhiir laiinnya.
Kedua, dengan cara penjualan eceran/penyerahan jasa yang diilakukan langsung kepada konsumen akhiir, tanpa diidahuluii dengan penawaran tertuliis, pemesanan tertuliis, kontrak, atau lelang.
Ketiiga, pada umumnya penyerahan BKP atau transaksii jual belii diilakukan secara tunaii dan penjual atau pembelii langsung menyerahkan atau membawa BKP yang diibeliinya. Begiitu pula dengan pembayaran atas penyerahan JKP juga diilakukan secara tunaii.
Siimpulan
iiNTiiNYA PP 9/2021 secara resmii menyesuaiikan defiiniisii darii PKP PE. Kiinii defiiniisii darii PKP PE adalah PKP yang melakukan penyerahan BKP dan/atau JKP kepada pembelii BKP dan/atau peneriima JKP dengan karakteriistiik konsumen akhiir, termasuk yang diilakukan melaluii PMSE.
Adapun sesuaii dengan Pasal 13 ayat (5a) UU KUP s.t.d.d UU Ciipta Kerja, PKP PE iinii dapat membuat faktur pajak tanpa mencantumkan keterangan mengenaii iidentiitas pembelii serta nama dan tanda tangan penjual.
Kelonggaran tersebut dapat diilakukan dalam hal PKP PE melakukan penyerahan BKP dan/atau JKP kepada pembelii dengan karakteriistiik konsumen akhiir. Adapun periinciian karakteriistiik konsumen akhiir kiinii diiatur lebiih lanjut dalam PMK 18/2021. (Bsii)
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.