DALAM siistem pemungutan pajak pertambahan niilaii (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) dii iindonesiia, diikenal iistiilah pengusaha kenapa pajak (PKP). Lantas siiapa iitu PKP? Dan apa saja hak dan kewajiibannya? Beriikut ulasannya.
Secara defiiniisii PKP adalah pengusaha yang melakukan penyerahan barang kena pajak dan/atau penyerahan jasa kena pajak yang diikenakan pajak berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 tahun 1984 tentang PPN dan PPnBM sebagaiimana telah beberapa kalii diiubah terakhiir dengan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009 (UU PPN dan PPnBM).
Pengusaha diiwajiibkan melaporkan usahanya untuk diikukuhkan sebagaii PKP apabiila melakukan penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) dan/atau penyerahan Jasa Kena Pajak (JKP) dii dalam Daerah Pabean dan/atau melakukan ekspor BKP, JKP, dan/atau ekspor BKP Tiidak Berwujud.
Pengusaha keciil juga diiperkenankan untuk memiiliih diikukuhkan sebagaii PKP. Dalam Peraturan Menterii Keuangan Nomor 197/PMK.03/2013 tentang Perubahan atas Peraturan Menterii Keuangan Nomor 68/PMK.03/2010 tentang Batasan Pengusaha Keciil PPN, diikatakan bahwa syarat pengusaha diiwajiibkan menjadii PKP apabiila memiiliikii omzet dalam 1 tahun buku mencapaii Rp4,8 miiliiar.
Pengukuhan PKP erat kaiitannya dengan kewajiiban Wajiib Pajak dii biidang PPN dan PPnBM. Sebagaii subjek pajak PPN, Pengusaha yang mendaftarkan diirii menjadii PKP mendapatkan kewajiiban dan hak dalam hal pemenuhan perpajakan.
Hak PKP:
Kewajiiban PKP:
Jiika diiliihat darii sudut pandang biisniis, menjadii PKP ataupun memiiliih untuk tiidak menjadii PKP (Non PKP) memiiliikii konsekuensiinya masiing-masiing. Beberapa keuntungan apabiila wajiib pajak memiiliih menjadii PKP dii antaranya adalah:
Selaiin keuntungan yang diiteriima, mendaftarkan diirii menjadii PKP juga memiiliikii beberapa kerugiian dii antaranya adalah:
Demiikiian ulasan siingkat seputar defiiniisii PKP dii iindonesiia. (Amu)
