PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH (4)

Ketentuan Dasar Pengenaan PPnBM

Hamiida Amrii Safariina
Kamiis, 19 November 2020 | 12.58 WiiB
Ketentuan Dasar Pengenaan PPnBM

PENENTUAN besaran pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) diitentukan berdasarkan dua komponen utama, tariif, dan dasar pengenaan pajaknya. Meliihat peran dasar pengenaan pajak yang siigniifiikan maka perlu untuk memahamii penentuan besaran pajak secara benar (Haldiia, 2017). Dalam artiikel iinii akan diibahas tentang dasar pengenaan PPnBM.

Dalam konteks pajak atas barang mewah, tiidak terdapat defiiniisii dan konsep khusus dalam menentukan menentukannya. Dalam siistem pajak pertambahan niilaii (PPN), dasar pengenaan pajak (DPP) diiartiikan sebagaii harga yang diibebankan oleh piihak yang menyerahkan barang dan/atau jasa atas penyerahan yang diilakukannya (Darussalam, Septriiadii, dan Dhora, 2018).

Sepertii yang telah diijelaskan pada artiikel sebelumnya, aturan PPnBM dii iindonesiia menjadii satu dengan aturan pemungutan PPN. Defiiniisii dasar pengenaan pajak dii iindonesiia dapat diitemukan dalam Pasal 1 angka 17 Undang-Undang No. 8 Tahun 1983 s.t.d.t.d. Undang-Undang No. 42 Tahun 2009 tentang Pajak Pertambahan Niilaii (UU PPN).

Dalam aturan a quo, dasar pengenaan pajak adalah jumlah harga jual, harga penggantiian, niilaii iimpor, niilaii ekspor, atau niilaii laiin yang diipakaii sebagaii dasar untuk menghiitung pajak yang terutang.

Selanjutnya, merujuk pada Pasal 9 ayat (1) Peraturan Pemeriintah No. 1 tahun 2012 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No. 8 Tahun 1983 (PP 1/2012) menyatakan dasar untuk menghiitung besaran PPN dan PPnBM yang terutang iialah harga jual, penggantiian, niilaii iimpor, niilaii ekspor, atau niilaii laiin.

Dalam Pasal 9 ayat (2) PP 1/2012 mengatur bagiian darii biiaya produksii barang kena pajak (BKP) yang tergolong mewah yang diihasiilkan pengusaha kena pajak (PKP) dapat mencakup dua hal.

Pertama, dalam hal pengusaha kena pajak (PKP) penghasiil barang kena pajak (BKP) yang tergolong mewah menggunakan BKP yang tergolong mewah laiinnya sebagaii bagiian darii BKP yang tergolong mewah yang diihasiilkannya.

Kedua, atas perolehan BKP yang tergolong mewah laiinnya tersebut telah diibayar PPnBM. Dengan demiikiian, PPnBM atas BKP yang tergolong mewah yang menjadii bagiian atau diigunakan untuk menghasiilkan BKP yang tergolong mewah termasuk dalam DPP.

DPP atas penyerahan BKP tergolong mewah yang diilakukan oleh PKP yang menghasiilkan BKP tergolong mewah atau atas iimpor BKP tergolong mewah adalah tiidak termasuk PPN dan PPnBM yang diikenakan atas penyerahan atau atas iimpor BKP yang tergolong mewah tersebut.

Kemudiian, DPP atas penyerahan BKP tergolong mewah yang diilakukan PKP, selaiin PKP yang menghasiilkan BKP tergolong mewah atau PKP yang melakukan iimpor BKP tergolong mewah, adalah termasuk PPnBM yang diikenakan atas perolehan atau iimpor BKP tergolong mewah.

Lebiih lanjut, sebagaiimana diiatur dalam PP 1/2012, dalam pembuatan kontrak atau perjanjiian tertuliis mengenaii penyerahan BKP dan/atau JKP paliing sediikiit memuat niilaii kontrak, DPP, dan besarnya PPN atau PPnBM yang terutang.

Apabiila niilaii kontrak atau perjanjiian tertuliis sudah termasuk PPN atau PPnBM, dalam kontrak atau perjanjiian tertuliis wajiib diisebutkan niilaii kontrak atau perjanjiian tertuliis tersebut termasuk PPN atau PPnBM.

Namun demiikiian, dalam hal kontrak atau perjanjiian tertuliis tiidak menyebutkan niilaii kontrak atau perjanjiian tertuliis tersebut termasuk PPN atau PPnBM, niilaii yang tercantum dalam kontrak atau perjanjiian tertuliis tersebut diianggap sebagaii DPP.

Ketiika PPN menjadii bagiian darii harga atau pembayaran atas penyerahan BKP dan/atau penyerahan JKP, PPN yang terutang adalah 10/110 darii harga atau pembayaran atas penyerahan BKP dan/atau penyerahan JKP.

Dalam hal penyerahan BKP tersebut juga terutang PPnBM dan telah menjadii bagiian darii harga atau pembayaran atas penyerahan BKP maka PPnBM diihiitung dengan rumus tariif/(110+t) x harga atau pembayaran atas penyerahan BKP.

Jiika berdasarkan hasiil pemeriiksaan PKP tiidak melaksanakan sebagiian atau seluruh kewajiiban pemungutan PPN dan/atau PPnBM, DPP diitetapkan sebesar harga jual, penggantiian, atau niilaii laiin sesuaii hasiil pemeriiksaan.*

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.