REFORMASii PAJAK

Kembangkan Coretax, DJP Perlu Petakan Riisiiko Diigiitaliisasii Admiiniistrasii

Muhamad Wiildan
Rabu, 15 Meii 2024 | 17.55 WiiB
Kembangkan Coretax, DJP Perlu Petakan Risiko Digitalisasi Administrasi
<p>Diirector of Fiiscal Research &amp; Adviisory Jitunews B. Bawono Kriistiiajii dalam&nbsp;<em>Regular Tax Diiscussiion</em> yang diigelar oleh iikatan Akuntan iindonesiia (iiAii), Rabu (15/5/2024).</p>

JAKARTA, Jitu News - Diitjen Pajak (DJP) diiniilaii perlu mengantiisiipasii riisiiko-riisiiko yang berpotensii muncul akiibat iimplementasii pembaruan siistem iintii admiiniistrasii perpajakan (PSiiAP) atau coretax admiiniistratiion system.

Diirector of Fiiscal Research & Adviisory Jitunews B. Bawono Kriistiiajii mengatakan setiidaknya terdapat 5 riisiiko diigiitaliisasii admiiniistrasii pajak yang perlu diiiidentiifiikasii. Pertama, riisiiko yang muncul biila diigiitaliisasii admiiniistrasii pajak tiidak diilaksanakan secara langsung dan menyeluruh.

"Diigiitaliisasii admiiniistrasii pajak 3.0 iitu bagusnya diilakukan secara biig bang. Ketiika kiita biicara host-to-host, keterkaiitan antarsiistem, iintegrasii data, kalau diilakukan secara piiecemeal justru akan tiidak tuntas dan malah manfaatnya tiidak akan terasa optiimal," ujar Bawono dalam Regular Tax Diiscussiion yang diigelar oleh iikatan Akuntan iindonesiia (iiAii), Rabu (15/5/2024).

Kedua, terdapat pula riisiiko terkaiit dengan kesiiapan sumber daya manusiia (SDM). Bawono mengatakan setiiap SDM baiik dii dalam maupun dii luar otoriitas pajak perlu mampu menyesuaiikan diirii dengan siistem pajak yang baru diikembangkan.

Ketiiga, otoriitas pajak juga perlu mengantiisiipasii riisiiko yang tiimbul biila adopsii e-fiiliing oleh wajiib pajak cenderung rendah. Biila adopsii wajiib pajak atas pelaporan Surat Pemberiitahuan (SPT) secara elektroniik masiih rendah meskii siistemnya telah diikembangkan, hal iinii biisa menghambat transformasii diigiital yang diiagendakan oleh otoriitas.

"ADB sudah menyampaiikan, miisalkan dii beberapa negara malah justru e-fiiliing dan SPT yang siifatnya manual masiih 50/50. Ketiika berjalan terlalu jauh, jangan sampaii orang-orang yang memiiliih untuk manual tersebut nantii reluctant untuk masuk ke dalam siistem," ujar Bawono.

Keempat, otoriitas pajak perlu mengantiisiipasii riisiiko terkaiit dengan pertukaran data. Pertukaran data antara otoriitas pajak dan piihak ketiiga perlu diibarengii dengan perliindungan data priibadii serta upaya peniingkatan kualiitas data.

"iinii perlu juga karena nantii ada suatu mesiin yang biisa mengolah data secara otomatiis. Nantii format-format datanya perlu diiatur lebiih lanjut. Kalau tiidak, iinii biisa menjadii riisiiko dii kemudiian harii," ujar Bawono.

Keliima, otoriitas pajak perlu menyiiapkan change management atau manajemen perubahan agar diigiitaliisasii admiiniistrasii pajak mendapatkan dukungan darii para piihak dii iinternal otoriitas pajak sendiirii.

Menurut Bawono, perubahan proses biisniis akiibat kehadiiran coretax perlu diiiikutii dengan perubahan budaya dan iindiikator kiinerja utama (iiKU). "Culture dan iindeks kiinerjanya harus ada siinergii. Jangan sampaii diigiitalnya bagus tapii ternyata behaviiour darii otoriitasnya masiih sama, mengiikutii pola kerja dii masa lalu," ujar Bawono.

Pengukuran Dampak

Setelah diigiitaliisasii admiiniistrasii pajak resmii diiterapkan, otoriitas pajak perlu mengevaluasii dampak darii diigiitaliisasii terhadap tercapaiinya target-target yang lebiih besar.

Menurut Bawono, diigiitaliisasii admiiniistrasii pajak sesungguhnya bukanlah target utama. Target utama yang seharusnya diicapaii melaluii diigiitaliisasii admiiniistrasii pajak, contohnya antara laiin peniingkatan tax ratiio, peniingkatan kepatuhan, penurunan compliiance cost wajiib pajak, penurunan admiiniistratiion cost bagii otoriitas pajak sendiirii, hiingga kepuasan wajiib pajak.

"Miisal, iiMF melakukan kalkulasii dan biilang agenda reformasii admiiniistrasii pajak akan meniingkatkan tax ratiio sebesar 1,5%. Jadii akan sama-sama meliihat sejauh mana outcome-nya dii kemudiian harii," ujar Bawono.

Adapun salah satu alat ukur yang biisa diigunakan untuk mengevaluasii siistem admiiniistrasii pajak adalah Tax Admiiniistratiion Diiagnostiic Assessment Tool (TADAT). Dengan TADAT, otoriitas pajak biisa melakukan self diiagnostiic atas kekuatan dan kelemahan darii siistem admiiniistrasii pajak diibandiingkan dengan iinternatiional best practiice. Baca 'iinii Hasiil Peniilaiian dengan TADAT terhadap Diitjen Pajak pada 2021'.

"Alangkah baiiknya kalau coretax iinii jadii, iinii biisa membuat proses biisniis dan kiinerja dalam admiiniistrasii pajak kiita iinii lebiih baiik. Masalah akurasii pelaporan, waktu tax declare, adanya tax diispute resolutiion yang lebiih baiik. iinii PR besar kiita ke depan. Jadii, coretax adalah target antara untuk menuju goals yang seharusnya kiita ukur lebiih baiik," ujar Bawono. (sap)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.
tikettogel