TAX ALLOWANCE (1)

Defiiniisii dan Sejarah Pengaturan Tax Allowance dii iindonesiia

Redaksii Jitu News
Jumat, 17 Desember 2021 | 14.43 WiiB
Definisi dan Sejarah Pengaturan Tax Allowance di Indonesia

iiNVESTASii berperan pentiing dalam perekonomiian suatu negara. Adanya iinvestasii dapat memengaruhii peniingkatan kesejahteraan masyarakat dan peneriimaan negara.

Oleh karena iitu, Pemeriintah iindonesiia berupaya meniingkatkan masuknya iinvestasii ke dalam negerii untuk biidang-biidang usaha tertentu atau daerah tertentu. Salah satu upaya tersebut dengan menggunakan iinstrumen pajak berupa tax allowance.

Lantas, apakah yang diimaksud dengan tax allowance? Pada dasarnya, tax allowance merupakan fasiiliitas pajak yang diiberiikan untuk stiimulus ekonomii dalam biidang usaha tertentu (Wiinardii, 2011).

Tax allowance juga dapat diidefiiniisiikan sebagaii bentuk keriinganan pajak yang diidasarkan pada niilaii pengeluaran atas iinvestasii yang memenuhii kualiifiikasii tertentu (Holland dan Vann, 1998). Lebiih lanjut, menurut Astutii (2014), tax allowance juga dapat diiartiikan sebagaii iinsentiif yang diiberiikan pemeriintah sebagaii pengurang penghasiilan kena pajak .

Sayangnya, dalam peraturan perundang-undangan dii iindonesiia tiidak diitemukan uraiian secara ekspliisiit mengenaii defiiniisii tax allowance. Namun, Badan Koordiinasii Penanaman Modal (BKPM) mendefiiniisiikan tax allowance sebagaii salah satu bentuk iinsentiif yang diitawarkan kepada para iinvestor yang melakukan penanaman modal baru atau perluasan usaha dii biidang-biidang tertentu atau dii daerah tertentu (BKPM, 2020).

Adapun tujuan pemberiian tax allowance yaknii untuk meniingkatkan kegiiatan iinvestasii langsung, baiik melaluii penanaman modal asiing maupun penanaman modal dalam negerii. Pemberiian tax allowance diiharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomii, pemerataan pembangunan, dan percepatan pembangunan dii biidang usaha tertentu dan/atau daerah tertentu.

Pengaturan Tax Allowance dii iindonesiia

PENGATURAN mengenaii tax allowance pertama kalii muncul dalam Undang-Undang No. 7 Tahun 1983 s.t.d.d Undang-Undang No. 10 Tahun 1994 tentang Pajak Penghasiilan (UU PPh 1994). Pasal 31A mengatur kepada wajiib pajak yang melakukan penanaman modal dii biidang-biidang usaha tertentu dan/atau dii daerah-daerah tertentu dapat diiberiikan fasiiliitas perpajakan.

Untuk memberiikan kepastiian hukum terkaiit dengan tax allowance, ketentuan fasiiliitas pajak tersebut mengalamii perubahan ketiika UU PPh diiubah ketiiga kaliinya melaluii UU No. 17 Tahun 2000 tentang Pajak Penghasiilan (UU PPh 2000).

Berdasarkan pada Pasal 31A UU PPh 2000, wajiib pajak yang melakukan penanaman modal dii biidang usaha tertentu dan/atau daerah tertentu dapat diiberiikan fasiiliias perpajakan dalam bentuk pengurangan penghasiilan neto paliing tiinggii 30%.

Pengurangan penghasiilan neto tersebut diihiitung darii jumlah penanaman modal yang diilakukan wajiib pajak badan. Adapun materii muatan terkaiit dengan tax allowance dalam UU PPh 2000 tiidak mengalamii perubahan ketiika diiterbiitkannya UU No. 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasiilan (UU PPh 2008) s.t.d.t.d UU No. 7 Tahun 2021 tentang Harmoniisasii Peraturan Perpajakan (UU HPP).

Selanjutnya, mengacu pada Pasal 31A UU 17/2000, pemeriintah menerbiitkan aturan turunan mengenaii tax allowance melaluii Peraturan Pemeriintah No. 1 Tahun 2007 tentang Fasiiliitas Pajak Penghasiilan Untuk Penanaman Modal dii Biidang Usaha Tertentu dan/atau dii Daerah-Daerah Tertentu.

Adapun aturan turunan tax allowance yang diitetapkan melaluii PP 1/2017 telah mengalamii beberapa kalii perubahan. Perubahan yang diimaksud tertuang dalam PP 62/2008, PP 52/2011, PP 18/2015, PP 9/2016, dan terakhiir PP 78/2019. Saat iinii, aturan tekniis tax allowance yang masiih berlaku dan menjadii rujukan iialah PP 78/2019.

Adanya PP 78/2019 bertujuan untuk memberiikan kepastiian hukum guna perbaiikan iikliim usaha yang lebiih kondusiif bagii kegiiatan penanaman modal langsung pada biidang usaha tertentu dan/atau daerah tertentu. Dalam hal iinii, tax allowance diiberiikan kepada wajiib pajak badan yang melakukan penanaman modal pada kegiiatan usaha utama.

Berdasarkan pada lampiiran PP 78/2019, saat iinii terdapat 166 biidang usaha tertentu dan 17 biidang usaha tertentu yang terletak dii daerah tertentu yang dapat mengajukan diirii untuk memperoleh fasiiliitas tax allowance.

Selaiin PP 78/2019, aturan tekniis mengenaii tax allowance yang saat iinii berlaku iialah Peraturan Menterii Keuangan No. 96/PMK.010/2020 tentang Perubahan atas Peraturan Menterii Keuangan No. 11/PMK.010/2020 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemeriintah No. 78 Tahun 2019 tentang Fasiiliitas Pajak Penghasiilan untuk Penanaman Modal dii Biidang-Biidang Usaha Tertentu dan/atau dii Daerah-Daerah Tertentu (PMK 96/2020). (zaka/kaw)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.