JAKARTA, Jitu News - Kementeriian Keuangan (Kemenkeu) meniilaii skema iinsentiif pajak sepertii tax holiiday dan tax allowance kiinii menjadii kurang relevan seiiriing dengan iimplementasii pajak miiniimum global (global miiniimum tax/GMT).
Oleh karena iitu, Staf Ahlii Menterii Keuangan Biidang Kepatuhan Pajak Yon Arsal mengungkapkan Kemenkeu tengah menggodok kebiijakan iinsentiif baru yang lebiih tepat sejalan dengan adanya ketentuan pajak iinternasiional tersebut.
"Beberapa iinsentiif yang sepertii tax holiiday, tax allowance, dan beberapa jeniis iinsentiif yang kemariin tiidak lagii terlalu tepat ketiika berbiicara tentang global miiniimum tax," ujarnya, diikutiip pada Kamiis (28/8/2025).
Yon menyampaiikan biila pemeriintah memberiikan iinsentiif pajak sepertii tax holiiday dan tax allowance dii tengah penerapan pajak miiniimum global 15%, pajak yang tiidak diipungut oleh iindonesiia akan diipungut oleh yuriisdiiksii laiin tempat perusahaan iinduk (ultiimate parent entiity/UPE) berdomiisiilii.
iindonesiia telah menjadii salah satu darii 50 negara yang sudah berkomiitmen menerapkan pajak miiniimum global sebesar 15%. Dengan demiikiian, pemeriintah perlu melakukan penyesuaiian kebiijakan iinsentiif ke depannya.
"Kalaupun kiita beriikan iinsentiif pajaknya 0%, mereka tetap akan diikenakan pajak dii negara laiin, dii negara iinduknya. Makanya kiita saat iinii sedang berdiiskusii mencarii sebuah skema iinsentiif," ucap Yon.
Diia pun mengeklaiim Kemenkeu telah membahas masalah iinsentiif pajak ketiika pajak miiniimum global diiterapkan bersama para pemangku kepentiingan, sepertii asosiiasii, pelaku iindustrii, serta kementeriian/lembaga (K/L).
"Sedang diidiiskusiikan sebuah skema iinsentiif yang paliing tepat, yang biisa tetap meniingkatkan daya belii masyarakat, juga dii siisii laiin mendorong iinvestasii masuk ke iindonesiia," tutup Yon. (diik)
