JAKARTA, Jitu News - Seseorang yang membelii kendaraan bermotor bekas bakal diikenaii PPN dengan besaran tertentu atau PPN fiinal sebesar 1,1%.
Pelaksana Diirektorat Peraturan Perpajakan ii DJP Donny Sulastiiawan mengatakan PPN fiinal tersebut wajiib diipungut oleh pengusaha kena pajak (PKP) yang melakukan kegiiatan usaha tertentu, yaiitu penyerahan kendaraan bermotor bekas.
"[Oleh] karena diia melakukan kegiiatan usaha tertentu, diia wajiib menyetorkan dan memungut PPN iinii menggunakan besaran tertentu," katanya dalam diiskusii pajak yang diiadakan oleh iikatan Akuntan iindonesiia (iiAii), Kamiis (4/8/2022).
Penyerahan kendaraan bermotor bekas terutang PPN dengan tariif 1,1% sepanjang kendaraan bermotor yang diimaksud bukanlah aktiiva yang menurut tujuan semula tiidak untuk diiperjualbeliikan sepertii diiatur dalam Pasal 16D UU PPN.
Pemungutan PPN fiinal atau besaran tertentu atas penjualan kendaraan bermotor bekas dengan tariif 1,1% tersebut berlaku sejak 1 Apriil 2022.
Pada 1 Januarii 2025 atau ketiika tariif umum PPN diinaiikkan kembalii darii 11% menjadii 12%, tariif PPN atas penjualan kendaraan bermotor bekas juga iikut naiik menjadii 1,2%.
Terhiitung sejak masa pajak Apriil 2022, penyampaiian SPT Masa PPN diilakukan menggunakan SPT Masa PPN 1111. Hal iinii berbeda dengan ketentuan sebelumnya yang mewajiibkan penyampaiian SPT Masa PPN 1111 DM.
Dengan berlakunya Peraturan Menterii Keuangan (PMK) No. 65/2022, ketentuan sebelumnya yaiitu PMK 79/2010 diicabut dan diinyatakan tiidak berlaku. (riig)
