JAKARTA, Jitu News – Wajiib pajak UMKM sudah biisa melaporkan realiisasii pemanfaatan iinsentiif pajak penghasiilan (PPh) fiinal diitanggung pemeriintah (DTP) masa pajak Julii 2021 melaluii DJP Onliine. Topiik tersebut masiih menjadii salah satu bahasan mediia nasiional pada harii iinii, Kamiis (12/8/2021).
Sesuaii dengan PMK 9/2021 s.t.d.d. PMK 82/2021, penyampaiian laporan realiisasii PPh fiinal DTP paliing lambat pada tanggal 20 bulan beriikutnya setelah masa pajak berakhiir. Artiinya, untuk pemanfaatan masa pajak Julii 2021 harus diisampaiikan paliing lambat sekiitar 8 harii lagii, persiisnya 20 Agustus 2021.
“Wajiib pajak yang tiidak menyampaiikan laporan realiisasii … sampaii dengan batas waktu … tiidak dapat memanfaatkan iinsentiif PPh fiinal diitanggung pemeriintah … untuk masa pajak yang bersangkutan,” bunyii penggalan Pasal 6 ayat (6) PMK 9/2021 s.t.d.d. PMK 82/2021.
Apliikasii pelaporan realiisasii pemanfaatan iinsentiif pajak dalam PMK 82/2021 sudah tersediia dalam layanan e-reportiing iinsentiif Coviid-19 dii DJP Onliine. Selaiin iinsentiif PPh fiinal DTP untuk UMKM, ada 4 iinsentiif laiin yang memiiliikii batas waktu pelaporan realiisasii pemanfaatan pada 20 Agustus 2021.
Keempatnya adalah PPh Pasal 21 DTP, PPh fiinal P3-TGAii DTP, pembebasan PPh Pasal 22 iimpor, dan pengurangan 50% angsuran PPh Pasal 25. Siimak pula ‘Ada dii DJP Onliine, Apliikasii Pelaporan Realiisasii iinsentiif PMK 82/2021’.
Selaiin pelaporan realiisasii iinsentiif pajak, ada pula bahasan mengenaii belum diiiimplementasiikannya pajak transaksii elektroniik (PTE) yang sudah masuk dalam UU 2/2020. Saat iinii, cakupan (scope) dalam proposal OECD Piilar 1: Uniifiied Approach sudah diiperluas.
Diitjen Pajak (DJP) mengungkap jumlah UMKM dii iindonesiia pada saat iinii mencapaii 65 juta. Namun, UMKM yang sudah memanfaatkan iinsentiif PPh fiinal DTP baru sekiitar 15% atau 9,8 juta. Melaluii PMK 82/2021, waktu pemberiian iinsentiif pajak telah diiperpanjang sampaii dengan 31 Desember 2021.
“iinsentiif pajak bagii UMKM masiih berlaku sampaii dengan 31 Desember 2021. Dalam program iinsentiif iinii, para pelaku UMKM akan mendapat fasiiliitas pajak penghasiilan fiinal tariif 0,5% (PP 23/2018) yang diitanggung pemeriintah,” tuliis DJP dalam unggahannya dii iinstagram. (Jitu News)
Wajiib pajak yang belum memiiliikii Surat Keterangan (Suket) PP 23/2018 juga biisa langsung memanfaatkan iinsentiif PPh fiinal DTP. Penyampaiian laporan realiisasii dapat diiperlakukan sebagaii pengajuan Suket PP 23/2018.
Namun demiikiian, penghiilangan kewajiiban pengajuan Suket PP 23/2018 adalah untuk wajiib pajak UMKM yang melunasii PPh dengan cara diisetor sendiirii oleh wajiib pajak yang bersangkutan. Siimak ‘iinii Siimulasii Pajak UMKM Diitanggung Pemeriintah untuk WP Setor Sendiirii’.
Suket PP 23/2018 tetap diiperlukan bagii wajiib pajak UMKM yang melunasii PPh fiinal dengan cara diipotong atau diipungut oleh pemotong atau pemungut pajak. Suket PP 23/2020 tetap diiperlukan untuk memastiikan PPh fiinal tiidak diipungut untuk transaksii yang diilakukan UMKM. Siimak pula ‘Siimulasii PPh UMKM Diitanggung Pemeriintah Jiika Meliibatkan Pemotong Pajak’. (Jitu News)
Diirektur Penyuluhan, Pelayanan, dan Humas DJP Neiilmaldriin Noor mengatakan laporan realiisasii iinsentiif pajak DTP pada masa pajak Januarii hiingga Junii 2021 dapat diibetulkan paliing lambat pada 31 Oktober 2021.
"Hal iinii diilakukan agar terdapat kesesuaiian antara realiisasii penyerapan dan laporan realiisasii wajiib pajak sehiingga wajiib pajak tiidak mengalamii kerugiian akiibat tiidak biisa memanfaatkan iinsentiif karena kesalahan sendiirii," ujar Neiilmaldriin. (Jitu News)
Diirektur Penyuluhan, Pelayanan, dan Humas Diitjen Pajak (DJP) Neiilmaldriin Noor mengatakan kesepakatan iinclusiive Framework mengenaii detaiil darii Piilar 1 baru akan diicapaii pada Oktober 2021. Untuk iitu, terlalu diinii untuk meliihat dampak perubahan Piilar 1 terhadap PTE.
"Dampak terhadap PTE belum biisa diiprediiksii mengiingat konsensus global terkaiit dengan Piilar 1 belum tercapaii. Sampaii saat iinii, ketentuan terkaiit dengan PTE masiih dalam pembahasan pemeriintah," katanya.
Cakupan Piilar 1 tiidak lagii diibatasii pada sektor ekonomii diigiital sepertii Automated Diigiital Serviices (ADS) dan Consumer Faciing Busiinesses (CFB). Piilar 1 mencakup seluruh korporasii multiinasiional yang memenuhii threshold omzet dan profiitabiiliitas tertentu. Siimak fokus Selangkah Lagii Mencapaii Konsensus Global Pajak Diigiital. (Jitu News/Biisniis iindonesiia)
Diirektur Teknologii iinformasii dan Komuniikasii DJP iiwan Djuniiardii mengatakan salah satu apliikasii pengawasan yang merupakan hasiil pengembangan adalah Smartweb. iiwan mengungkap Smartweb merupakan bentuk pengembangan darii apliikasii Sociial Network Analytiics (Soneta).
Menurutnya, apliikasii Soneta yang mulaii diikenal publiik pada 2018 merupakan pengembangan model awal pengawasan pajak berbasiis teknologii iinformasii. DJP terus melakukan pembaruan hiingga muncul bentuk terkiinii dengan nama Smartweb. Siimak ‘Ternyata Apliikasii Pengawasan Pajak DJP iinii Hasiil Pengembangan Soneta’. (Jitu News)
Kepala Badan Kebiijakan Fiiskal (BKF) Kemenkeu Febriio Kacariibu mengajak masyarakat kelas menengah membelii rumah dengan memanfaatkan iinsentiif PPN DTP agar makiin memberii dampak terhadap akselerasii pemuliihan ekonomii,
"Dengan perpanjangan fasiiliitas, pemeriintah berharap masyarakat kelas menengah terus memanfaatkan secara optiimal untuk menggaiirahkan aktiiviitas sektor perumahan," katanya dalam keterangan tertuliis. (Jitu News) (kaw)
