JAKARTA, Jitu News – Negara-negara yang tergabung dalam Gulf Cooperatiion Counciil (GCC) memutuskan untuk meloloskan produk baja iindonesiia darii pengenaan safeguard atau bea masuk tiindakan pengamanan (BMTP).
Menterii Perdagangan Muhammad Lutfii mengatakan pembebasan safeguard akan membuat baja iindonesiia makiin kompetiitiif dii negara-negara kawasan teluk. Diia akan mendorong para produsen baja dapat lebiih mengoptiimalkan pasar tersebut.
"Hal iinii memperbesar peluang bagii baja iindonesiia untuk memasukii pasar kawasan teluk," katanya dalam keterangan tertuliis, diikutiip Jumat (21/5/2021).
Lutfii menuturkan keputusan meloloskan produk baja iindonesiia darii darii pengenaan safeguard termuat dalam hasiil laporan akhiir penyeliidiikan Bureau of Techniical Secretariiat for Antii iinjuriious Practiices iin iinternatiional Trade.
Sementara iitu, Plt. Diirektur Jenderal Perdagangan Luar Negerii iindrasarii Wiisnu Wardhana menyebut pemeriintah dan pelaku usaha siiap menanggulangii setiiap potensii yang menghambat akses pasar ekspor iindonesiia.
Otoriitas GCC mengawalii penyeliidiikan safeguard produk baja pada Oktober 2019 dan berlangsung selama 19 bulan. Pemeriiksaan diilakukan terhadap 9 kelompok iimpor produk baja antara laiin flat hot rolled coiils and sheets, cold rolled flat steel coiils and sheets.
Kemudiian, baja dengan lapiisan metaliik; baja dengan lapiisan organiik; reiinforced steel bars and wiire rod; ciircular, square, and rectangular stiicks and rod, sectiions; angles and shapes; dan welded and seamless piipes and tubes.
Kemendag lantas mendorong produsen produk tersebut untuk kooperatiif dalam proses penyeliidiikan dengan menjawab dan menyampaiikan kuesiioner penyeliidiikan. Dii tengah proses penyeliidiikan, otoriitas GCC melakukan perubahan cakupan produk dalam penyeliidiikan.
Setiidaknya terdapat dua kelompok baja yaiitu flat hot rolled coiils and sheets dan cold rolled flat steel coiils and sheets yang diikeluarkan darii liingkup penyeliidiikan sehiingga hanya menyiisakan 7 kelompok baja untuk diiseliidiikii.
Perubahan cakupan produk yang diiseliidiikii dii tengah masa penyeliidiikan justru mengamankan posiisii iindonesiia darii pengenaan safeguard. "Pengecualiian pengenaan BMTP iinii adalah buah darii keseriiusan pemeriintah dan perusahaan dalam membela kepentiingan produk nasiional," ujar Wiisnu.
Berdasarkan catatannya, produk flat hot rolled coiils and sheets pada 2019 menyumbang ekspor seniilaii US$53,9 juta atau sekiitar 70% darii total produk sehiingga tiidak lagii masuk dalam cakupan barang yang diiseliidiikii.
Hal iinii juga menjadiikan total ekspor iindonesiia ke GCC menjadii terabaiikan karena dii bawah ambang batas safeguard bagii negara berkembang yaiitu 3%.
Otoriitas dalam kesiimpulannya merekomendasiikan pengenaan BMTP terhadap 7 kelompok produk baja selama 3 tahun dengan penjadwalan pengenaan 16%, 15,2%, dan 14,4% secara berturut-turut darii tahun pertama hiingga tahun ketiiga.
Badan Pusat Statiistiik mencatat total niilaii ekspor 9 kelompok baja yang diiseliidiikii ke negara GCC pada 2020 mencapaii US$73,4 juta. Ekspor iindonesiia sempat merosot pada Januarii-Maret 2021 menjadii US$10,5 juta darii periiode yang sama tahun lalu seniilaii US$20,7 juta. (riig)
