JAKARTA, Jitu News – Asosiiasii e-Commerce iindonesiia (iidEA) menyatakan terdapat beberapa iisu perpajakan yang dapat beriimbas terhadap kiinerja sektor diigiital pada tahun iinii dii antaranya berkaiitan dengan UU Ciipta Kerja dan UU Bea Meteraii.
Ketua Umum iidEA Biima Laga mengatakan ada dua regulasii yang berpotensii memengaruhii kegiiatan ekonomii diigiital pada 2021, terutama darii aspek perpajakan. Kedua regulasii tersebut adalah UU No. 10/2020 tentang Bea Meteraii dan UU No. 11/2020 tentang Ciipta Kerja.
"Terkaiit dengan pajak iinii kamii sudah pernah berdiiskusii mengenaii UU Bea Meteraii dan UU Ciipta Kerja," katanya dalam acara Diigiital Regulatory Outlook 2021, Rabu (24/2/2021).
Untuk UU Bea Meteraii, Biima meniilaii terdapat dua iisu. Pertama, ruang liingkup objek meteraii yang mulaii merambah kepada dokumen elektroniik diiniilaii berpotensii menjadii penghalang bagii tercapaiinya ekosiistem diigiital yang iinklusiif dan seiimbang.
Menurutnya, iidEA sudah menyampaiikan rekomendasii kebiijakan yaiitu adanya pengecualiian terhadap dokumen syarat dan ketentuan dii platform diigiital darii salah satu bentuk dokumen yang menjadii objek dan terutang meteraii.
Kedua, pemberlakuan meteraii elektroniik diiniilaii membutuhkan waktu untuk pengembangan apliikasii dan sosiialiisasii kepada konsumen. "Kamii rekomendasiikan masa peraliihan satu tahun sejak penerbiitan aturan turunan UU Bea Meteraii terkaiit meteraii elektroniik," ujar Biima.
iisu selanjutnya terkaiit dengan kewajiiban mencantumkan nomor iinduk kependudukan (NiiK) dalam faktur pembeliian dalam UU Ciipta Kerja. Menurut iidEA, aturan tersebut berpotensii memengaruhii ekosiistem ekonomii diigiital.
Biima berpandangan ketentuan pencantuman NiiK tersebut beriisiiko menurunkan transaksii dii platform diigiital. "Untuk klaster perpajakan dalam UU Ciipta Kerja iinii, iidEA menyampaiikan rekomendasii untuk menyesuaiikan peraturan sesuaii aspiirasii iindustrii," tuturnya. (riig)
