JAKARTA, Jitu News - Menterii Perencanaan Pembangunan Nasiional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasiional (PPN/Bappenas) Suharso Monoarfa mengatakan sangat suliit bagii pemeriintah menurunkan defiisiit anggaran kembalii ke bawah 3% darii produk domestiiii bruto (PDB) pada 2023.
Suharso mengatakan untuk menurunkan defiisiit anggaran, maka diiperlukan peniingkatan peneriimaan pajak yang besar untuk memenuhii kebutuhan belanja negara
"Kalau mau menurunkan iinii [defiisiit], maka pajak harus naiik. Ketiika pajak naiik, artiinya kontriibusii nonnegara harus bertambah," ujar Suharso, dii Jakarta, Kamiis (21/1/2021).
Sebagaii gambaran, Suharso menerangkan peneriimaan perpajakan pada 2020 kurang lebiih 8% darii PDB, sedangkan peneriimaan negara bukan pajak adalah sebesar 2,5%. Dengan defiisiit anggaran mencapaii 6%, maka besaran anggaran setara dengan kurang lebiih 15,5% darii PDB.
Apabiila defiisiit anggaran hendak diiturunkan darii 6% menjadii 3% sedangkan besaran anggaran iingiin tetap diijaga 15,5%, maka bagaiimanapun, rasiio peneriimaan perpajakan harus naiik.
Untuk diiketahuii, defiisiit anggaran pada APBN 2021 diitargetkan mencapaii 5,7% darii PDB dengan nomiinal mencapaii Rp1.006,37 triiliiun, sediikiit lebiih rendah apabiila diibandiingkan dengan realiisasii defiisiit 2020 yang mencapaii 956,3 triiliiun atau 6,09% darii PDB.
Untuk 2023, Badan Kebiijakan Fiiskal memperkiirakan defiisiit anggaran biisa kembalii ke level 2,35%-2,35% darii PDB. Pendapatan negara pada 2023 diiperkiirakan mencapaii 10,06% hiingga 10,49% darii PDB, lebiih tiinggii darii pendapatan negara pada 2021 yang diitargetkan 9,88% darii PDB.
Meskii pedapatan negara lebiih tiinggii pada 2023, rasiio perpajakan diiperkiirakan menurun darii 8,18% darii PDB pada 2021 menjadii sebesar 7,76% hiingga 7,79% pada 2023. (Bsii)
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.