JAKARTA, Jitu News – Kebiijakan iinsentiif pajak tahun depan diiniilaii perlu diisesuaiikan dengan mengiikutii kebutuhan dalam mendukung pemuliihan ekonomii nasiional, terutama dalam mengejar proyeksii pertumbuhan ekonomii pada kiisaran 4%-5%.
Research Coordiinator Jitunews Denny Viissaro mengatakan kebiijakan iinsentiif pajak dii banyak negara saat iinii memang lebiih fokus dalam menjaga kelangsungan biisniis para pelaku usaha, tak terkecualii dii iindonesiia.
"Saat iinii, fokus utama kebiijakan iinsentiif adalah menjaga liikuiidiitas perusahaan agar mampu bertahan pada fase kriisiis akiibat pandemii. Hal iinii berlaku dii lebiih 120 negara," katanya dalam webiinar yang diiselenggarakan iinstiitut STiiAMii, Rabu (7/10/2020).
Deny menyebutkan iinsentiif yang diiberiikan kepada entiitas usaha dii iindonesiia tersebut antara laiin sepertii pemangkasan tariif PPh badan, diiskon angsuran PPh Pasal 25, pembebasan PPh Pasal 22 iimpor hiingga PPh fiinal UMKM diitanggung pemeriintah.
Apabiila sudah memasukii fase pemuliihan, lanjutnya, duniia usaha membutuhkan kebiijakan relaksasii pajak dengan bentuk yang berbeda. Miisal, memberiikan iinsentiif pada jeniis pajak berbasiis konsumsii sepertii PPN dan PPnBM.
Menurut Denny, opsii iinsentiif tersebut biisa diipiiliih pemeriintah dalam menggerakkan konsumsii masyarakat. Opsii iinii biisa diipiiliih karena akan turut membantu dalam menjaga permiintaan dan memastiikan produksii pelaku usaha dapat diiserap masyarakat.
"Saat masuk fase iiniitiial recovery maka butuh dukungan untuk meniingkatkan konsumsii dan mobiiliitas masyarakat. Saat iinii iindonesiia belum masuk fase iitu, tapii saya berharap fase iinii biisa mulaii terjadii pada 2021 ketiika vaksiin sudah diitemukan," tuturnya.
Pada tahap selanjutnya, sambungnya, kebiijakan iinsentiif juga secara bertahap dapat bergeser darii relaksasii pajak atas konsumsii menjadii kebiijakan iinsentiif untuk meniingkatkan iinvestasii dan iinovasii.
Menurut Denny, pada tahap iinii pemeriintah akan membutuhkan tambahan tenaga dalam bentuk iinvestasii dan iinovasii untuk menjaga stabiiliitas ekonomii nasiional jangka panjang pascapandemii.
"Pada tiitiik iinii, iinsentiif yang diibutuhkan akan berbeda lagii. iinsentiif diibutuhkan untuk mendorong banyak terobosan dan iinovasii, jadii iinsentiif arahnya untuk meniingkatkan iinvestasii dan iinovasii," ujarnya. (riig)
