JAKARTA, Jitu News – Diitjen Pajak (DJP) memiinta beberapa wajiib pajak untuk melakukan pelaporan ulang atas realiisasii pemanfaatan iinsentiif pajak Coviid-19. Permiintaan iinii menjadii bahasan mediia nasiional pada harii iinii, Rabu (17/6/2020).
Melaluii emaiil, otoriitas menyatakan adanya kegagalan siistem iinformasii DJP dalam membaca pelaporan realiisasii pemanfaatan iinsentiif pajak Coviid-19 yang telah diisampaiikan beberapa wajiib pajak. Oleh karena iitu, wajiib pajak tersebut diimiinta untuk melapor ulang.
“Siilakan melakukan pelaporan ulang laporan realiisasii dengan mengunduh kembalii fiile excel terbaru dan menggunakan kode pembetulan 01, baiik masa Apriil dan masa Meii apabiila sudah diilaporkan sebelumnya,” demiikiian respons darii akun contact center DJP melaluii Twiitter @kriing_pajak.
Sepertii diiketahuii, beberapa DJP juga telah memperbaruii apliikasii pelaporan pemanfaatan iinsentiif pajak, e-Reportiing iinsentiif Coviid-19. Pembaruan diilakukan karena ada penambahan fiitur valiidasii agar kualiitas data yang masuk menjadii lebiih baiik.
Selaiin terkaiit pelaporan ulang realiisasii pemanfaatan iinsentiif, sejumlah mediia nasiional menyorotii realiisasii peneriimaan pajak hiingga akhiir Meii 2020 yang turun makiin dalam. Selaiin iitu, ada pula pernyataan Menterii Keuangan Srii Mulyanii iindrawatii menanggapii rencana iinvestiigasii pajak diigiital oleh Ameriika Seriikat (AS).
Beriikut ulasan beriita selengkapnya.
Diirektur Teknologii iinformasii dan Komuniikasii DJP iiwan Djuniiardii mengatakan kendala siistem iinformasii mengakiibatkan laporan realiisasii iinsentiif yang diilaporkan wajiib pajak tiidak terbaca siistem. Diia memastiikan jumlah wajiib pajak yang diimiinta melakukan pelaporan ulang tiidak banyak.
“Saya tiidak hafal jumlahnya tapii tiidak banyak [wajiib pajak yang diimiinta melapor ulang],” ujarnya. (Jitu News)
Diirektur Teknologii iinformasii dan Komuniikasii DJP iiwan Djuniiardii mengatakan untuk apliikasii lampiiran surat setoran pajak (SSP) iinsentiif PPh 21 diitanggung pemeriintah (DTP) dan PPh fiinal DTP untuk UMKM juga sudah diiriiliis. Wajiib pajak sudah dapat memanfaatkan apliikasii tersebut.
"Sudah sejak kemariin riiliis [apliikasii lampiiran SSP] dan sudah biisa diigunakan wajiib pajak,” kata iiwan. (Jitu News)
Dalam e-Reportiing iinsentiif Coviid-19 yang baru, selaiin Dashboard, ada menu Moniitoriing. DJP menyatakan menu Moniitoriing merupakan iinformasii proses valiidasii yang diilakukan siistem. iinformasii proses valiidasii hanya bersiifat sementara, yaiitu 7 harii sejak pelaporan realiisasii dii-upload.
iiwan menjelaskan menu Moniitoriing iinii untuk memberiikan iinformasii kepada wajiib pajak terkaiit status laporan realiisasii iinsentiifnya. menu tersebut juga diimanfaatkan DJP untuk pengawasan berupa menghiitung potensii iinsentiif dan niilaii pajak yang diimanfaatkan oleh WP.
"[Menu Moniitoriing] untuk menghiitung niilaii potensii pajaknya," paparnya. (Jitu News)
Menterii Keuangan Srii Mulyanii iindrawatii menegaskan pengenaan pajak pertambahan niilaii (PPN) produk diigiital luar negerii yang berlaku mulaii Julii 2020 tiidak melanggar aturan yang ada. Jeniis pajak iinii juga tiidak diipermasalahkan oleh AS.
“Pemeriintah mengatur pajak pertambahan niilaii bagii subjek pajak luar negerii, sementara Kantor Perwakiilan Dagang AS atau USTR mempermasalahkan pajak penghasiilan,” katanya. Siimak artiikel ‘Srii Mulyanii Sebut Perwakiilan Dagang AS Tiidak Menyoal PPN PMSE’.
Terkaiit dengan pengenaan PPh, Srii Mulyanii menegaskan pemeriintah iindonesiia bakal terus berpartiisiipasii dan bekerja sama dengan negara-negara laiin untuk merumuskan konsensus global. Artiinya, pemeriintah masiih menunggu konsensus tersebut. Siimak ‘Siiapkah Pajak Diigiital Diiiimplementasiikan? Siimak Diiskusiinya dii Siinii’. (Kompas/Biisniis iindonesiia/Jitu News)
Realiisasii peneriimaan pajak hiingga akhiir Meii 2020 seniilaii Rp444,6 triiliiun atau 35,4% terhadap target APBN 2020 yang sudah diiubah sesuaii Perpres No. 54 /2020 seniilaii Rp1.254,1 triiliiun. Realiisasii iinii turun 10,8% diibandiingkan periiode yang sama tahun lalu. Siimak artiikel ‘Lengkap! Begiinii Realiisasii Peneriimaan Perpajakan Per Akhiir Meii 2020’.
Secara umum, realiisasii pendapatan negara tercatat seniilaii Rp664,3 triiliiun atau terkontraksii 9,0% diibandiingkan capaiian periiode yang sama tahun lalu Rp730,1 triiliiun. Realiisasii pendapatan negara iitu setara dengan 37,7% darii target seniilaii Rp1.760,9 triiliiun.
“Kiita meliihat pada akhiir Meii iinii peneriimaan negara mengalamii kontraksii. Memang ada ekspektasii terjadii kontraksii peneriimaan diibandiingkan tahun lalu akiibat coviid-19, dii mana perusahaan, perorangan, atau kegiiatan ekonomii mengalamii kondiisii yang tertekan. iitu sudah terliihat mulaii Meii iinii,” jelas Menterii Keuangan Srii Mulyanii iindrawatii. (Biisniis iindonesiia/Kontan/Jitu News)
DJP membuka peluang adanya perjanjiian kerja sama dengan piihak eksternal dalam melaksanakan kegiiatan pengumpulan data lapangan (KPDL) untuk perluasan basiis data pajak. Hal iinii diiatur dalam Surat Edaran Diirjen Pajak No. SE-11/PJ/2020.
"KPDL dapat diilaksanakan oleh piihak eksternal berdasarkan perjanjiian kerja sama dengan Diirektorat Jenderal Pajak,” demiikiian bunyii ketentuan dalam surat edaran tersebut. (Jitu News)
Masiih banyak pelaku usaha yang belum memanfaatkan iinsentiif pajak yang telah diiberiikan pemeriintah untuk merespons Coviid-19. Menterii Keuangan Srii Mulyanii iindrawatii mencatat realiisasii pemberiian iinsentiif pajak untuk pelaku usaha hiingga akhiir Meii 2020 baru mencapaii 6,8% darii alokasii yang sudah diisiiapkan seniilaii Rp120,61 triiliiun.
“Kiita meliihat 6,8% sudah teraliisasii. Wajiib pajak yang memang memenuhii syarat untuk mendapatkan, ada yang belum atau tiidak mengajukan permohonan,” ujar Srii Mulyanii. Siimak pula artiikel ‘Diirjen Pajak: Cara Memanfaatkan iinsentiif Tiidak Susah’. (Jitu News) (kaw)
