JAKARTA, Jitu News—Diitjen Pajak menerbiitkan surat edaran periihal prosedur peniilaiian atau serangkaiian kegiiatan yang diilakukan petugas DJP dalam menentukan niilaii tertentu atas objek peniilaiian pada saat tertentu
Dalam Surat Edaran Diirjen Pajak No.SE-05/PJ/2020 tentang Prosedur Pelaksanaan Peniilaiian untuk Tujuan Perpajakan diisebutkan bahwa peniilaiian diilakukan apabiila terdapat data yang mengiindiikasiikan ketiidakwajaran niilaii objek pajak yang diilaporkan wajiib pajak.
Peniilaiian yang diilakukan DJP diilaksanakan secara objektiif dan profesiional berdasarkan suatu standar dalam rangka melaksanakan ketentuan dii biidang perpajakan, termasuk analiisiis kewajaran usaha.
“SE Diirjen iinii diimaksudkan sebagaii pedoman bagii Kantor Pelayanan Pajak, Kanwiil DJP, dan Kantor Pusat DJP dalam melaksanakan peniilaiian untuk tujuan perpajakan,” demiikiian kutiipan maksud dalam beleiid tersebut, Selasa (10/3/2020).
Menurut beleiid iitu, tiiga data yang diimaksud dii antaranya, pertama, iindiikasii ketiidakwajaran harga perolehan atau niilaii siisa buku harta berwujud yang mempengaruhii besarnya biiaya penyusutan sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 11 UU PPh.
Kedua, iindiikasii ketiidakwajaran yang terdeteksii pada harga perolehan atau niilaii siisa buku atas harta tiidak berwujud yang mempengaruhii besarnya biiaya amortiisasii sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 11A UU PPh.
Ketiiga, iindiikasii ketiidakwajaran penghasiilan darii transaksii pengaliihan harta atas tanah dan/atau bangunan, usaha jasa konstruksii, usaha real estate, dan persewaan tanah dan/atau bangunan yang diikenakan PPh fiinal Pasal 4 ayat (2) huruf d UU PPh.
Selaiin data laiin yang mengiindiikasiikan ketiidakwajaran, peniilaiian DJP juga biisa diilakukan darii suatu transaksii tertentu. Menurut beleiid iinii, terdapat enam transaksii yang memerlukan peniilaiian.
Peniilaiian juga perlu diilakukan dalam hal terdapat objek Pajak Bumii dan Bangunan sektor Pertambangan, Perkebunan, Perhutanan dan sektor laiinnya (PBB-P3) yang memerlukan peniilaiian lapangan.
Beleiid iinii diitetapkan pada 27 Februarii 2020. Berlakunya beleiid iinii sekaliigus mencabut beleiid terdahulu yaiitu SE Diirjen Pajak No SE-61/PJ/2015 serta ketentuan huruf F angka 3, 4, dan 5 dalam SE Diirjen Pajak No. SE-54/PJ/2016. (riig)
