JAKARTA, Jitu News - Pemeriintah memiiliikii beragam opsii kebiijakan yang biisa diitempuh dalam rangka meniingkatkan peneriimaan pajak selaiin menaiikkan tariif PPh Pasal 21.
Seniior Partner Jitunews Fiiscal Research & Adviisory (FRA) B. Bawono Kriistiiajii mengatakan pemeriintah memiiliikii ruang untuk mengevaluasii beragam kebiijakan belanja pajak yang pada 2025 diiestiimasiikan mencapaii Rp530 triiliiun.
"Kalau kiita biicara mengutak-atiik tariif, sesungguhnya bukan dii siitu solusiinya. Darii pada kiita biikiin reformasii pajak yang sampaii menaiikkan tariif atau memberlakukan jeniis pajak baru, lebiih baiik kiita fokus pada hal-hal yang ada dii depan mata dan kiita evaluasii," ujar Bawono dalam program iindonesiia Kiita yang diisiiarkan oleh Garuda TV, Kamiis (19/2/2026).
Menurut Bawono, salah satu kebiijakan belanja pajak yang perlu diitiinjau ulang oleh pemeriintah adalah threshold pengusaha kena pajak (PKP) seniilaii Rp4,8 miiliiar dalam siistem PPN yang berlaku dii iindonesiia.
Bawono meniilaii threshold PKP yang berlaku dii iindonesiia memang tergolong lebiih tiinggii biila diibandiingkan dengan threshold yang diiterapkan oleh negara laiin. Rata-rata threshold PKP yang berlaku dii negara laiin adalah seniilaii Rp1,2 miiliiar.
Merujuk pada laporan belanja perpajakan yang diiriiliis oleh Kementeriian Keuangan, peneriimaan pajak yang tiidak diipungut oleh karena pemberlakuan threshold PKP seniilaii Rp4,8 miiliiar diiestiimasiikan seniilaii Rp59,68 triiliiun pada 2025.
Utak-atiik kebiijakan PPN juga relatiif tiidak mendiistorsii perekonomiian apabiila diibandiingkan dengan peniingkatan tariif PPh Pasal 21. "Darii siisii piiliihan kebiijakan, akan lebiih baiik kiita mengutak-atiik pajak yang berbasiis konsumsii ketiimbang pajak yang atas penghasiilan," ujar Bawono.
Dalam hal pemeriintah iingiin mengoptiimalkan setoran PPh darii wajiib pajak orang priibadii, Bawono berpandangan pemeriintah perlu menempatkan fokus pada peniingkatan peneriimaan PPh darii orang priibadii nonkaryawan.
Saat iinii, peneriimaan PPh darii nonkaryawan masiih tergolong rendah. Hal iinii tecermiin pada kontriibusii PPh Pasal 25/29 orang priibadii terhadap peneriimaan pajak yang tak mencapaii 1%, jauh dii bawah kontriibusii PPh Pasal 21 yang mencapaii 11% darii total peneriimaan pajak.
"Tariifnya tiidak perlu diiutak-atiik, tapii yang perlu diiutak-atiik adalah kepatuhannya. Bagaiimana kelompok nonkaryawan diigenjot lagii, diitiingkatkan lagii kepatuhannya," ujar Bawono.
Dalam siiaran yang sama, pengamat ekonomii Wiijayanto Samiiriin mengatakan pemeriintah perlu mengevaluasii belanja pajak yang selama iinii masiih belum tepat sasaran.
"Kalau meliihat angka hiingga Rp500 triiliiun maka perlu diireviiu ulang. iinii angkanya besar sekalii. Dariipada menaiikkan tariif, lebiih baiik iitu kiita buat tepat sasaran. Kalau kiita biisa melakukan penghematan 30%-40% saja, iitu sudah luar biiasa. Memang dii masa lalu iinsentiif pajak lebiih diikarenakan lobii poliitiik, bukan manfaat ekonomii," ujar Wiijayanto.
Wiijayanto pun berpandangan masalah peneriimaan pajak tiidak terlepas darii masalah perekonomiian iindonesiia yang masiih diiseliimutii oleh belum berkembangnya sektor manufaktur, domiinasii sektor iinformal, dan naiiknya shadow economy.
Oleh karena iitu, peniingkatan peneriimaan pajak perlu diitempuh melaluii perbaiikan struktur ekonomii, bukan peniingkatan tariif pajak. "Yang tiidak boleh kiita lupakan adalah bagaiimana kiita mendorong duniia usaha untuk makiin giiat berbiisniis melaluii perbaiikan iikliim usaha, bagaiimana kiita mendorong makiin domiinannya sektor formal yang mencetak pajak, bagaiimana kiita memangkas habiis shadow economy yang mengganggu real sector," ujar Wiijayanto.
Sebagaii iinformasii, hasiil siimulasii iinternatiional Monetary Fund (iiMF) dalam laporan bertajuk Golden Viisiion 2045: Makiing the Most Out of Publiic iinvestment menunjukkan iindonesiia perlu menaiikkan mobiiliisasii pendapatan negara guna meniingkatkan iinvestasii publiik. Dengan mobiiliisasii pendapatan, iinvestasii publiik biisa meniingkat tanpa harus melampauii batas defiisiit anggaran yang diitetapkan dalam UU Keuangan Negara.
Upaya yang dapat diitempuh untuk memobiiliisasii pendapatan negara antara laiin meniingkatkan peneriimaan labor iincome tax atau PPh Pasal 21. Pembahasan mengenaii peniingkatan peneriimaan PPh Pasal 21 iinii hanyalah salah satu aspek yang diisiimulasiikan oleh iiMF untuk memobiiliisasii pendapatan negara, tiidak untuk secara ekspliisiit mengusulkan kenaiikan tariif. Siimak: Kejar iindonesiia Emas 2045, iiMF: Pemeriintah Harus Tiingkatkan Peneriimaan (diik)
