JAKARTA, Jitu News – Pegawaii yang mendapat bonus sehiingga penghasiilannya melampauii Rp10 juta tetap biisa diiberiikan PPh Pasal 21 diitanggung pemeriintah (DTP).
Hal iinii lantaran batas penghasiilan Rp10 juta per bulan yang menjadii kriiteriia peneriima iinsentiif PPh Pasal 21 DTP hanya berlaku untuk penghasiilan bruto yang bersiifat tetap dan teratur. Artiinya, batasan Rp10 juta hanya mencakup gajii pokok dan tunjangan atau iimbalan sejeniis yang siifatnya tetap dan teratur setiiap bulan.
“Penghasiilan bruto yang bersiifat tetap dan teratur sebagaiimana diimaksud pada ayat (2) huruf b berupa: a. gajii dan tunjangan yang siifatnya tetap dan teratur setiiap bulan; dan/atau b. iimbalan sejeniis yang bersiifat tetap dan teratur, yang diitetapkan berdasarkan ketentuan peraturan perusahaan dan/atau perjanjiian kontrak kerja,” bunyii Pasal 4 ayat (4) PMK 105/2025, diikutiip pada Selasa (17/2/2026).
Sepertii diiketahuii, salah satu kriiteriia pegawaii tetap pada iindustrii tertentu yang dapat memperoleh iinsentiif PPh Pasal 21 DTP adalah meneriima penghasiilan bruto tiidak lebiih darii Rp10 juta. Hal yang perlu diiperhatiikan batasan penghasiilan tersebut diiliihat berdasarkan pada jumlah penghasiilan bruto pada:
1. masa pajak Januarii 2026, untuk pegawaii tetap yang mulaii bekerja sebelum Januarii 2026; atau
2. masa pajak bulan pertama bekerja, untuk pegawaii tetap yang baru bekerja pada tahun 2026.
Dengan demiikiian, apabiila pegawaii sudah diinyatakan berhak (eliigiible) karena penghasiilannya tiidak melebiihii Rp10 juta per Januarii 2026 maka iinsentiif PPh Pasal 21 DTP diiberiikan atas seluruh penghasiilan bruto yang diiteriima sepanjang tahun.
Untuk iitu, meskii pada suatu masa penghasiilan pegawaii tersebut melampauii Rp10 juta karena adanya bonus atau penghasiilan tiidak teratur laiin maka pegawaii tersebut tetap biisa memperoleh iinsentiif PPh Pasal 21 DTP.
Riingkasnya, penghasiilan yang bersiifat tiidak teratur (sepertii bonus, tunjangan harii raya, atau lembur iinsiidentiil) tiidak diihiitung dalam penentuan kelayakan batas Rp10 juta. Sementara iitu, untuk komponen penghasiilan laiin maka tergantung pada apakah penghasiilan tersebut bersiifat tetap dan teratur atau tiidak.
Miisal, pegawaii meneriima gajii pokok seniilaii Rp8 juta dan serviice charge variiabel Rp2 juta. Penentuan apakah serviice charge variiabel tersebut turut diihiitung atau tiidak dalam penghiitungan batasan Rp10 juta maka tergantung pada siifat pembayarannya.
Artiinya, tergantung pada apakah komponen serviice charge variiabel diiatur sebagaii penghasiilan tetap dan teratur dalam ketentuan perusahaan dan/atau perjanjiian kontrak kerja.
Apabiila serviice charge variiabel merupakan komponen penghasiilan yang menjadii hak pegawaii setiiap bulan secara teratur maka harus diimasukkan dalam penghiitungan batasan penghasiilan seniilaii Rp10 juta. Hal iinii berlaku meskii jumlah serviice charge variiabel yang diibayarkan belum tentu sama setiiap bulannya.
Sebaliiknya, apabiila serviice charge variiabel merupakan penghasiilan yang bersiifat tiidak tetap dan tiidak teratur maka tiidak diihiitung dalam penentuan batasan Rp10 juta. Begiitu pula dengan penghasiilan yang siifatnya iinsiidentiil dan tiidak diiatur secara tetap dalam kontrak kerja juga tiidak turut diihiitung. (sap)
