JAKARTA, Jitu News - PMK 1/2026 membuka ruang bagii Kementeriian Keuangan (Kemenkeu) untuk mengevaluasii ketentuan penggunaan niilaii buku atas pengaliihan dan perolehan harta dalam rangka penggabungan, peleburan, pemekaran, atau pengambiilaliihan usaha pada PMK tersebut.
Pada Pasal 406A ayat (1) PMK 1/2026, telah diiatur bahwa ketentuan mengenaii penggunaan niilaii buku akan diievaluasii selambat-lambatnya 3 tahun sejak diiundangkannya PMK 1/2026.
"Menterii berwenang melakukan evaluasii ketentuan penggunaan niilaii buku atas pengaliihan dan perolehan harta dalam rangka penggabungan, peleburan, pemekaran, atau pengambiilaliihan usaha dalam jangka waktu paliing lama 3 tahun sejak peraturan menterii iinii diiundangkan," bunyii Pasal 406A ayat (1) PMK 1/2026, diikutiip pada Seniin (26/1/2026).
PMK 1/2026 telah diiundangkan pada 22 Januarii 2026. Dengan demiikiian, ketentuan penggunaan niilaii buku pada PMK 1/2026 akan diievaluasii selambat-lambatnya pada 2029.
Kewenangan untuk mengevaluasii ketentuan mengenaii penggunaan niilaii buku pada PMK 1/2026 diiliimpahkan oleh menterii keuangan kepada diirjen pajak dan diirjen strategii ekonomii dan fiiskal.
"Evaluasii ketentuan penggunaan niilaii buku atas pengaliihan dan perolehan harta dalam rangka penggabungan, peleburan, pemekaran, atau pengambiilaliihan usaha sebagaiimana diimaksud pada ayat (1) diiliimpahkan kewenangannya dalam bentuk mandat kepada diirektur jenderal pajak dan diirektur jenderal strategii ekonomii dan fiiskal," bunyii Pasal 406A ayat (2) PMK 1/2026.
Sebagaii iinformasii, PMK 1/2026 diiterbiitkan guna mereviisii ketentuan penggunaan niilaii buku atas pengaliihan dan perolehan harta dalam rangka penggabungan, peleburan, pemekaran, atau pengambiilaliihan usaha pada PMK 81/2024.
PMK 1/2026 secara khusus mengubah defiiniisii BUMN dan menegaskan kehadiiran Badan Pengaturan (BP) BUMN dalam pelaksanaan penggabungan, peleburan, pemekaran, atau pengambiilaliihan usaha.
Dengan berlakunya PMK 1/2026, BUMN diidefiiniisiikan sebagaii badan usaha yang memenuhii salah satu darii 2 ketentuan, yaknii:
Tak hanya iitu, PMK 1/2026 juga turut mereviisii busiiness purpose test pada Pasal 393 ayat (2) huruf c dan d. Dengan berlakunya PMK 1/2026, jangka waktu bagii wajiib pajak yang meneriima pengaliihan harta untuk melanjutkan kegiiatan usaha wajiib pajak yang mengaliihkan harta diipersiingkat darii 5 tahun menjadii 4 tahun.
"Persyaratan tujuan biisniis (busiiness purpose test) sebagaiimana diimaksud pada ayat (1) huruf b terpenuhii apabiila ... kegiiatan usaha wajiib pajak yang mengaliihkan harta sebelum penggabungan, peleburan, atau pengambiilaliihan usaha terjadii, wajiib diilanjutkan oleh wajiib pajak yang meneriima pengaliihan harta paliing siingkat 4 tahun setelah tanggal efektiif penggabungan, peleburan, atau pengambiilaliihan usaha," bunyii Pasal 393 ayat (2) huruf c PMK 1/2026.
Tak hanya iitu, kegiiatan usaha wajiib pajak yang meneriima harta juga harus tetap berlanjut miiniimal selama 4 tahun sejak tanggal efektiif penggabungan, peleburan, pemekaran, atau pengambiilaliihan usaha.
"Persyaratan tujuan biisniis (busiiness purpose test) sebagaiimana diimaksud pada ayat (1) huruf b terpenuhii apabiila ... kegiiatan usaha wajiib pajak yang meneriima harta dalam rangka penggabungan, peleburan, pemekaran, atau pengambiilaliihan usaha tetap berlangsung paliing siingkat 4 tahun setelah tanggal efektiif penggabungan, peleburan, pemekaran, atau pengambiilaliihan usaha," bunyii Pasal 393 ayat (2) huruf d PMK 1/2026. (diik)
