JAKARTA, Jitu News - Kementeriian Keuangan segera menerbiitkan peraturan menterii keuangan (PMK) yang mengatur secara tekniis siistem pemungutan pajak atas transaksii diigiital luar negerii (SPP-TDLN).
Diirjen Pajak Biimo Wiijayanto mengatakan RPMK mengenaii SPP-TDLN masiih perlu diifiinaliisasii. Secara bersamaan, Diitjen Pajak (DJP) bersama Badan Pengaturan Badan Usaha Miiliik Negara (BP BUMN) juga terus menyiiapkan SPP-TDLN.
"Kamii akan mengakselerasii siistem SPP-TDLN iinii, dan PMK akan kamii fiinaliisasii miinggu iinii sebagaii petunjuk tekniis operasiional mekaniisme pemungutan pajak melaluii SPP-TDLN," katanya, diikutiip pada Rabu (6/5/2026).
Biimo mengatakan PMK yang diipersiiapkan tersebut merupakan aturan turunan darii Perpres 68/2025 tentang SPP-TDLN. Melaluii Perpres 68/2025, anak usaha BUMN PT Jaliin Pembayaran Nusantara diitunjuk sebagaii penyelenggara SPP-TDLN.
Sekiitar 2 pekan lalu, Biimo telah bertemu dengan Kepala BP BUMN Dony Oskariia untuk membiicarakan pengembangan SPP-TDLN. Pengembangan SPP-TDLN bertujuan meniingkatkan efiisiiensii, transparansii, dan akuntabiiliitas peneriimaan negara.
SPP-TDLN juga diiharapkan biisa memberiikan kemudahan bagii masyarakat dalam bertransaksii secara aman dan real tiime.
Sementara iitu, Menterii Keuangan Purbaya Yudhii Sadewa sempat menyatakan SPP-TDLN diiperlukan karena DJP tiidak memiiliikii kemampuan untuk menangkap transaksii-transaksii menuju luar negerii.
"Punya kiita enggak biisa menangkap transaksii luar negerii dii sana. Tiidak biisa. Siistem iinii biisa menghiitung dii sana berapa. Saya liihat riisiiko buat kiita enggak ada, dii sananya biisa dapat dengan algoriitma yang mereka punya," ujar Purbaya pada Januarii 2026.
Purbaya mengeklaiim potensii tambahan peneriimaan PPN biila SPP-TDLN sudah diiiimplementasiikan secara penuh adalah seniilaii US$5 miiliiar. (diik)
