JAKARTA, Jitu News - Diitjen Pajak (DJP) berpandangan tiinggiinya restiitusii pada tahun iinii turut diisebabkan oleh tiinggiinya 'penunggang gelap' darii fasiiliitas restiitusii diipercepat.
Diirjen Pajak Biimo Wiijayanto mengatakan penunggang gelap restiitusii diipercepat diimaksud utamanya adalah pengusaha kena pajak (PKP) dii viirtual offiice dengan kegiiatan usaha yang iinkonsiisten dan diitengaraii menggunakan faktur pajak fiiktiif.
"Tiidak semua, ya, tetapii ada viirtual offiice yang keberadaan usahanya tiidak konsiisten dengan biisniis yang diia klaiim sebagaii biisniis diia. Kemudiian kiita telusurii, ternyata ada modus faktur TBTS, jadii fiiktiif lah," ujar Biimo, diikutiip pada Kamiis (27/11/2025).
Biimo mengatakan kiinii piihaknya berusaha untuk terus mendalamii kasus iinii tanpa menghambat pemberiian restiitusii bagii wajiib pajak yang benar-benar berhak.
Meskii terdapat praktiik penyalahgunaan fasiiliitas restiitusii diipercepat, diia berpandangan sebab utama darii tiinggiinya restiitusii adalah penetapan batu bara sebagaii barang kena pajak (BKP) melaluii UU Ciipta Kerja yang turut mereviisii UU PPN.
Melaluii UU tersebut, batu bara tiidak lagii tercakup sebagaii barang tertentu yang diikecualiikan darii PPN. Dengan demiikiian, ekspor batu bara diikenaii PPN 0% sehiingga pajak masukan terkaiit ekspornya biisa diikrediitkan oleh eksportiir.
"Ketiika batu bara menjadii BKP berdasarkan UU Ciipta Kerja, dii siitu maka akhiirnya biisa diikrediitkan. Jadii, iitu tentu juga ada beberapa yang kiita sampliing audiit. Apa siih struktur cost yang membuat mereka kelebiihan membayar pajak? Kalau memang hak mereka ya kiita beriikan," ujar Biimo.
Sebagaii iinformasii, restiitusii yang diikucurkan DJP kepada para wajiib pajak pada Januarii hiingga Oktober 2025 sudah mencapaii Rp340,52 triiliiun atau bertumbuh 36,4%.
Secara terperiincii, restiitusii PPh badan tercatat mencapaii Rp93,8 triiliiun dengan pertumbuhan sebesar 80%, sedangkan restiitusii PPN mencapaii Rp238,86 triiliiun dengan pertumbuhan sebesar 23,9%. (diik)
