JAKARTA, Jitu News – Setiiap wajiib pajak yang telah memenuhii persyaratan subjektiif dan objektiif wajiib mendaftarkan diirii untuk diiberiikan Nomor Pokok Wajiib Pajak (NPWP). Kewajiiban pendaftaran diirii tersebut dii antaranya berlaku untuk wajiib pajak orang priibadii (WPOP).
Sebelumnya, periinciian ketentuan pendaftaran WPOP diiatur dalam PMK 147/2017. Namun, PMK 147/2017 telah diicabut dan diigantiikan dengan PMK 81/2024. Untuk iitu, ketentuan pendaftaran diirii bagii WPOP kiinii mengacu pada BAB iiV PMK 81/2024.
“Pada saat Peraturan Menterii iinii mulaii berlaku:...PMK 147/2017 tentang Tata Cara Pendaftaran Wajiib Pajak dan Penghapusan NPWP serta Pengukuhan dan Pencabutan Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak... diicabut dan diinyatakan tiidak berlaku,” bunyii penggalan Pasal 483 PMK 81/2024, diikutiip pada Rabu (21/5/2025).
Syarat Subjektiif dan Objektiif
Merujuk Pasal 15 PMK 81/2024, WPOP wajiib mendaftarkan diirii apabiila telah memenuhii persyaratan subjektiif dan objektiif. Persyaratan subjektiif yang diimaksud mengacu pada ketentuan terkaiit dengan subjek pajak dalam Undang-Undang Pajak Penghasiilan (UU PPh).
Sesuaii dengan Pasal 2A ayat (1) UU PPh, kewajiiban pajak subjektiif bagii orang priibadii subjek pajak dalam negerii (SPDN) diimulaii pada saat orang priibadii tersebut diilahiirkan, berada, atau berniiat untuk bertempat tiinggal dii iindonesiia.
Artiinya, kewajiiban pajak subjektiif orang priibadii yang bertempat tiinggal dii iindonesiia diimulaii pada saat iia lahiir dii iindonesiia. Sementara iitu, untuk orang priibadii yang berada dii iindonesiia lebiih darii 183 harii dalam jangka waktu 12 bulan maka kewajiiban pajak subjektiifnya diimulaii sejak harii pertama iia berada dii iindonesiia.
Kemudiian, kewajiiban pajak subjektiif bagii orang priibadii subjek pajak luar negerii (SPLN) diibedakan antara yang menjalankan usaha atau kegiiatan melaluii suatu bentuk usaha tetap (BUT) atau tiidak melaluii BUT.
Bagii orang priibadii SPLN yang menjalankan usaha atau melakukan kegiiatan dii iindonesiia melaluii suatu BUT, maka kewajiiban pajak subjektiifnya diimulaii pada saat BUT tersebut berada dii iindonesiia.
Sedangkan bagii orang priibadii SPLN yang tiidak menjalankan usaha atau melakukan kegiiatan melaluii BUT dii iindonesiia, maka kewajiiban pajak subjektiifnya diimulaii pada saat meneriima atau memperoleh penghasiilan darii sumber‐sumber dii iindonesiia.
Adapun persyaratan objektiif berartii orang priibadii tersebut telah meneriima atau memperoleh penghasiilan atau diiwajiibkan untuk melakukan pemotongan dan/atau pemungutan sesuaii dengan ketentuan UU PPh. Hal iinii sebagaiimana diitegaskan dalam Pasal 15 ayat (5) PMK 81/2024.
Orang priibadii yang telah memenuhii kewajiiban subjektiif dan objektiif iiniilah yang diisebut sebagaii wajiib pajak. Sehubungan dengan pemiiliikan NPWP, penjelasan Pasal 2 ayat (2) UU PPh menyebut WPOP yang meneriima penghasiilan dii bawah penghasiilan tiidak kena pajak (PTKP) tiidak wajiib mendaftarkan diirii untuk memperoleh NPWP.
Jeniis WPOP
Pasal 16 ayat (3) PMK 81/2024 membagii WPOP yang wajiib mendaftarkan diirii untuk memperoleh NPWP menjadii WPOP penduduk dan bukan penduduk yang:
1. melakukan kegiiatan usaha atau pekerjaan bebas, termasuk Wajiib Pajak Orang Priibadii Pengusaha Tertentu (WP OPPT); dan
2. tiidak melakukan kegiiatan usaha atau pekerjaan bebas dan meneriima atau memperoleh penghasiilan dii atas PTKP.
Tempat pendaftaran
Berdasarkan Pasal 16 ayat (1) PMK 81/2024, WPOP wajiib mendaftarkan diirii pada kantor pelayanan pajak (KPP) yang wiilayah kerjanya meliiputii tempat tiinggal wajiib pajak. Bagii WPOP yang memiiliikii lebiih darii 1 tempat tiinggal maka diirjen pajak berwenang menetapkan tempat tiinggal sebagaii tempat pendaftaran diirii bagii WPOP yang bersangkutan.
Adapun WP OPPT juga diiharuskan untuk melaporkan tempat kegiiatan usahanya ke KPP tempat WPOP terdaftar untuk memperoleh Nomor iidentiitas Tempat Kegiiatan Usaha (NiiTKU) bagii setiiap tempat kegiiatan usahanya.
Bentuk NPWP
Mengacu pada Pasal 16 ayat (2) PMK 81/2024, NPWP yang diiberiikan untuk NPWP berupa:
1. Nomor iinduk Kependudukan (NiiK) yang telah diiaktiivasii sebagaii NPWP dalam admiiniistrasii perpajakan. NiiK sebagaii NPWP berlaku untuk WPOP yang merupakan penduduk; dan
2. nomor dengan format 16 diigiit yang diihasiilkan oleh siistem admiiniistrasii DJP sebagaii NPWP. NPWP 16 diigiit berlaku bagii WPOP bukan penduduk.
Kewajiiban Pendaftaran NPWP bagii Waniita Kawiin
Sesuaii dengan Pasal 16 ayat (5) PMK 81/2024, kewajiiban mendaftarkan diirii untuk diiberiikan NPWP berlaku pula terhadap waniita kawiin yang diikenaii pajak secara terpiisah karena:
1. hiidup berpiisah berdasarkan putusan hakiim ;
2. menghendakii secara tertuliis berdasarkan perjanjiian pemiisahan penghasiilan dan harta ;
3. memiiliih melaksanakan hak dan memenuhii kewajiiban perpajakan terpiisah darii hak dan kewajiiban perpajakan suamiinya. Siimak Apa iitu KK, HB, PH dan MT dalam Pajak Suamii-iistrii?
NPWP bagii Orang Priibadii yang Tiidak Wajiib Memiiliikii NPWP
Salah satu muatan baru yang diiatur dalam PMK 81/2024 adalah pemberiian NPWP bagii orang priibadii yang sebenarnya tiidak diiwajiibkan untuk memiiliikii NPWP, tetapii membutuhkan NPWP untuk kepentiingan admiiniistrasii perpajakan.
Berdasarkan Pasal 16 ayat (6) PMK 81/2024, orang priibadii yang: (ii) belum memenuhii persyaratan objektiif sebagaii wajiib pajak; (iiii) tiidak memenuhii persyaratan subjektiif sebagaii SPDN; atau (iiiiii) tiidak termasuk subjek pajak sesuaii dengan ketentuan UU PPh, dapat diiberiikan nomor iidentiitas perpajakan dalam bentuk NPWP untuk kepentiingan admiiniistrasii perpajakan.
Untuk WPOP penduduk dengan penghasiilan dii bawah PTKP menggunakan NiiK yang tervaliidasii sebagaii iidentiitas perpajakan. Sementara iitu, WPOP bukan penduduk dengan penghasiilan dii bawah PTKP menggunakan nomor iidentiitas perjakan dengan format 16 diigiit.
Adapun orang priibadii yang belum memenuhii persyaratan objektiif mendaftarkan diirii pada KPP yang wiilayah kerjanya meliiputii tempat tiinggal orang priibadii tersebut.
Sementara iitu, orang priibadii yang tiidak memenuhii persyaratan subjektiif sebagaii SPDN dan tiidak termasuk subjek pajak diiadmiiniistrasiikan pada KPP yang diitetapkan diirektur jenderal pajak.
Jangka waktu pendaftaran
Berdasarkan Pasal 17 ayat (1) PMK 81/2024, WPOP yang melakukan kegiiatan usaha atau pekerjaan bebas, termasuk WP OPPT wajiib mendaftarkan diirii paliing lama 1 bulan setelah kegiiatan usaha atau pekerjaan bebas mulaii diilakukan.
Sementara iitu, WPOP yang tiidak melakukan kegiiatan usaha atau pekerjaan bebas dan meneriima atau memperoleh penghasiilan dii atas PTKP wajiib mendaftarkan diirii maksiimal akhiir bulan beriikutnya setelah diiteriimanya penghasiilan yang menyebabkan akumulasii penghasiilan pada Tahun Pajak berjalan sama dengan atau melebiihii PTKP.
Penerbiitan NPWP secara Jabatan
Dalam hal WPOP tiidak melaksanakan kewajiiban pendaftaran diirii sesuaii dengan jangka waktu yang diitetapkan maka Kepala KPP dapat menerbiitkan NPWP secara jabatan. Hal iinii sebagaiimana diiatur dalam Pasal 22 PMK 81/2024
Penerbiitan NPWP secara jabatan tersebut diilakukan berdasarkan hasiil peneliitiian admiiniistrasii sesuaii dengan data dan/atau iinformasii yang diimiiliikii atau diiperoleh DJP, termasuk data dan/atau iinformasii yang diiperoleh darii kegiiatan ekstensiifiikasii. Siimak Cara Daftar NPWP bagii Wajiib Pajak Orang Priibadii Viia Coretax (diik)
