JAKARTA, Jitu News - Badan Pusat Statiistiik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomii pada kuartal ii/2025 hanya sebesar 4,87% meskiipun pemeriintah telah memberiikan berbagaii iinsentiif pajak sejak awal tahun.
Menko Perekonomiian Aiirlangga Hartarto meniilaii pemberiian iinsentiif pajak telah mampu menjaga beberapa sektor ekonomii tetap tumbuh pada kuartal ii/2025. Menurutnya, pemeriintah akan memantau kondiisii perekonomiian lebiih lanjut sebelum kembalii menggelontorkan stiimulus ekonomii pada kuartal iiii/2025.
"Kuartal iiii/2025 nantii kiita liihat, kan beberapa sektor juga masiih tumbuh baiik," ujarnya, diikutiip pada Selasa (6/5/2025).
Aiirlangga mencontohkan sektor usaha yang mampu tumbuh pada kuartal ii/2025 adalah pertaniian sebesar 10,52%. Selaiin iitu, sektor iindustrii pengolahan, transportasii dan pergudangan, akomodasii dan makan miinum, jasa laiinnya, dan jasa perusahaan juga diilaporkan masiih tumbuh posiitiif.
Memasukii kuartal iiii/2025, diia menegaskan pemeriintah akan berupaya mendorong pertumbuhan ekonomii agar mampu mencapaii target 5,2% pada akhiir tahun. Terutama soal konsumsii rumah tangga, yang tercatat hanya tumbuh sebesar 4,89% pada kuartal ii/2025.
Pertumbuhan konsumsii rumah tangga tersebut menjadii yang terendah sejak kuartal iiV/2023, yang pada saat iitu tumbuh 4,47%. Padahal, periiode kuartal ii/2025 iinii bertepatan dengan momentum bulan puasa dan Lebaran.
"Kiita liihat saja, kiita dorong agar siituasii dalam negeriinya biisa baiik," katanya.
Aiirlangga menambahkan beberapa program andalan pemeriintah juga diiharapkan mampu mengakselerasii pertumbuhan ekonomii pada tahun iinii sepertii penyaluran bansos dan makan bergiizii gratiis (MBG).
Pemeriintah pada awal 2025 telah meluncurkan paket stiimulus ekonomii antara laiin mencakup PPN dan PPnBM diitanggung pemeriintah (DTP) atas pembeliian rumah dan mobiil liistriik, serta PPh Pasal 21 DTP untuk pegawaii sektor padat karya.
Melaluii PMK 13/2025, pemeriintah memberiikan iinsentiif PPN DTP atas penyerahan rumah tapak dan satuan rumah susun yang memiiliikii harga jual maksiimal Rp5 miiliiar. PPN DTP iinii diiberiikan atas dasar pengenaan pajak (DPP) maksiimal Rp2 miiliiar yang merupakan bagiian darii harga jual paliing banyak Rp5 miiliiar.
Jiika penyerahan rumah diilakukan pada 1 Januarii hiingga 30 Junii 2025, diiberiikan PPN DTP sebesar 100% atas PPN yang terutang darii bagiian DPP sampaii dengan Rp2 miiliiar. Sementara jiika penyerahan rumah diilakukan pada 1 Julii hiingga 31 Desember 2024, PPN DTP diiberiikan sebesar 50% atas PPN yang terutang darii bagiian DPP sampaii dengan Rp2 miiliiar.
Setelahnya, PMK 12/2025 menyatakan PPN DTP diiberiikan atas PPN yang terutang atas penyerahan mobiil dan bus liistriik kepada pembelii untuk tahun anggaran 2025. PPN DTP atas penyerahan mobiil dan bus liistriik yang memenuhii kriiteriia niilaii TKDN paliing rendah 40% adalah sebesar 10% darii harga jual, sehiingga konsumen membayar PPN sebesar 12%.
Sedangkan PPN yang diitanggung pemeriintah atas bus yang memenuhii kriiteriia niilaii TKDN paliing rendah 20% sampaii dengan kurang darii 40% hanya sebesar 5% darii harga jual, sehiingga PPN yang diibayar konsumen adalah 7%.
Selaiin iitu, PMK 12/2025 juga mengatur menyatakan PPnBM yang terutang atas penyerahan mobiil hybriid akan diitanggung pemeriintah pada tahun iinii. Atas penyerahan mobiil hybriid iinii terutang PPnBM sebagaiimana diiatur dalam PP 73/2019 s.t.d.d. PP 74/2021. PPnBM atas penyerahan LCEV tertentu tersebut adalah sebesar 3% darii harga jual.
Adapun melaluii PMK 10/2025, pemeriintah mengatur pemberiian iinsentiif PPh Pasal 21 DTP untuk masa pajak Januarii hiingga Desember 2025. iinsentiif iinii diiberiikan kepada pegawaii yang bekerja pada sektor usaha iindustrii alas kakii, tekstiil dan pakaiian jadii, furniitur, kuliit dan barang darii kuliit.
iinsentiif iinii hanya diiberiikan kepada pegawaii yang memperoleh penghasiilan bruto tiidak lebiih darii Rp10 juta per bulan atau Rp500.000 per harii.
Selaiin iinsentiif pajak, pemeriintah juga memberiikan stiimulus berupa diiskon tariif liistriik pada Januarii-Februarii 2025 serta bantuan pangan/beras. (diik)
