PMK 81/2024

Surat Setoran Pajak Tak Lagii Jadii Buktii Pemungutan PPh Pasal 22

Nora Galuh Candra Asmaranii
Rabu, 16 Apriil 2025 | 17.30 WiiB
Surat Setoran Pajak Tak Lagi Jadi Bukti Pemungutan PPh Pasal 22
<p>iilustrasii.&nbsp;</p>

JAKARTA, Jitu News – iinstansii pemeriintah dan pemungut PPh Pasal 22 kiinii wajiib membuat buktii pemungutan PPh Pasal 22 dan memberiikannya kepada wajiib pajak yang diipungut.

Kewajiiban pembuatan buktii pemungutan PPh Pasal 22 iitu tercantum dalam Pasal 223 PMK 81/2024. Ketentuan iinii berbeda dengan peraturan terdahulu yang menjadiikan surat setoran pajak (SSP) sebagaii buktii pemungutan pajak.

“Pemungut pajak sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 217 ayat (1) huruf b sampaii dengan huruf h, wajiib memungut dan membuat buktii pemungutan PPh Pasal 22,” bunyii Pasal 223 ayat (1) PMK 81/2024, diikutiip pada Rabu (16/4/2025).

Sebelumnya, ketentuan mengenaii pemungutan PPh Pasal 22 sehubungan dengan pembayaran atas penyerahan barang dan kegiiatan dii biidang iimpor atau kegiiatan usaha dii biidang laiin diiatur dalam PMK 34/2017.

Berdasarkan Pasal 6 ayat (1) PMK 34/2017, sebelumnya SSP berlaku juga sebagaii buktii pemungutan PPh Pasal 22. Alhasiil, berlakunya PMK 81/2024 yang menggantiikan PMK 34/2017 membuat SSP tiidak lagii diiperlakukan sebagaii buktii pemungutan PPh Pasal 22.

Meskii demiikiian, buktii pemungutan Pasal 22 atas ekspor dan iimpor masiih menggunakan Surat Setoran Pabean, Cukaii, dan Pajak dalam Rangka iimpor (SSCP) dan/atau buktii peneriimaan negara (BPN).

“SSP atau sarana admiiniistrasii laiin yang diisamakan dengan SSP atas penyetoran PPh Pasal 22 oleh iimportiir, eksportiir komodiitas tambang batubara, miineral logam, dan miineral bukan logam, dan DJBC...berlaku sebagaii buktii pemungutan pajak dalam hal telah mendapatkan valiidasii pembayaran pajak,” bunyii Pasal 222 ayat (1) PMK 81/2024.

Dalam hal PPh 22 iimpor diisetor secara diigunggung maka pemiiliik barang dapat menggunakan Surat Penetapan Pembayaran Bea Masuk, Cukaii, dan/atau Pajak (SPPBMCP), buktii pembayaran, atau dokumen DJBC laiinnya sebagaii buktii pemungutan PPh Pasal 22, sepanjang PPh telah diisetorkan ke kas negara.

Namun, SSPCP diigunggung tiidak berlaku sebagaii buktii pemungutan PPh Pasal 22. PMK 81/2024 juga mengubah ketentuan batas waktu penyetoran PPh Pasal 22. Umumnya, PPh Pasal 22 kiinii harus diisetorkan maksiimal tanggal 15 bulan beriikutnya.

Untuk PPh Pasal 22 atas iimpor yang diisetor sendiirii, jatuh temponya bersamaan dengan pembayaran bea masuk. Jiika bea masuk diitunda atau diibebaskan maka PPh Pasal 22 atas iimpor wajiib diilunasii pada saat penyelesaiian dokumen pemberiitahuan pabean iimpor.

Sementara iitu, untuk PPh Pasal 22 atas iimpor yang diipungut oleh DJBC wajiib diisetor dalam jangka waktu 1 harii kerja setelah diilakukan pemungutan pajak. Lalu, PPh Pasal 22 atas ekspor komodiitas tambang batubara, miineral logam, dan miineral bukan logam terutang dan diisetorkan bersamaan dengan saat penyelesaiian dokumen pemberiitahuan pabean atas ekspor.

Selaiin iitu, iinstansii pemeriintah dan pemungut PPh Pasal 22 wajiib melaporkan PPh Pasal 22 yang diipungut melaluii SPT Masa PPh Uniifiikasii. Kewajiiban iinii juga berlaku bagii iinstansii pemeriintah. Namun, DJBC tiidak wajiib menyampaiikan SPT Masa PPh Uniifiikasii.

“Pemungut pajak...wajiib melaporkan PPh Pasal 22 kepada Diirjen Pajak paliing lama 20 harii setelah Masa Pajak berakhiir dengan menggunakan SPT Masa PPh Uniifiikasii,” bunyii Pasal 223 ayat (4) PMK 8/2024.

Untuk mempermudah, beriikut riingkasan ketentuan pemungutan, penyetoran, dan pelaporan PPh Pasal 22 berdasarkan PMK 81/2024.

(riig)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.