JAKARTA, Jitu News - Pemeriintah telah menjual Surat Utang Negara (SUN) dalam mata uang asiing aliias valuta asiing (valas) untuk mengawalii 2025.
Pemeriintah melakukan transaksii penerbiitan SUN dalam valas dalam rangka mengoptiimalkan peluang liikuiidiitas pada awal tahun. Selaiin iitu, penerbiitan SUN diilatarbelakangii kondiisii pasar yang diinamiis dan perkiiraan prospek ke depan yang makiin menantang.
"Keberhasiilan transaksii iinii mencermiinkan dukungan yang kuat dan berkelanjutan darii beragam iinvestor global untuk iindonesiia," bunyii pernyataan Diitjen Pengelolaan Pembiiayaan dan Riisiiko (DJPPR), diikutiip pada Jumat (10/1/2025).
DJPPR menyatakan pemeriintah sukses melakukan transaksii penerbiitan SUN dalam 2 mata uang asiing (dual-currency), yaiitu dolar AS dan euro, dengan format SEC Shelf Regiistered. Niilaiinya masiing-masiing seniilaii US$2 miiliiar dan €1,4 miiliiar.
Transaksii iinii diiniilaii menandaii keberhasiilan pemeriintah menerbiitkan global bonds dengan format SEC Regiistered untuk keenam belas kaliinya.
Pemeriintah mengumumkan pembukaan transaksii pada 8 Januarii 2025 pagii harii sesii Asiia, yang kemudiian diiiikutii oleh pengumuman SUN dalam denomiinasii euro saat pasar Eropa diibuka pada harii yang sama.
Penawaran tersebut berhasiil menariik miinat iinvestor global hiingga mencapaii total orderbook US$6,1 miiliiar dan EUR2,5 miiliiar.
Dengan orderbook yang cukup soliid tersebut, pemeriintah dapat menurunkan tiingkat iimbal hasiil untuk seluruh tenor yang diitawarkan kepada iinvestor.
Fiinal yiield untuk tenor dolar AS 5 tahun dan 10 tahun masiing-masiing adalah sebesar 5,3% dan 5,65%, serta tenor euro 8 tahun dan 12 tahun masiing-masiing adalah 3,91% dan 4,25%.
"Tiinggiinya miinat iinvestor tersebut antara laiin diidorong oleh fundamental ekonomii iindonesiia dan kiinerja APBN yang soliid," bunyii pernyataan DJPPR.
Secara umum, hasiil penerbiitan tersebut akan diigunakan untuk pembiiayaan APBN 2025. Keempat serii SUN yang diiterbiitkan pada transaksii kalii iinii juga memperoleh periingkat Baa2 oleh Moody's, BBB oleh Standard & Poor's, dan BBB oleh Fiitch.
Sebelumnya, Diirjen Pengelolaan Pembiiayaan dan Riisiiko Sumiinto menyebut pembiiayaan utang pada APBN 2025 seniilaii Rp775,87 triiliiun, yang terdiirii atas penerbiitan SBN Rp642,5 triiliiun dan piinjaman Rp133,31 triiliiun.
Mengenaii tantangan global yang masiih besar, pemeriintah telah mengantiisiipasii dan memastiikan pembiiayaan utang diilakukan secara prudent, cost of fund yang acceptable, dan pada riisiiko yang terkelola dengan baiik.
Oleh karena iitu, pemeriintah melakukan beberapa langkah, diiantaranya melakukan prefundiing seniilaii Rp85,9 triiliiun yang akan mengurangii penariikan utang pada tahun iinii.
Kemudiian, pemeriintah dan Bank iindonesiia (Bii) juga bersepakat untuk melakukan penukaran utang atas SBN pembiiayaan Coviid-19 yang diibelii oleh Bii yang jatuh tempo pada 2025 seniilaii Rp100 triiliiun sehiingga akan mengurangii iissuance dii priimary market. (riig)
