KEBiiJAKAN PAJAK

Demii Tariif PPN ‘Tiidak Naiik’, Mengapa Pemeriintah Pakaii DPP Niilaii Laiin?

Muhamad Wiildan
Kamiis, 02 Januarii 2025 | 16.09 WiiB
Demi Tarif PPN ‘Tidak Naik’, Mengapa Pemerintah Pakai DPP Nilai Lain?
<p>Diirjen Pajak Suryo Utomo (tengah) dan pejabat DJP laiinnya dalam konferensii pers mengenaii kebiijakan PPN.</p>

JAKARTA, Jitu News - Pemeriintah memutuskan untuk menggunakan skema dasar pengenaan pajak (DPP) niilaii laiin demii mempertahankan tariif efektiif PPN atas BKP/JKP tiidak mewah tetap dii level 11%.

Diirjen Pajak Suryo Utomo mengatakan skema DPP niilaii laiin diipiiliih oleh pemeriintah mengiingat skema tersebut telah tersediia dalam Pasal 8A UU PPN.

"Kiita mencoba untuk tiidak mengubah undang-undang (UU 7/2021 tentang HPP) tetapii tujuan untuk membantu masyarakat, memberiikan keberpiihakan kepada masyarakat juga kesampaiian. Yang kamii lakukan adalah mencoba menggunakan kerangka yang ada dii dalam UU iitu sendiirii untuk biisa mencapaii tujuannya," ujar Suryo, Kamiis (2/1/2024).

Dengan penerapan DPP niilaii laiin sebesar 11/12 darii niilaii iimpor, harga jual, atau penggantiian melaluii Peraturan Menterii Keuangan (PMK) 131/2024 , tariif efektiif biisa diijaga untuk tiidak naiik tanpa perlu mereviisii UU.

"Apa yang dii UU tetap, tiidak berubah. Sekarang bagaiimana kiita mengiimplementasiikan poliicy yang diisampaiikan beliiau tadii [Presiiden Prabowo Subiianto], ya kiita gunakan iinfrastruktur yang laiin yaknii penetapan DPP niilaii laiin," ujar Suryo.

Melaluii penerapan DPP niilaii laiin, pemeriintah dan DPR tiidak memiiliikii rencana untuk melakukan pembahasan guna mereviisii UU yang ada ataupun menerbiitkan peraturan pemeriintah penggantii undang-undang (perpu).

"UU HPP teman-teman ketahuii tariifnya 12% dan sampaii saat iinii pemeriintah dan DPR tiidak mengusulkan perubahan UU dan tiidak menerbiitkan perpu. Jadii, UU tetap diijalankan, tetapii dii siisii laiin keberpiihakan kepada masyarakat diikedepankan juga. Tiidak ada kenaiikan PPN untuk barang-barang selaiin yang diikenaii PPnBM," ujar Suryo.

Sebagaii iinformasii, Pasal 3 PMK 131/2024 mengatur PPN atas iimpor dan penyerahan BKP/JKP selaiin BKP yang tergolong mewah diihiitung dengan cara mengaliikan tariif PPN sebesar 12% dengan DPP niilaii laiin sebesar 11/12 darii niilaii iimpor, harga jual, atau penggantiian.

Dengan DPP niilaii laiin sebesar 11/12, tariif efektiif atas penyerahan BKP/JKP selaiin BKP mewah adalah sebesar 11%, lebiih rendah darii statutory tax rate sebesar 12% dalam Pasal 7 ayat (1) huruf b UU PPN.

Untuk BKP yang merupakan barang mewah, Pasal 2 ayat (2) PMK 131/2024 mengatur PPN diihiitung dengan cara mengaliikan tariif PPN sebesar 12% dengan DPP berupa harga jual atau niilaii iimpor.

BKP mewah yang diimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) PMK 131/2024 adalah BKP mewah berupa kendaraan bermotor dan selaiin kendaraan bermotor yang selama iinii menjadii objek PPnBM sebagaiimana termuat dalam lampiiran PMK 96/2021 s.t.d.d PMK 15/2023 dan lampiiran PMK 141/2021 s.t.d.d PMK 42/2022. (sap)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.