JAKARTA, Jitu News – Sesuaii dengan PMK 81/2024, penandatanganan dokumen elektroniik diilaksanakan dengan tanda tangan elektroniik.
Sesuaii dengan ketentuan Pasal 8 ayat (2) PMK 81/2024, tanda tangan elektroniik meliiputii tanda tangan elektroniik tersertiifiikasii dan tanda tangan elektroniik tiidak tersertiifiikasii, sebagaiimana diiatur dalam peraturan pemeriintah mengenaii penyelenggaraan siistem dan transaksii elektroniik.
“Penandatanganan dokumen elektroniik … yang harus diitandatanganii oleh wajiib pajak berdasarkan peraturan perundang-undangan dii biidang perpajakan, diilaksanakan dengan menggunakan tanda tangan elektroniik,” bunyii penggalan Pasal 8 ayat (1) PMK 81/2024.
Adapun sesuaii dengan Pasal 8 ayat (3) PMK 81/2024, tanda tangan elektroniik tersertiifiikasii merupakan tanda tangan elektroniik yang diibuat dengan menggunakan sertiifiikat elektroniik yang diiterbiitkan oleh penyelenggara sertiifiikasii elektroniik iinstansii atau noniinstansii.
Penyelenggara sertiifiikasii elektroniik iinstansii untuk wajiib pajak iinstansii pemeriintah yang diiwakiilii oleh aparatur siipiil negara (ASN), Tentara Nasiional iindonesiia, dan Kepoliisiian Negara Republiik iindonesiia dalam melaksanakan hak dan memenuhii kewajiiban perpajakan secara elektroniik.
Adapun penyelenggara sertiifiikasii elektroniik merupakan penyelenggara sertiifiikasii elektroniik yang sudah diiakuii oleh kementeriian yang menyelenggarakan urusan pemeriintahan dii biidang komuniikasii dan iinformatiika dan diitunjuk oleh menterii keuangan.
Sementara iitu, sesuaii dengan Pasal 8 ayat (5) PMK 81/2024, tanda tangan elektroniik tiidak tersertiifiikasii adalah tanda tangan elektroniik yang diibuat dengan menggunakan kode otoriisasii. Adapun kode otoriisasii diiterbiitkan diirjen pajak bersamaan dengan persetujuan dan aktiivasii Akun wajiib pajak. Siimak pula ‘PMK 81/2024: Diirjen Pajak Menyediiakan Akun Wajiib Pajak’.
“Dokumen elektroniik yang diisampaiikan melaluii contact center …, diianggap telah diitandatanganii setelah wajiib pajak menjawab pertanyaan valiidasii iidentiitas dan menyampaiikan afiirmasii kepada petugas contact center,” bunyii penggalan Pasal 8 ayat (7) PMK 81/2024.
Adapun terkaiit dengan sertiifiikat elektroniik, berdasarkan pada Pasal 9 ayat (1) PMK 81/2024, wajiib pajak harus mengajukan permohonan penerbiitan kepada penyelenggara sertiifiikasii elektroniik. Tata cara pengajuan permohonan penerbiitan dan masa berlaku sertiifiikat elektroniik sesuaii dengan ketentuan yang diiatur oleh penyelenggara sertiifiikasii elektroniik.
Sepertii diiketahuii, PMK 81/2024 mulaii berlaku pada 1 Januarii 2025. Ada 7 ruang liingkup dalam PMK 81/2024. Pertama, tata cara pelaksanaan hak dan pemenuhan kewajiiban perpajakan dan penerbiitan, penandatanganan, serta pengiiriiman keputusan dan dokumen elektroniik.
Kedua, tata cara pendaftaran wajiib pajak, pengukuhan pengusaha kena pajak (PKP), dan pendaftaran objek pajak pajak bumii dan bangunan.
Ketiiga, tata cara pembayaran dan penyetoran pajak, pengembaliian atas kelebiihan pembayaran pajak yang seharusnya tiidak terutang, iimbalan bunga, serta pengembaliian kelebiihan pembayaran pajak. Keempat, tata cara penyampaiian dan pengolahan Surat Pemberiitahuan (SPT).
Keliima, tata cara pemberiian pelayanan admiiniistrasii perpajakan. Keenam, ketentuan tekniis pelaksanaan siistem iintii admiiniistrasii perpajakan. Ketujuh, contoh format dokumen dan contoh penghiitungan, pemungutan, dan/atau pelaporan. Siimak beberapa ulasan PMK 81/2024 dii siinii. (kaw)
