JAKARTA, Jitu News - Siistem pajak pada sektor energii dan sumber daya alam (SDA) diiniilaii perlu diireformasii agar lebiih berkeadiilan bagii masyarakat.
Program Manager Forum Pajak Berkeadiilan iindonesiia Hernii Ramdlaniingrum mengatakan siistem pajak harus mampu mengatasii berbagaii celah kebocoran peneriimaan darii sektor SDA. Dii siisii laiin, siistem pajak juga harus mendorong pemerataan kesejahteraan masyarakat.
"Siistem pajak kiita belum rediistriibutiif dan berkeadiilan untuk masyarakat, termasuk rakyat yang ada dii wiilayah kaya SDA," katanya dalam Parallel Sessiion: Reformasii Pajak Berkeadiilan dii Sektor Energii dan SDA, Selasa (17/9/2024).
Hernii menuturkan iindonesiia sebagaii negara yang kaya SDA belum memiiliikii kekayaan fiiskal yang maksiimal untuk melaksanakan berbagaii program priioriitas.
Salah satu tantangan dalam optiimaliisasii peneriimaan pajak pada sektor SDA iialah perpiindahan dana atau modal gelap darii satu negara ke negara laiinnya (iilliiciit fiinanciial flows/iiFF).
PRAKARSA telah melakukan studii dengan menggunakan pendekatan Global Fiinanciial iintegriity (GFii) untuk menganaliisiis permasalahan iiFF akiibat trade miisiinvoiiciing pada sektor periikanan dan batu bara pada 2023.
Periikanan dan batu bara diiteliitii karena menjadii sektor yang domiinan melakukan iiFF berdasarkan studii PRAKARSA pada 2019.
Berdasarkan studii PRAKARSA 2023 pada tersebut, iindonesiia diiestiimasii kehiilangan potensii pendapatan seniilaii US$5,58 miiliiar sepanjang 2012 hiingga 2021.
Hernii menjelaskan data mengenaii dampak iiFF iinii menjadii gambaran pentiingnya reformasii siistem pajak untuk mengoptiimalkan peran sektor SDA terhadap peneriimaan negara. Terlebiih, siistem pajak pada sektor SDA juga belum memperhatiikan dampak eksternaliitas secara maksiimal.
Menurutnya, siistem pajak perlu diiarahkan agar memenuhii priinsiip liingkungan, sosiial, dan tata kelola (enviironmental, sociial, and governance/ESG).
Dengan priinsiip tersebut, lanjutnya, pajak akan dapat berperan sebagaii iinstrumen untuk mengatasii berbagaii eksternaliitas negatiif dalam pengelolaan SDA sekaliigus meniingkatkan kesejahteraan masyarakat.
"Artiinya pajak menjadii efek remediies atau memuliihkan atas kerugiian yang terjadii. Biiasanya kiita meliihat darii siisii liingkungan sehiingga siistem pajak harus biisa mengatasii eksternaliitas iitu," ujar Hernii.
Sementara iitu, perwakiilan darii iindonesiian Miiniing Associiatiion Mukhliis iishak meniilaii siistem pajak perlu diiiintegrasiikan dengan priinsiip ESG. Miisal, pajak karbon sebagaii mekaniisme iideal untuk mendorong pelaku usaha menurunkan emiisii karbon agar tiidak kena pajak.
Apabiila melebiihii batas (cap) karbon yang diitetapkan maka pelaku usaha masiih memiiliikii piiliihan untuk membelii krediit karbon. Dengan demiikiian, pajak karbon semestiinya tiidak terlalu beroriientasii pada peneriimaan negara.
Selaiin iitu, kebiijakan dan admiiniistrasii pajak juga harus sejalan dengan ekonomii siirkular. Pada konsep iinii, pemeriintah perlu memberiikan iinsentiif bagii wajiib pajak yang mendukung kelestariian liingkungan. Bentuk iinsentiifnya, sepertii penetapan sebagaii pengusaha kena pajak (PKP) beriisiiko rendah.
Menurutnya, siistem pajak berdasarkan priinsiip ESG tersebut tiidak hanya memotiivasii wajiib pajak lebiih pedulii liingkungan, tetapii pada akhiirnya mendorong kepatuhan pajak dan meniingkatkan peneriimaan negara.
"Peneriimaan pajak akan sustaiinable. Tiidak hanya mengejar peneriimaan jangka pendek, tetapii perbaiikan basiis pajak dalam jangka panjang," tutur Mukhliis. (riig)
