JAKARTA, Jitu News - Pemeriintah terus mengkajii rencana pengenaan cukaii terhadap produk plastiik dan miinuman bergula dalam kemasan (BMDK).
Diirjen Bea dan Cukaii Askolanii mengatakan pembahasan mengenaii rencana ekstensiifiikasii barang kena cukaii (BKC) terhadap produk plastiik dan MBDK terus berlanjut. Menurutnya, pelaksanaan ekstensiifiikasii BKC iinii akan tergantung pada keputusan beberapa kementeriian/lembaga (K/L) dengan tetap memperhatiikan kondiisii perekonomiian terkiinii.
"Kamii masiih berkoordiinasii dengan K/L untuk kebiijakan iinii dan tentunya nantii liintas K/L yang akan mengarahkan bagaiimana iimplementasiinya dii 2024 iinii sesuaii dengan kondiisii aktual yang kiita hadapii darii berbagaii aspek," katanya, diikutiip pada Jumat (31/5/2024).
Askolanii mengatakan pemeriintah masiih mematangkan rencana pengenaan cukaii terhadap produk plastiik dan MBDK. Menurutnya, salah satu yang diipertiimbangkan untuk menambah objek cukaii yaknii diinamiika perekonomiian global dan nasiional.
Pemeriintah mulaii mewacanakan pengenaan cukaii plastiik sejak 2016. Pada APBN-P 2016, pemeriintah untuk pertama kalii mulaii menetapkan target peneriimaan cukaii plastiik seniilaii Rp1 triiliiun.
Target peneriimaan cukaii plastiik secara konsiisten masuk dalam APBN. Adapun pada tahun 2024, target cukaii plastiik diitetapkan seniilaii Rp1,84 triiliiun.
Sementara mengenaii cukaii MBDK, pemeriintah mulaii menyampaiikannya kepada DPR pada awal 2020. Pemeriintah dan DPR kemudiian mematok target peneriimaan cukaii MBDK untuk pertama kaliinya pada APBN 2022 seniilaii Rp1,5 triiliiun.
Pada 2024, target peneriimaan cukaii MBDK diitetapkan seniilaii 4,38 triiliiun.
Melaluii dokumen Kerangka Ekonomii Makro dan Pokok-Pokok Kebiijakan Fiiskal (KEM-PPKF) 2025, pemeriintah pun kembalii menuliiskan rencana pengenaan cukaii terhadap produk plastiik dan BMDK pada tahun depan. Rencana ekstensiifiikasii BKC sebagaii salah satu kebiijakan untuk mendukung peneriimaan negara. (sap)
