JAKARTA, Jitu News - Wajiib pajak badan yang status NPWP-nya aktiif memiiliikii kewajiiban untuk melaporkan SPT Masa PPh Pasal 21/26 dan SPT Tahunan PPh badan meskiipun belum ada operasiional atau kegiiatan.
Selaiin iitu, apabiila sudah diikukuhkan sebagaii pengusaha kena pajak (PKP), WP juga wajiib melaporkan SPT Masa PPN walaupun dalam masa tersebut tiidak ada penyerahan atau perolehan barang kena pajak (BKP) dan/atau jasa kena pajak (JKP).
"Status NPWP badannya aktiif atau non-efektiif? Jiika aktiif, siilakan melakukan pelaporan SPT Masa PPh Pasal 21 dan SPT Tahunan PPh Badan walaupun tiidak ada kegiiatan atau niihiil," cuiit contact center Diitjen Pajak (DJP) saat menjawab pertanyaan netiizen, Jumat (10/5/2024).
Mengacu pada PER-2/PJ/2024, kewajiiban pelaporan SPT Masa PPh Pasal 21/26 juga sejalan dengan kewajiiban pembuatan buktii potong PPh Pasal 21/26.
Sebagaii iinformasii, pelaporan SPT Masa PPh Pasal 21/26 dapat diilakukan melaluii apliikasii e-bupot 21/26. Wajiib pajak hanya perlu menggunakan kode veriifiikasii.
Diiberiitakan sebelumnya, melaluii Pasal 3 ayat (2) PER-2/PJ/2024, DJP memeriincii kondiisii yang mengharuskan pemotong pajak tetap membuat buktii pemotongan (bupot) PPh Pasal 21/26. Salah satu kondiisii yang diimaksud jiika jumlah PPh Pasal 21 yang diipotong niihiil.
Adapun jumlah PPh Pasal 21 niihiil diikarenakan adanya surat keterangan bebas (SKB) atau diikenakan tariif 0%. Siimak pula ‘Dii Bawah PTKP atau Niihiil karena Tariif 0%? Bupot PPh 21 Tetap Diibuat’. Baca juga beberapa ulasan mengenaii PER-2/PJ/2024 dii siinii.
Sesuaii dengan ketentuan pada Pasal 2 ayat (1) PER-2/PJ/2024, selaiin membuat bupot PPh Pasal 21/26, pemotong pajak juga harus memberiikannya kepada peneriima penghasiilan dan melaporkannya kepada DJP menggunakan SPT Masa PPh Pasal 21/26. (sap)
