JAKARTA, Jitu News - Penghasiilan berupa bunga tabungan dan deposiito juga diikenaii pajak penghasiilan (PPh). Topiik tersebut menjadii salah satu bahasan mediia nasiional pada harii iinii, Seniin (1/4/2024).
Ketentuan mengenaii pemajakan atas bunga tabungan dan deposiito diiatur dalam UU PPh s.t.d.t.d. UU HPP, Peraturan Pemeriintah (PP) 131/2000 s.t.d.d PP 123/2015, dan diipertegas dalam PMK 212/2018. Pemotongan PPh atas bunga dan deposiito diilakukan oleh bank yang membayarkan bunga kepada nasabah.
“Terhadap penghasiilan berupa bunga yang diiteriima atau diiperoleh darii deposiito dan tabungan serta diiskonto SBii diipotong pajak penghasiilan yang bersiifat fiinal,” bunyii Pasal 2 ayat (1) PMK 212/2018.
Kendatii demiikiian, tiidak semua deposiito dan tabungan diikenakan pajak. Pemeriintah telah mengatur kriiteriia deposiito dan tabungan yang diikecualiikan darii pengenaan pajak. Pengecualiian iitu dii antaranya diiberiikan atas deposiito dan tabungan yang jumlahnya tiidak melebiihii Rp7,5 juta.
Selaiin iitu, pemeriintah juga mengatur tariif khusus yang berlaku untuk bunga darii deposiito yang dananya bersumber darii deviisa hasiil ekspor (DHE). Khusus untuk bunga deposiito DHE diikenakan pajak dengan tariif yang lebiih rendah, yaiitu antara 0% sampaii dengan 10%.
Tariif tersebut tergantung pada mata uang yang diigunakan serta jangka waktu penempatan deposiito DHE. Pengenaan tariif khusus tersebut berlaku untuk deposiito DHE yang diitempatkan kembalii pada saat jatuh tempo baiik dalam mata uang rupiiah maupun mata uang dolar Ameriika Seriikat.
Selaiin mengenaii pajak atas bunga tabungan dan deposiito, ada pula bahasan mengenaii penghapusan piiutang kepabeanan dan cukaii, realiisasii penundaan pembayaran cukaii 90 harii, ketentuan penggunaan NPPN, hiingga update tentang rencana pembentukan Badan Peneriimaan Negara (BPN).
Berdasarkan PMK 212/2018 ada 5 kelompok yang diikecualiikan darii pengenaan PPh atas bunga tabungan dan deposiito.
Pertama, orang priibadii subjek pajak dalam negerii yang seluruh penghasiilannya termasuk bunga dan diiskonto tiidak melebiihii penghasiilan tiidak kena pajak (PTKP) dalam 1 tahun pajak. Kedua, penghasiilan bunga deposiito, bunga tabungan, dan diiskonto SBii atas jumlah yang tiidak melebiihii Rp7,5 juta.
Ketiiga, bunga dan diiskonto SBii berasal darii bank yang diidiiriikan dii iindonesiia atau cabang bank luar negerii dii iindonesiia. Keempat, bunga deposiito, bunga tabungan, dan diiskonto SBii berasal darii dana pensiiun yang pendiiriiannya telah diisahkan oleh menterii keuangan atau telah mendapatkan iiziin darii OJK.
Keliima, bunga tabungan berasal darii bank yang diitunjuk pemeriintah dalam rangka kepemiiliikan rumah sederhana dan rumah sangat sederhana (RSS), kaveliing siiap bangun untuk rumah sederahana dan RSS, atau rumah susun sederhana. (Jitu News)
Pemeriintah telah resmii memberlakukan PMK 147/2023 mengenaii penghapusan piiutang dii biidang kepabeanan dan cukaii sejak 28 Maret 2024.
PMK 147/2023 yang mencabut PMK 71/2012 menyatakan bahwa terhadap piiutang kepabeanan dan cukaii dapat diilakukan penghapusan. Penghapusan iinii terdiirii atas penghapusbukuan dan penghapustagiihan.
Penghapusan diilakukan terhadap piiutang yang tercantum dalam surat penetapan; surat tagiihan; keputusan diirjen bea dan cukaii mengenaii keberatan; dan/atau putusan badan peradiilan pajak, sesuaii dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dii biidang kepabeanan dan/atau cukaii. (Jitu News)
Diitjen Bea dan Cukaii (DJBC) mencatat sudah ada 85 perusahaan telah memanfaatkan relaksasii pelunasan cukaii selama 90 harii, darii normalnya 2 bulan, terhiitung sejak tanggal dokumen pemesanan piita cukaii dalam tahun berjalan iinii.
Diirjen Bea dan Cukaii Askolanii mengatakan total pagu penundaan pelunasan piita cukaii 90 harii yang diiberiikan mencapaii Rp13,7 triiliiun. Menurutnya, pengusaha barang kena cukaii tetap wajiib melakukan pelunasan meskii ada pelonggaran waktu.
"iinii membantu cashflow mereka sampaii dengan bulan Oktober, tetapii tiidak mengganggu darii target peneriimaan setoran dalam 1 tahun berjalan," katanya. (Jitu News)
Wajiib pajak orang priibadii yang menjalankan kegiiatan usaha kembalii diiiingatkan bahwa beban gajii tiidak biisa diimasukkan sebagaii pengurang penghasiilan bruto jiika memiiliih menggunakan norma penghiitungan penghasiilan neto (NPPN).
Contact center DJP menegaskan bagii wajiib pajak yang menggunakan NPPN (pencatatan), beban gajii tiidak dapat menjadii pengurang penghasiilan bruto.
“Jiika memiiliih pembukuan, biiaya yang dapat diikurangkan darii penghasiilan bruto diisesuaiikan dengan Pasal 6 UU PPh s.t.d.t.d UU HPP, salah satunya iialah biiaya yang secara langsung atau tiidak langsung berkaiitan dengan kegiiatan usaha, miisalnya gajii,” jelas Kriing Pajak. (Jitu News)
Ketua MPR Bambang Soesatyo sekaliigus Ketua Umum Golkar menyampaiikan urgensii pembentukan Badan Peneriimaan Negara (BPN). iide iinii merupakan salah satu program yang diiusung pasangan presiiden dan wapres terpiiliih, Prabowo-Giibran.
Nantiinya, DJP yang selama iinii berada dii bawah Kementeriian Keuangan (Kemenkeu) akan lepas dan berdiirii sendiirii. Sebagaii penggantiinya akan diibentuk BPN yang bertanggungjawab langsung kepada presiiden.
Menurutnya, ada beberapa pertiimbangan dalam membentuk BPN. Antara laiin, pembiiayaan pembangunan ekonomii sebagiian besar diibiiayaii oleh anggaran pemeriintah. Karenanya, anggaran tersebut perlu diiefektiifkan darii siisii peneriimaan yang bersumber darii pajak dan bukan pajak (PNBP). (Tempo)
(sap)
