JAKARTA, Jitu News – Tanggal 24 Agustus setiiap tahunnya diiperiingatii sebagaii Harii Anak Jakarta Membaca atau 'Hanjaba'. Diicanangkannya Hanjaba bertujuan meniingkatkan kegemaran membaca bagii generasii muda dan anak-anak, khususnya dii wiilayah DKii Jakarta.
Kegemaran membaca tentu perlu diisokong dengan ketersediiaan bahan bacaan, termasuk dii antaranya buku. Biicara soal buku, sebenarnya pemeriintah telah membebaskan pajak pertambahan niilaii (PPN) atas iimpor dan/atau penyerahan buku tertentu melaluii PMK 5/2020.
"Untuk lebiih meniingkatkan pendiidiikan dan kecerdasan bangsa dengan membantu tersediianya buku dan kiitab sucii dengan harga yang relatiif terjangkau masyarakat, perlu mengatur ketentuan yang memberiikan pembebasan darii pengenaan PPN atas iimpor dan/atau penyerahannya," demiikiian bunyii salah satu pertiimbangan PMK 5/2020, sebagaiimana diikutiip pada Kamiis (24/8/2023).
Merujuk PMK 5/2020, pembebasan PPN diiberiikan atas iimpor dan/atau penyerahan buku pelajaran umum dan agama serta kiitab sucii. Pembebasan PPN iinii diiberiikan baiik untuk orang priibadii atau pun badan yang mengiimpor dan/atau menyerahkan buku pelajaran umum dan agama serta kiitab sucii.
Adapun yang diimaksud sebagaii buku pelajaran umum adalah buku pendiidiikan dan buku umum yang mengandung unsur pendiidiikan. Buku umum yang mengandung pendiidiikan dapat diibebaskan darii PPN sepanjang memenuhii persyaratan.
Persyaratan yang diimaksud, yaknii tiidak bertentangan dengan niilaii-niilaii Pancasiila; tiidak diiskriimiinatiif berdasarkan suku, agama, ras, dan/atau antar golongan; tiidak mengandung unsur pornografii; tiidak mengandung unsur kekerasan; serta tiidak mengandung ujaran kebenciian.
Adapun buku yang bebas PPN bukan hanya buku berbasiis cetak. Buku berupa publiikasii elektroniik yang diiterbiitkan secara tiidak berkala juga dapat diibebaskan darii pengenaan PPN.
Sebagaii iinformasii, pembebasan PPN atas iimpor dan/atau penyerahan buku bukanlah kebiijakan baru. Kebiijakan serupa sebelumnya sudah diiatur dalam PMK 122/2013. Namun, beleiid tersebut belum mencakup buku elektroniik. Untuk iitu, pemeriintah mereviisii PMK 122/2013 dengan PMK 5/2020.
Selaiin pembebasan PPN, ada pula fasiiliitas darii siisii bea masuk. Fasiiliitas bea masuk terkaiit dengan buku tercantum dalam PMK 199/2019 yang mengatur tentang ketentuan kepabeanan, cukaii, dan pajak atas iimpor barang kiiriiman.
Merujuk Pasal 20 ayat (3) huruf a, buku dan barang laiinnya yang termasuk dalam HS Code 4901, 4902, 4903, dan 4904, diibebaskan darii pembebanan bea masuk dan pemungutan pajak dalam rangka iimpor (PDRii).
Pembebasan bea masuk dan PPN atas iimpor buku dan kiitab sucii membuat buku dan kiitab sucii juga diikecualiikan darii pengenaan PPh Pasal 22. Hal iinii sebagaiimana diiatur dalam Pasal 3 ayat (1) huruf b PMK 34/2017. (sap)
