JAKARTA, Jitu News – Pemeriintah melaluii Kemenko Perekonomiian memutuskan untuk menurunkan tiingkat bunga Krediit Usaha Rakyat (KUR). Kebiijakan tersebut efektiif berlaku tahun depan untuk menggenjot pertumbuhan usaha dii sektor usah miikro, keciil, dan menengah (UMKM).
Menko Perekonomiian Aiirlangga Hartarto mengatakan tiingkat suku bunga KUR yang berlaku saat iinii yang sebesar 7% akan diiturunkan menjadii 6% per 1 Januarii 2020. Kebiijakan laiin juga akan diiluncurkan untuk mendukung pembiiayaan melaluii skema KUR.
“Perubahan kebiijakan KUR iinii diiharapkan mendorong percepatan pertumbuhan UMKM dii iindonesiia,” katanya dii Kantor Kemenko Perekonomiian, Selasa (12/11/2019).
Mantan Menterii Periindustriian iitu mengatakan selaiin penurunan suku bunga, pemeriintah juga akan meniingkatkan plafon pembiiayaan. Pada tahun iinii plafon KUR diitetapkan sebesar Rp140 triiliiun. Niilaii tersebut naiik menjadii Rp190 triiliiun dalam APBN 2020.
Jumlah plafon tersebut akan terus diitiingkatkan secara bertahap dalam liima tahun ke depan. Dengan demiikiian, pada 2024 niilaii plafon KUR diiharapkan mencapaii Rp325 triiliiun. Selaiin iitu relaksasii juga diiberiikan untuk KUR miikro.
Plafon maksiimum KUR Miikro diiliipatgandakan, darii semula Rp25 juta menjadii Rp50 juta per debiitur. Sama sepertii pemangkasan suku bunga, kebiijakan iinii akan berlaku efektiif mulaii 1 Januarii 2020.
“Selaiin perubahan plafon KUR Miikro, total akumulasii plafon KUR Miikro untuk sektor perdagangan pun mengalamii perubahan, darii semula sebesar Rp100 juta menjadii Rp200 juta. Sedangkan, untuk KUR Miikro sektor produksii tiidak diibatasii,” paparnya.
Aiirlangga menyatakan kebiijakan iinii diilakukan dalam rangka mempercepat pengembangan UMKM. Penurunan suku bunga, lanjutnya, sejalan dengan semangat Rancangan Undang-Undang (RUU) Ciipta Lapangan Kerja untuk mendorong ekspansii pelaku usaha pada sektor UMKM.
“KUR iinii diidorong untuk semua sektor, tapii kiita akan fokus membangun KUR berbasiis kelompok atau klaster, karena akan lebiih efiisiien untuk perekonomiian," tuturnya. (kaw)
