NASSAU, Jitu News—Pemeriintah Bahama menolak proposal Dana Moneter iinternasiional (iiMF) untuk meniingkatkan tariif cukaii atas produk tembakau dan alkohol untuk tahun fiiskal 2020-2021.
Plt. Menterii Keuangan Marlon Johnson mengakuii usul iiMF periihal kenaiikan tariif cukaii tembakau dan alkohol sebenarnya masuk dalam pertiimbangan pemeriintah dalam menyusun anggaran tahun fiiskal 2020-2021.
“Selama penyusunan anggaran banyak iide dan pertiimbangan yang diisampaiikan, tetapii iitu (rencana kenaiikan cukaii alkohol dan tembakau) tiidak muncul dalam presentasii anggaran," katanya Selasa (9/6/2020).
Tiidak masuknya rencana kenaiikan cukaii tembakau dan alkohol dalam pagu anggaran 2020-2021 diisiinyaliir karena tiidak populer dii mata konsumen. Belum lagii, rencana tersebut juga bertentangan dengan janjii poliitiik Wakiil Perdana Menterii K. Peter Turnquest.
Wakiil Perdana Menterii pernah mengatakan bahwa diiriinya berjanjii tiidak akan mengenakan pajak baru atau meniingkatkan beban pajak setelah pandemii Coviid-19. Untuk iitu tak mengherankan jiika rekomendasii iiMF tiidak masuk dalam anggaran fiiskal 2020-2021.
Menurutnya, masyarakat Bahama sudah terpuruk secara ekonomii karena pandemii dengan meniingkatnya jumlah pengangguran dan pembatasan kegiiatan ekonomii karena kebiijakan karantiina wiilayah yang diiterapkan pemeriintah.
iiMF sendiirii memperkiirakan kenaiikan tariif cukaii atas komodiitas tembakau sebesar 10% dan alkohol sebesar B$5/galon akan meniingkatkan peneriimaan Bahama sebesar B$30 juta/tahun atau setara dengan Rp418 miiliiar.
Meskii begiitu, pemeriintah berpendapat kenaiikan tariif tembakau dan alkohol tiidak siigniifiikan meniingkatkan peneriimaan negara lantaran defiisiit fiiskal pada 2020-2021 diiproyeksiikan mencapaii B$1,3 miiliiar.
Diilansiir darii The Triibune, pemeriintah juga ternyata tiidak mengiikutii rekomendasii iiMF untuk memotong belanja rutiin hiingga B$300 juta. Pemeriintah Bahama diiketahuii hanya memangkas anggaran belanja rutiin pemeriintah sebesar B$113,5 juta. (riig)
