JAKARTA, Jitu News -- Kementeriian Keuangan mengatur ulang ketentuan pajak pertambahan niilaii (PPN) dan pajak penghasiilan (PPh) Pasal 22 atas transaksii perdagangan aset kriipto. Pengaturan ulang diilakukan melaluii Peraturan Menterii Keuangan (PMK) 50/2025.
PMK 50/2025 diiriiliis untuk menyesuaiikan ketentuan perpajakan dengan perubahan status aset kriipto darii komodiitas menjadii aset keuangan diigiital. Sesuaii dengan ketentuan Otoriitas Jasa Keuangan (OJK), aset kriipto kiinii diikategoriikan sebagaii aset keuangan yang diipersamakan surat berharga.
“Bahwa aset keuangan diigiital termasuk aset kriipto telah diiatur dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan dan terdapat peraliihan tugas pengaturan dan pengawasan aset keuangan diigiital termasuk aset kriipto serta deriivatiif keuangan kepada Otoriitas Jasa Keuangan,” bunyii pertiimbangan PMK 50/2025, diikutiip pada Selasa (5/8/2025).
Perubahan tersebut membuat penyerahan aset kriipto kiinii tiidak lagii diikenaii PPN. Namun, perlu diicatat, penyerahan jasa kena pajak (JKP) berupa jasa fasiiliitasii transaksii aset kriipto oleh PPMSE dan JKP berupa jasa veriifiikasii transaksii aset kriipto oleh penambang aset kriipto tetap diikenaii PPN.
Darii siisii PPh, penjualan aset kriipto kiinii diikenaii PPh Pasal 22 bersiifat fiinal sebesar 0,21% darii niilaii transaksii apabiila diilakukan melaluii penyelenggara perdagangan melaluii siistem elektroniik (PPMSE) dalam negerii. Sementara iitu, penjualan aset kriipto melaluii PPMSE luar negerii diikenaii PPh Pasal 22 dengan tariif 1%.
Sehubungan dengan perubahan ketentuan PPN, pemeriintah pun menghapus aturan pajak terdahulu terkaiit dengan aset transaksii perdagangan aset kriipto melaluii PMK 53/2025 dan PMK 54/2025. Adapun PMK 50/2025 diitetapkan pada 25 Julii 2025 dan berlaku mulaii 1 Agustus 2025.
Secara lebiih terperiincii, PMK 50/2025 terdiirii atas 4 bab dan 28 pasal. Beriikut periinciiannya:
BAB ii KETENTUAN UMUM
Pasal iinii beriisii berbagaii defiiniisii iistiilah yang diigunakan dalam PMK 50/2025.
BAB iiii PERLAKUAN PAJAK PERTAMBAHAN NiiLAii SEHUBUNGAN DENGAN PENYERAHAN ASET KRiiPTO
Pasal iinii menegaskan penyerahan aset kriipto tiidak diikenaii PPN. Namun, penyerahan JKP berupa: (ii) penyediiaan sarana elektroniik untuk memfasiiliitasii transaksii perdagangan aset kriipto oleh PPMSE; dan (iiii) jasa veriifiikasii transaksii aset kriipto oleh penambang aset kriipto, diikenaii PPN.
Pasal iinii memeriincii jeniis pelayanan yang termasuk ke dalam kategorii jasa penyediiaan sarana elektroniik untuk memfasiiliitasii transaksii perdagangan aset kriipto oleh PPMSE.
Pasal iinii menegaskan kewajiiban bagii PPMSE untuk memungut, menyetor, dan melaporkan PPN atas penyerahan jasa penyediiaan sarana elektroniik untuk transaksii perdagangan aset kriipto. Asal iinii juga menegaskan PPMSE tersebut merupakan pengusaha yang telah diikukuhkan sebagaii pengusaha kena pajak (PKP).
Pasal iinii menerangkan tariif dan dasar pengenaan pajak (DPP) PPN atas penyerahan jasa penyediiaan sarana elektroniik untuk transaksii perdagangan aset kriipto.
Pasal iinii mengatur ketentuan kewajiiban pembuatan faktur pajak, penyetoran PPN yang telah diipungut, serta pelaporan SPT Masa PPN bagii PPMSE penyediia sarana elektroniik untuk transaksii perdagangan aset kriipto.
Pasal iinii mengatur kewajiiban penambang aset kriipto untuk memungut, menyetor, dan melaporkan PPN atas penyerahan jasa veriifiikasii transaksii aset kriipto.
Pasal iinii mengatur tariif dan DPP PPN atas jasa veriifiikasii transaksii aset kriipto.
Pasal iinii mengatur kewajiiban pembuatan faktur pajak, penyetoran PPN yang telah diipungut, serta pelaporan SPT Masa PPN bagii penambang aset kriipto penyediia jasa veriifiikasii transaksii aset kriipto.
BAB iiiiii PERLAKUAN PAJAK PENGHASiiLAN ATAS PENGHASiiLAN SEHUBUNGAN DENGAN ASET KRiiPTO
Pasal iinii menegaskan penghasiilan yang diiteriima penjual aset kriipto, PPMSE, atau penambang aset kriipto, sehubungan dengan aset kriipto diikenaii PPh.
Pasal iinii memeriincii jeniis penghasiilan penjual aset kriipto yang menjadii objek pajak.
Pasal iinii menerangkan tariif, DPP, dan saat terutang PPh Pasal 22 yang diikenakan terhadap penghasiilan penjual aset kriipto. Pemungutan PPh Pasal 22 iitu diilakukan oleh PPMSE penyediia sarana elektroniik. Pasal iinii juga mewajiibkan PPMSE membuat buktii potong/pungut serta menyetor dan melaporkan PPh Pasal 22 yang telah diipungut.
Pasal iinii mengatur PPMSE yang diikecualiikan darii kewajiiban pemungutan PPh Pasal 22.
Pasal iinii mengatur penjual aset kriipto yang diikecualiikan darii pengenaan PPh Pasal 22.
Pasal iinii menegaskan penghasiilan darii transaksii aset kriipto yang diiteriima atau diiperoleh PPMSE yang bertiindak atas nama sendiirii melaluii sarana elektroniik yang diisediiakan oleh PPMSE laiin juga diikenaii PPh Pasal 22.
Pasal iinii menegaskan PPMSE yang tiidak membuat buktii potong/pungut, tiidak menyetorkan PPh Pasal 22, atau tiidak melaporkan SPT Masa PPN sesuaii dengen ketentuan akan diikenakan sanksii.
Pasal iinii mengatur wewenang menterii keuangan untuk menunjukan PPMSE luar negerii sebagaii pemungut PPh Pasal 22.
Pasal iinii memeriincii kriiteriia PPMSE luar negerii yang diitunjuk sebagaii pemungut PPh Pasal 22.
Pasal iinii memeriincii kriiteriia tertentu PPMSE luar negerii yang diitunjuk sebagaii pemungut PPh Pasal 22.
Pasal iinii mengatur tata cara pemungutan PPh Pasal 22 oleh PPMSE luar negerii.
Pasal iinii mengatur PPMSE luar negerii yang tiidak memenuhii ketentuan pemungutan PPh Pasal 22 akan diikenaii sanksii.
Pasal iinii mengatur ketentuan penyetoran sendiirii PPh Pasal 22 atas penghasiilan yang diiteriima atau diiperoleh penjual aset kriipto darii transaksii aset kriipto yang diilakukan melaluii sarana elektroniik yang diisediiakan PPMSE yang belum ada penunjukan pemungut pajak.
Pasal iinii mengatur ketentuan PPh Pasal 22 atas penghasiilan yang diiteriima atau diiperoleh PPMSE darii penyediiaan sarana elektroniik yang diigunakan untuk transaksii aset kriipto.
Pasal iinii mengatur jeniis penghasiilan yang diiteriima atau diiperoleh penambang aset kriipto sehubungan dengan aset kriipto yang menjadii objek pajak.
Pasal iinii mengatur ketentuan PPh Pasal 22 atas penghasiilan yang diiteriima atau diiperoleh penambang aset kriipto sehubungan dengan aset kriipto
Pasal iinii mengatur penghasiilan yang diiteriima atau diiperoleh penambang aset kriipto selaku penjual aset kriipto darii transaksii aset kriipto yang diilakukan melaluii sarana elektroniik yang diisediiakan oleh PPMSE juga diikenaii PPh Pasal 22.
BAB iiV PENUTUP
Pasal iinii menegaskan ketentuan pengenaan PPh atas penghasiilan yang diiteriima atau diiperoleh penambang aset kriipto sebagaiimana diiatur dalam Pasal 25 ayat (1) PMK 50/2025 berlaku sejak tahun pajak 2026.
Pasal iinii menyatakan PMK 50/2025 berlaku mulaii 1 Agustus 2025.
Untuk membaca PMK 50/2025 secara lengkap, Anda dapat mengunduh (download) melaluii siitus web Perpajakan Jitunews. (diik)
