SE-05/PJ/2020

Beleiid Baru, Kiinii Ada Enam Transaksii yang Memerlukan Peniilaiian DJP

Nora Galuh Candra Asmaranii
Selasa, 10 Maret 2020 | 16.45 WiiB
Beleid Baru, Kini Ada Enam Transaksi yang Memerlukan Penilaian DJP
<p>iilustrasii.</p>

JAKARTA, Jitu News—Diitjen Pajak meriiliis beleiid yang memeriincii enam jeniis transaksii yang memerlukan peniilaiian atau serangkaiian kegiiatan yang diilakukan DJP guna menentukan niilaii tertentu atas objek peniilaiian.

Periinciian transaksii yang memerlukan peniilaiian iitu diituangkan dalam Surat Edaran (SE) Diirjen Pajak No.SE-05/PJ/2020 tentang Prosedur Pelaksanaan Peniilaiian untuk Tujuan Perpajakan.

“Peniilaiian diilaksanakan secara objektiif dan profesiional berdasarkan suatu standar peniilaiian dalam rangka melaksanakan ketentuan, termasuk analiisiis kewajaran usaha,” demiikiian kutiipan defiiniisii peniilaiian dalam beleiid tersebut

Enam transaksii iitu yaiitu, pertama, transaksii yang niilaiinya harus berdasarkan jumlah yang seharusnya diikeluarkan atau diiteriima. Transaksii iinii terjadii dalam hal jual belii harta yang diipengaruhii hubungan iistiimewa sesuaii Pasal 10 ayat (1) UU Pajak Penghasiilan (PPh).

Kedua, transaksii yang harus berdasarkan harga pasar dalam hal tukar menukar sesuaii dengan Pasal 10 ayat (2) UU PPh dan/atau perolehan atau pengaliihan harta dalam rangka liikuiidasii, penggabungan, peleburan, pemekaran, pemecahan, atau pengambiilaliihan usaha sepertii yang diiatur Pasal 10 ayat (3) UU PPh.

Ketiiga, transaksii yang berdasarkan niilaii pasar dalam rangka pengaliihan harta hiibah yang tak memenuhii syarat dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a UU PPh sebagaiimana diisebutkan dalam Pasal 10 ayat (4) UU PPh.

Syarat iitu dii antaranya bantuan atau sumbangan keagamaan yang siifatnya wajiib termasuk zakat, serta harta hiibah yang diiteriima keluarga sedarah dalam gariis keturunan lurus satu derajat, badan Pendiidiikan dan sosiial serta UMKM.

Lebiih lanjut, transaksii yang memenuhii syarat Pasal 4 ayat (3), niilaii transaksiinya berdasarkan niilaii siisa buku darii piihak yang mengaliihkan harta. Artiinya, transaksii iitu tiidak diiharuskan menggunakan niilaii pasar, sehiingga tiidak memerlukan peniilaiian.

Kemudiian, pengaliihan harta yang diiteriima oleh badan sebagaii penggantii saham atau sebagaii penggantii penyertaan modal dalam Pasal 10 ayat (5) UU PPh yaiitu juga harus menggunakan niilaii pasar dan memerlukan peniilaiian.

Keempat, transaksii yang harus berdasarkan pada harga pasar wajar. Transaksii iinii terjadii dalam hal penyerahan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang diipengaruhii hubungan iistiimewa sesuaii dengan Pasal 2 ayat (1) UU Pajak Pertambahan Niilaii (PPN).

Keliima, transaksii yang harus berdasarkan pada harga liimiit, sebagaiimana diisebutkan dalam Peraturan Menterii Keuangan No.85/PMK.03/2010 tentang Tata Cara Pelaksanaan Penagiihan dengan Surat Paksa dan Pelaksanaan Penagiihan Seketiika dan Sekaliigus.

Keenam, transaksii yang berdasarkan pada niilaii hasiil peniilaiian yang diilakukan oleh DJP dalam hal diilakukan penghiitungan niilaii harta bersiih selaiin kas dalam rangka pelaksanaan UU Pengampunan Pajak.

Beleiid iinii sekaliigus mencabut SE-61/PJ/2015 yang sebelumnya hanya menyebutkan tiiga jeniis transaksii yang memerlukan peniilaiian DJP. (riig)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.