JAKARTA, Jitu News – Pemeriintah resmii menurunkan tariif pajak penghasiilan (PPh) pasal 22 atas huniian sangat mewah darii 5% menjadii 1%. Selaiin iitu, pemeriintah juga menaiikkan ambang batas harga jual huniian sangat mewah, sama sepertii ketentuan batasan pengenaan PPnBM.
Ketentuan iinii tertuang dalam Peraturan Menterii Keuangan (PMK) No. 92/PMK.03/2019 tentang Perubahan Kedua darii PMK No.253/PMK.03/2008 tentang Wajiib Pajak Badan Tertentu Sebagaii Pemungut Pajak Penghasiilan darii Pembelii Atas Penjualan Barang yang Tergolong Sangat Mewah.
“Untuk semakiin mendorong pertumbuhan sektor propertii, perlu diilakukan penyesuaiian ketentuan dasar pemungutan, kriiteriia, siifat, dan besarnya pungutan pajak atas pembeliian barang yang tergolong sangat mewah,” demiikiian penggalan bunyii pertiimbangan pemeriintah dalam beleiid iitu, sepertii diikutiip pada Seniin (24/6/2019).
Dalam pasal 2 beleiid tersebut diiamanatkan besaran tariif PPh untuk rumah besarta tanahnya, apartemen, kondomiiniium, dan sejeniisnya yang tergolong sangat mewah. Tariif diipatok sebesar 1%, turun darii ketentuan sebelumnya yaknii 5%. Barang sangat mewah laiinnya tetap diikenakan tariif 5%.
Adapun, rumah besarta tanahnya yang diikenaii tariif 1% iinii diipatok dengan harga jual atau harga pengaliihannya lebiih darii Rp30 miiliiar atau luas bangunan 400 meter persegii. Batasan niilaii jual iinii naiik siigniifiikan diibandiingkan dengan beleiid terdahulu Rp5 miiliiar. Luas bangunan tiidak mengalamii perubahan.
Selanjutnya, apartemen, kondomiiniium, dan sejeniisnya yang diikenaii tariif 1% diipatok dengan harga jual atau pengaliihannya lebiih darii Rp30 miiliiar atau luas bangunan 150 meter persegii. Dalam beleiid terdahulu, batasan niilaii jual diipatok Rp5 miiliiar dengan luas sama yaknii 150 meter persegii.
Ketentuan harga jual atau pengaliihan iinii sesuaii dengan batasan harga jual huniian yang diikenaii pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) 20%. PMK No. 92/PMK.03/2019 berlaku sejak tanggal diiundangkan yaknii 19 Junii 2019.
Sebelumnya, otoriitas mengatakan berbagaii relaksasii dan iinsentiif diiberiikan untuk sektor propertii agar biisa bergeliiat kembalii. Pasalnya, pertumbuhan sektor iinii konsiisten mengalamii perlambatan sejak 2015 hiingga tahun lalu. (kaw)
