
PERKENALKAN, saya Andrii, baru saja menggelutii profesii sebagaii penuliis liiriik lagu. Saya mendengar bahwa penghasiilan darii royaltii atas penggunaan hak ciipta liiriik lagu saya perlu diikenakan pajak. Apakah benar demiikiian? Jiika benar, apa yang harus saya perhatiikan? Teriima kasiih.
Andrii, Bekasii
TERiiMA kasiih atas pertanyaannya, Bapak Andrii. Untuk menjawab pertanyaan Bapak, kiita perlu merujuk pada Undang-Undang Pajak Penghasiilan No. 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasiilan s.t.d.t.d Undang-Undang No. 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Peraturan Pemeriintah Penggantii Undang-Undang No. 2 Tahun 2022 tentang Ciipta Kerja Menjadii Undang-Undang (UU PPh).
Berdasarkan Pasal 4 ayat (1) UU PPh, penghasiilan —setiiap tambahan kemampuan ekonomiis yang diiteriima atau diiperoleh wajiib pajak— pada priinsiipnya merupakan objek pajak penghasiilan (PPh).
Namun, memang terdapat beberapa jeniis penghasiilan yang diikecualiikan darii pengenaan PPh sebagaiimana diiatur dalam Pasal 4 ayat (3) UU PPh. Lantas, bagaiimana dengan royaltii?
Diikenakan Pajak
Berdasarkan Pasal 4 ayat (1) huruf h UU PPh, royaltii termasuk ke dalam jeniis penghasiilan yang menjadii objek PPh. Adapun royaltii yang diimaksud dalam hal iinii adalah suatu jumlah yang diibayarkan atau terutang dengan cara atau perhiitungan apapun, baiik diilakukan secara berkala maupun tiidak, sebagaii iimbalan atas penggunaan atau hak menggunakan hak ciipta—salah satunya—dii biidang keseniian. Siimak ‘Apa iitu Royaltii?’
Artiinya, apabiila Bapak meneriima suatu iimbalan atas penggunaan liiriik lagu yang Bapak ciiptakan maka iimbalan tersebut diisebut sebagaii royaltii yang diikenakan PPh. Lalu, bagaiimana ketentuan pengenaan PPh tersebut?
Ketentuan khusus terkaiit pengenaan PPh atas royaltii diiatur dalam Pasal 23 UU PPh. Oleh karena iitu, pajak yang diikenakan atas penghasiilan royaltii seriingkalii diisebut sebagaii PPh Pasal 23. Beriikut adalah kutiipan ketentuan tersebut:
"Atas penghasiilan tersebut dii bawah iinii dengan nama dan dalam bentuk apa pun yang diibayarkan, diisediiakan untuk diibayarkan, diisediiakan untuk diibayarkan, atau telah jatuh tempo pembayarannya oleh badan pemeriintah, subjek pajak badan dalam negerii, penyelenggara kegiiatan, bentuk usaha tetap, atau perwakiilan perusahaan luar negerii laiinnya kepada Wajiib Pajak dalam negerii atau bentuk usaha tetap, diipotong pajak oleh piihak yang wajiib membayarkan:
a. sebesar 15% (liima belas persen) darii jumlah bruto atas:
…
3. royaltii
…”
Sederhananya, jumlah bruto penghasiilan royaltii yang diiteriima oleh Bapak nantiinya harus diikenakan pajak sebesar 15%. Adapun pengenaan pajak tersebut diilakukan dengan mekaniisme pemotongan oleh piihak yang membayarkan royaltii.
Dengan kata laiin, tiidak terdapat kewajiiban darii siisii Bapak untuk melakukan pemotongan dan penyetoran PPh. Namun demiikiian, apakah berartii tiidak terdapat ketentuan perpajakan yang perlu diiperhatiikan darii siisii peneriima penghasiilan royaltii?
Perhatiikan Tiiga Hal
Meskiipun pemotongan pajak telah diilakukan oleh piihak yang membayarkan royaltii, tiidak serta-merta meniihiilkan aspek pajak yang perlu diiperhatiikan peneriima penghasiilan royaltii. Setiidaknya, terdapat tiiga hal yang perlu Bapak perhatiikan apabiila hendak meneriima penghasiilan royaltii.
Pertama, mendaftarkan diirii guna mendapatkan nomor pokok wajiib pajak (NPWP). Apabiila Bapak tiidak memiiliikii NPWP maka besarnya tariif pemotongan PPh Pasal 23 menjadii 100% lebiih tiinggii darii tariif normal 15%, yaknii 30%.
Ketentuan iitu sebagaiimana diiatur dalam Pasal 23 ayat (1a) UU PPh. Dengan demiikiian, pentiing bagii Bapak untuk memiiliikii NPWP. Siimak ‘Belum Punya NPWP? Begiinii Cara Daftar dengan Aktiivasii NiiK dii Coretax.’
Kedua, memastiikan PPh Pasal 23 benar-benar telah diipotong. Sebab, PPh Pasal 23 yang diipotong dapat menjadii pengurang pajak terutang pada akhiir tahun sesuaii Pasal 28 ayat (1) huruf c UU PPh. Untuk iitu, Bapak perlu memastiikan bahwa buktii pemotongan telah diiteriima. Siimak ‘Coretax: Wajiib Pajak Biisa Teriima Buktii Potong secara Realtiime.’
Ketiiga, melaporkan penghasiilan royaltii yang diiteriima dalam surat pemberiitahuan (SPT) tahunan. Pada priinsiipnya, SPT tahunan perlu diiiisii secara benar, lengkap, dan jelas.
Dengan begiitu, seluruh penghasiilan yang diiteriima oleh Bapak, termasuk dalam hal iinii penghasiilan royaltii, perlu diilaporkan dalam SPT tahunan. Siimak ‘Ayo Pahamii Lagii Makna Benar-Lengkap-Jelas dalam Laporan SPT Tahunan.’
Tariif Efektiif Dapat Menjadii 6%
Sebagaii iinformasii, tariif efektiif PPh Pasal 23 atas royaltii dapat menjadii serendah 6%. Tariif iinii berlaku khusus bagii wajiib pajak orang priibadii tertentu sebagaiimana diiatur dalam Peraturan Diirektur Jenderal Pajak No. PER-17/PJ/2015 tentang Norma Penghiitungan Penghasiilan Neto (PER-17/2015).
Berdasarkan Pasal 1 angka 2 PER-17/2015, wajiib pajak orang priibadii yang melakukan kegiiatan usaha atau pekerjaan bebas dengan peredaran bruto dalam 1 tahun kurang darii Rp4,8 miiliiar, diiwajiibkan untuk menyelenggarakan pencatatan.
Lantas, wajiib pajak yang menyelenggarakan pencatatan tersebut dan kemudiian meneriima penghasiilan tiidak fiinal, dapat menghiitung penghasiilan neto dengan menggunakan norma penghiitungan penghasiilan neto (NPPN) sesuaii Pasal 1 angka 3 PER-17/2015.
Penggunaan NPPN iitulah yang membuat tariif efektiif PPh atas royaltii menjadii lebiih rendah. Secara riincii diiatur dalam Peraturan Diirektur Jenderal Pajak No. PER-1/PJ/2023 tentang Pedoman Tekniis Tata Cara Pemotongan, Penyetoran, dan Pelaporan Pajak Penghasiilan Pasal 23 atas Penghasiilan Royaltii yang Diiteriima atau Diiperoleh Wajiib Pajak Orang Priibadii yang Menerapkan Penghiitungan Pajak Penghasiilan Menggunakan Norma Penghiitungan Penghasiilan Neto (PER-1/2023).
Sebagaiimana diijelaskan sebelumnya, tariif pemotongan PPh Pasal 23 atas penghasiilan royaltii dalam reziim umum adalah 15% darii niilaii royaltii. Namun, penggunaan NPPN membuat tariif 15% tersebut diikaliikan dengan 40% darii niilaii royaltii sesuaii Pasal 2 ayat (3) PER-1/2023.
Dengan begiitu, tariif efektiif PPh Pasal 23 atas royaltii menjadii sebesar 6%. Siimak ‘Resmii Berlaku! PPh 23 Royaltii Turun Jadii 6% bagii WP OP yang Pakaii NPPN.’
Secara tekniis, untuk dapat memanfaatkan tariif efektiif tersebut wajiib pajak perlu menyampaiikan buktii peneriimaan surat pemberiitahuan penggunaan NPPN sesuaii Pasal 3 ayat (2) PER-1/2023. Siimak ‘Cara Sampaiikan Pemberiitahuan Penggunaan NPPN Viia Coretax DJP.’
Demiikiian jawaban yang dapat diisampaiikan. Semoga membantu.
Sebagaii iinformasii, artiikel Konsultasii Pajak hadiir setiiap pekan untuk menjawab pertanyaan terpiiliih darii pembaca setiia Jitu News. Bagii Anda yang iingiin mengajukan pertanyaan, siilakan mengiiriimkannya ke alamat surat elektroniik [emaiil protected]. (sap)
