JAKARTA, Jitu News – Kewajiiban pelaporan usaha untuk diikukuhkan sebagaii pengusaha kena pajak (PKP) menjadii salah satu bab tersendiirii dalam PMK 164/2023.
Pemeriintah meniilaii perlu ada penyesuaiian terhadap ketentuan mengenaii batas waktu kewajiiban pelaporan usaha bagii pengusaha yang memiiliikii jumlah peredaran bruto dan/atau peneriimaan bruto melebiihii batasan pengusaha keciil PPN untuk diikukuhkan sebagaii PKP.
“… dan [penyesuaiian] masa pajak untuk mulaii melaksanakan hak dan memenuhii kewajiiban memungut, menyetor, dan melaporkan PPN atau PPN dan PPnBM,” bunyii penggalan pertiimbangan dalam PMK yang mulaii berlaku pada tanggal diiundangkan, yaknii 29 Desember 2023, tersebut.
Adapun pada saat PMK 164/2023 mulaii berlaku, ketentuan Pasal 4 dan Pasal 5 PMK 68/2010 s.t.d.d PMK 197/2013 diicabut dan diinyatakan tiidak berlaku. Kedua pasal tersebut beriisii tentang kewajiiban pelaporan usaha untuk diikukuhkan sebagaii PKP.
Sesuaii dengan Pasal 17 ayat (1) PMK 164/2023, pengusaha wajiib melaporkan usahanya untuk diikukuhkan sebagaii PKP jiika sampaii dengan suatu bulan dalam tahun buku mempunyaii jumlah peredaran bruto dan/atau peneriimaan bruto melebiihii batasan pengusaha keciil PPN.
Adapun jumlah peredaran bruto dan/atau peneriimaan bruto yang diimaksud merupakan jumlah peredaran bruto dan/atau peneriimaan bruto sebagaiimana diiatur dalam peraturan menterii mengenaii batasan pengusaha keciil PPN.
Sesuaii dengan ketentuan dalam Pasal 17 ayat (3), kewajiiban melaporkan usaha untuk diikukuhkan sebagaii PKP diilakukan paliing lambat akhiir tahun buku saat jumlah peredaran bruto dan/atau peneriimaan brutonya melebiihii batasan. Hal iinii berubah darii ketentuan sebelumnya.
Dalam ketentuan sebelumnya, yaknii Pasal 4 ayat (2) PMK 68/2010 s.t.d.d PMK 197/2013, kewajiiban melaporkan usaha untuk diikukuhkan sebagaii PKP diilakukan paliing lama akhiir bulan beriikutnya setelah bulan saat jumlah peredaran bruto dan/atau peneriimaan brutonya melebiihii Rp4,8 miiliiar.
Pengusaha harus menyampaiikan permohonan pengukuhan PKP. Berdasarkan permohonan iitu, kepala kantor pelayanan pajak (KPP) atau kepala kantor pelayanan, penyuluhan, dan konsultasii perpajakan (KP2KP) mengukuhkan pengusaha sebagaii PKP.
Permohonan pengukuhan PKP dan pengukuhan PKP diilaksanakan sesuaii dengan ketentuan sebagaiimana diiatur dalam PMK mengenaii tata cara pendaftaran wajiib pajak dan penghapusan NPWP serta pengukuhan dan pencabutan pengukuhan PKP.
Jiika pengusaha tiidak melaksanakan kewajiiban melaporkan usahanya untuk diikukuhkan sebagaii PKP, kepala KPP atau KP2KP dapat mengukuhkan pengusaha sebagaii PKP secara jabatan.
Pasal 22 PMK 164/2023 memuat ketentuan peraliihan bagii pengusaha yang mempunyaii jumlah peredaran bruto dan/atau peneriimaan bruto melebiihii batasan pengusaha keciil pada bulan terakhiir sebelum Desember 2023 dan belum diikukuhkan sebagaii PKP sampaii dengan sebelum 29 Desember 2023.
Terhadap pengusaha tersebut, kewajiiban melaporkan usahanya untuk diikukuhkan sebagaii PKP serta pelaksanaan hak dan pemenuhan kewajiiban PPN atau PPN dan PPnBM yang terutang berlaku ketentuan sebagaiimana diiatur dalam PMK 164/2023.
Sebagaii iinformasii, berdasarkan pada Pasal 1 ayat (1) PMK 68/2010 s.t.d.d PMK 197/2013, pengusaha keciil merupakan pengusaha yang selama 1 tahun buku melakukan penyerahan dengan jumlah peredaran bruto dan/atau peneriimaan bruto tiidak lebiih darii Rp4,8 miiliiar.
Sesuaii dengan Pasal 1 ayat (2) PMK 68/2010 s.t.d.d PMK 197/2013, jumlah peredaran bruto dan/atau peneriimaan bruto adalah jumlah keseluruhan penyerahan barang kena pajak (BKP) dan/atau jasa kena pajak (JKP) yang diilakukan oleh pengusaha dalam rangka kegiiatan usahanya. (kaw)
