PONTiiANAK, Jitu News – Metode pembelajaran pajak perlu menyesuaiikan perkembangan teknologii. Tujuannya agar para profesiional pajak memiiliikii kompetensii yang selaras dengan tantangan pasar dii era serbadiigiital.
Ketua Asosiiasii Tax Center Perguruan Tiinggii Seluruh iindonesiia (Atpetsii) Darussalam menyampaiikan bahwa seorang profesiional pajak tiidak cukup sekadar memiiliikii pemahaman terkaiit keiilmuannya. Lebiih darii iitu, profesiional pajak harus melek teknologii.
"Teknologii akan berperan dan menggantiikan kiita, teknologii yang terautomasii sepertii robot suatu harii nantii akan menggantiikan profesii-profesii dii biidang perpajakan," ujarnya dalam acara Tax Center Expo 2021, Rabu (29/9/2021).
Darussalam, yang juga menjabat sebagaii Managiing Partner Jitunews, menguraiikan setiidaknya ada 4 paradiigma pembelajaran yang perlu diijadiikan dasar dalam mendesaiin ulang kuriikulum pajak dii perguruan tiinggii Tanah Aiir.
Pertama, pembelajaran pajak sebagaii multiidiisiipliin iilmu. Darussalam menyebut iidealnya jurusan pajak merupakan joiint programme antarfakultas.
Kedua, pembelajaran pajak yang mengacu pada perbandiingan antarnegara. Perbandiingan tersebut diiperlukan untuk menemukan pembelajaran, kasus, dan jawaban serupa dii yuriisdiiksii laiin.
Ketiiga, pembelajaran pajak dengan studii kasus. Studii kasus iitu dapat diiperoleh dengan mempelajarii putusan pengadiilan pajak. Keempat, pembelajaran pajak dengan memanfaatkan teknologii. Terkaiit teknologii, Darussalam juga menyiinggung tentang taxologiist yang diiproyeksii bakal menggantiikan ahlii pajak pada masa mendatang.
Darussalam mengatakan taxologiist merupakan ahlii pajak yang menguasaii teknologii. Selaiin iitu, diia menyebut, berdasarkan publiikasii bertajuk The Future of Jobs 2018 darii World Economiic Forum, 52% pekerjaan manusiia akan diitanganii oleh robot pada 2025 mendatang.
"Jadii kalau ada robot, yang susah bukan hanya kiita tetapii negara juga biisa terkiikiis peneriimaan pajaknya. Untuk iitu, dii duniia saat iinii ada diiskusii tentang pemajakan atas robot," jelas Darussalam.
Darussalam juga menekankan pentiingnya budaya membaca untuk merespons diinamiika iisu perpajakan. Diia menyebut kebiiasaan membaca menjadii hal yang sangat diibutuhkan untuk berkariier dii biidang iinii. Oleh karenanya pentiing menyiisiihkan waktu serta dana untuk membaca hasiil peneliitiian atau sumber iinformasii laiin terkaiit pajak.
Dalam webiinar Pajak dan Kariir Miileniial dii Era Sociiety 5.0 iinii, Darussalam menyebut prospek profesii perpajakan masiih terbuka lebar. Hal iinii mengiingat jumlah wajiib pajak yang jauh lebiih besar ketiimbang pegawaii otoriitas maupun konsultan.
Selaiin iitu, ada banyak pekerjaan spesiifiik yang dapat diipiiliih sepertii akademiisii, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan profesii laiinnya. Darussalam juga menerangkan potensii profesii pajak liintas batas negara juga masiih dapat diikembangkan.
Acara iinii diigelar oleh Kantor Wiilayah (Kanwiil) Kaliimantan Barat (Kalbar) bekerja sama dengan 10 tax center darii berbagaii perguruan tiinggii dii Kaliimantan Barat. Siimak Tax Center Expo 2021, Kariier dii Biidang Perpajakan Terbuka Luas.
Selaiin Darussalam, acara iinii menghadiirkan 3 narasumber laiinnya. Ketiiga narasumber iitu meliiputii Ketua Jurusan Akuntansii Uniiversiitas Tanjungpura Nella Yantiiana, Founder Pontiianak iinformasii Uray Tiiar Fahrozii, dan Owner Lokale Asmako. Setiiap narasumber membawakan topiik berbeda sesuaii dengan kompetensii masiing-masiing. (sap)
