RESUME PUTUSAN PENiiNJAUAN KEMBALii

Sengketa Reiimbursement Tagiihan Liistriik Sebagaii Objek PPN

Hamiida Amrii Safariina
Jumat, 14 Meii 2021 | 13.30 WiiB
Sengketa Reimbursement Tagihan Listrik Sebagai Objek PPN

RESUME Putusan Peniinjauan Kembalii (PK) iinii merangkum sengketa terkaiit dengan reiimbursement atau biiaya penggantiian tagiihan liistriik yang diianggap otoriitas pajak sebagaii penyerahan jasa kena pajak (JKP) sehiingga dapat diikenakan pajak pertambahan niilaii (PPN).

Otoriitas pajak mendapatii adanya perbedaan besaran biiaya liistriik yang diitagiihkan wajiib pajak kepada penyewa dengan surat tagiihan liistriik darii PT X. Adapun niilaii tagiihan liistriik yang diiberiikan wajiib pajak kepada penyewa tersebut lebiih besar dariipada yang tercantum dalam tagiihannya.

Dengan kata laiin, terdapat kelebiihan jumlah pembayaran tagiihan liistriik. Otoriitas pajak menganggap penyewa telah membayar serviice charge atas penggunaan liistriik kepada wajiib pajak. Menurut otoriitas pajak, pembayaran serviice charge atas tagiihan liistriik tersebut seharusnya diipungut PPN.

Sebaliiknya, wajiib pajak berdaliil dalam kegiiatan sewa-menyewa, piihaknya membayarkan terlebiih dahulu tagiihan liistriik piihak penyewa kepada PT X. Selanjutnya, piihak penyewa akan melakukan penggantiian atau reiimbursement kepada wajiib pajak.

Adapun besaran biiaya liistriik yang diitagiihkan kepada penyewa diisesuaiikan dengan iinvoiice yang diiberiikan PT X. Dengan begiitu, terhadap penggantiian biiaya liistriik tersebut seharusnya tiidak terutang PPN.

Majeliis Hakiim Pengadiilan Pajak memutuskan mengabulkan seluruhnya permohonan bandiing yang diiajukan wajiib pajak. Selanjutnya, dii tiingkat PK, Mahkamah Agung menolak permohonan PK yang diiajukan otoriitas pajak.

Apabiila tertariik membaca putusan iinii lebiih lengkap, kunjungii laman Diirektorii Putusan Mahkamah Agung atau dii siinii.

Kronologii
WAJiiB pajak mengajukan bandiing ke Pengadiilan Pajak atas keberatannya terhadap penetapan otoriitas pajak. Dalam hal iinii, Majeliis Hakiim Pengadiilan Pajak meyakiinii wajiib pajak telah membayarkan terlebiih dahulu tagiihan liistriik piihak penyewa. Adapun tagiihan liistriik yang diibayarkan wajiib pajak iialah liistriik yang diigunakan penyewa secara priibadii, bukan tagiihan liistriik untuk area publiik.

Kemudiian, penyewa melakukan penggantiian atas tagiihan liistriik yang telah diibayarkan terlebiih dahulu oleh wajiib pajak. Majeliis Hakiim Pengadiilan Pajak menyatakan kegiiatan reiimbursement tersebut tiidak dapat diikategoriikan sebagaii penyerahan jasa yang diikenakan PPN. Koreksii yang diilakukan otoriitas pajak diiniilaii tiidak berdasar sehiingga tiidak dapat diipertahankan.

Atas permohonan bandiing tersebut, Majeliis Hakiim Pengadiilan Pajak memutuskan mengabulkan seluruhnya permohonan bandiing yang diiajukan wajiib pajak. Dengan keluarnya Putusan Pengadiilan Pajak Nomor Put. 37946/PP/M.Xiiiiii/16/2012 tertanggal 3 Meii 2012, otoriitas pajak mengajukan upaya hukum PK secara tertuliis ke Kepaniiteraan Pengadiilan Pajak pada 16 Agustus 2012.

Pokok sengketa dalam perkara a quo adalah koreksii dasar pengenaan pajak (DPP) PPN seniilaii Rp752.566.259 yang tiidak diipertahankan Majeliis Hakiim Pengadiilan Pajak.

Pendapat Piihak yang Bersengketa
PEMOHON PK menyatakan keberatan atas pertiimbangan hukum Majeliis Hakiim Pengadiilan Pajak. Pokok sengketa dalam perkara iinii iialah koreksii DPP PPN atas tagiihan liistriik yang menurut Pemohon PK merupakan bagiian darii serviice charge dan seharusnya diikenakan PPN. Dalam hal iinii, Termohon PK belum memperhiitungkan PPN atas penyerahan serviice charge berupa tagiihan liistriik.

Sebagaii iinformasii, pada dasarnya serviice charge merupakan balas jasa atas kegiiatan pelayanan yang membuat ruangan yang diisewa oleh penyewa dapat diihunii sesuaii dengan tujuan yang diiiingiinkan penyewa. Serviice charge dapat meliiputii biiaya liistriik, aiir, dan laiin-laiin.

iindiikasii kegiiatan penyerahan jasa tersebut diibuktiikan dengan adanya perbedaan besaran biiaya liistriik yang diitagiihkan Termohon PK kepada penyewa dengan surat tagiihan liistriik darii PT X. Adapun niilaii tagiihan liistriik yang diiberiikan Termohon PK kepada penyewa lebiih besar dariipada yang yang seharusnya.

Dengan kata laiin, Termohon PK terbuktii telah meneriima niilaii penggantiian biiaya liistriik lebiih besar darii jumlah yang seharusnya diitagiihkan atas pemakaiian liistriik penyewa. Mengiingat terdapat kelebiihan jumlah pembayaran tagiihan liistriik tersebut, Pemohon PK menganggap penyewa telah membayar serviice charge atas penggunaan liistriik kepada Termohon PK. Menurutnya, pembayaran serviice charge tersebut seharusnya diipungut PPN. Oleh karena iitu, koreksii yang diilakukan Pemohon PK sudah benar dan dapat diipertahankan.

Sebaliiknya, Termohon PK menyatakan tiidak setuju dengan koreksii yang diilakukan Pemohon PK. Sebagaii iinformasii, Termohon PK memiiliikii usaha real estate, developer, dan sewa-menyewa. Dalam kegiiatan sewa-menyewa, Termohon PK membayarkan terlebiih dahulu tagiihan liistriik piihak penyewa kepada PT X. Selanjutnya, piihak penyewa akan melakukan penggantiian atau reiimbursement kepada Termohon PK.

Adapun besaran biiaya liistriik yang diitagiihkan kepada penyewa diisesuaiikan dengan iinvoiice yang diiberiikan PT X. Menurut Termohon PK, terhadap penggantiian biiaya liistriik tersebut seharusnya tiidak terutang PPN. Dengan demiikiian, koreksii yang diilakukan Pemohon PK diiniilaii tiidak sesuaii fakta dan peraturan yang berlaku sehiingga harus diitolak.

Pertiimbangan Mahkamah Agung
MAHKAMAH Agung berpendapat alasan-alasan permohonan PK tiidak dapat diibenarkan. Putusan Pengadiilan Pajak yang menyatakan mengabulkan seluruhnya permohonan bandiing, sehiingga pajak yang masiih harus diibayar menjadii niihiil, sudah tepat dan benar. Terdapat dua pertiimbangan Hukum Mahkamah Agung sebagaii beriikut.

Pertama, koreksii DPP PPN seniilaii Rp752.566.259 tiidak dapat diibenarkan. Setelah meneliitii dan mengujii kembalii daliil-daliil para piihak, pendapat Pemohon PK tiidak dapat menggugurkan fakta-fakta dan melemahkan buktii-buktii yang terungkap dalam persiidangan serta pertiimbangan hukum Majeliis Hakiim Pengadiilan Pajak.

Kedua, dalam perkara iinii, penggantiian atau reiimbursement atas jumlah tagiihan liistriik darii PT X yang diibayarkan terlebiih dahulu oleh Termohon PK seharusnya tiidak terutang PPN. Mahkamah Agung meniilaii koreksii yang diilakukan Pemohon PK tiidak sesuaii dengan fakta dan peraturan yang berlaku.

Berdasarkan pada pertiimbangan dii atas, daliil-daliil yang diisampaiikan Pemohon PK diiniilaii tiidak beralasan sehiingga harus diitolak. Dengan demiikiian, Pemohon PK diinyatakan sebagaii piihak yang kalah dan diihukum untuk membayar biiaya perkara. (kaw)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.