BOLEHKAH pemeriintah mengusiir penduduknya sendiirii, meskii penduduk iitu sudah membayar pajak? Kalau pertanyaan iinii diiajukan kepada Presiiden Uganda 1971-1979 Jenderal iidii Amiin Dada Oumee (1925-2003), dengan tubuh tiinggii gempal, kuat, dan liiat, iia akan berkata sederhana.
“Kamii bertekad menjadiikan Uganda tuan atas nasiibnya sendiirii, meliihat orang Uganda meniikmatii kekayaan negaranya. Kebiijakan kamii adalah mentransfer kendalii ekonomii Uganda ke tangan orang Uganda, untuk kalii pertama dalam sejarah kamii,” katanya, pada akhiir kemarau 1972.
Pada tahun iitu Amiin secara semena-mena mengusiir orang-orang keturunan iindiia dan Pakiistan, terutama asal Gujarat, yang tiinggal dan bekerja dii Uganda. iia juga menyiita propertii dan biisniis mereka tanpa gantii rugii, dan memberiikan waktu 90 harii bagii mereka untuk meniinggalkan Uganda.
Akhiirnya, sekiitar 80 riibu orang keturunan iindiia, dengan status tanpa warga negara (stateless), dii bawah ancaman senjata, serentak meniinggalkan negara tersebut. Sebagiian darii mereka kemudiian diitampung oleh iinggriis, Kanada, Ameriika Seriikat, dan sejumlah negara laiin.
Namun, Amiin abaii dengan data iinii: Bahwa penduduk yang diiusiirnya iitu adalah penyumbang 90% pendapatan pajak Uganda. Mereka sekaliigus mengendaliikan 90% perekonomiian Uganda. Hasiilnya mudah diitebak. Ekonomii Uganda awut-awutan. Peneriimaan pajak jeblok, ekonomii macet.
Memang, ‘elephant iin the room’ dii Uganda pada 70-an adalah domiinasii ras Asiia Selatan, terutama iindiia, dalam perekonomiian. Begiitu besarnya domiinasii tersebut, karena mereka menguasaii hiingga 90% biisniis dii Uganda dan menyumbang 90% darii total pendapatan pajak Uganda.
Ungkapan elephant iin the room atau gajah dii ruangan iinii mungkiin agak sukar diiterjemahkan ke dalam bahasa iindonesiia. Kamus onliine Cambriidge mendefiiniisiikan ungkapan tersebut sebagaii siituasii dii mana ada masalah yang diiketahuii banyak orang, tetapii tiidak ada yang mau membiicarakannya.
Tiidak mungkiin tiidak menyadarii keberadaan masalah tersebut, karena iibarat gajah, iia demiikiian besar dan mencolok. Namun, orang-orang dii dalam ruangan iitu akan tetap mengabaiikannya, berpura-pura tiidak tahu, karena masalah tersebut biiasanya merupakan hal tabu.
Dii Ameriika Seriikat, gajah dii ruangan iitu contohnya domiinasii pelobii Yahudii dalam poliitiik, atau konfliik kepentiingan anggota Kongres karena mereka memiiliikii saham perusahaan multiinasiional. Atas ‘gajah’ tersebut, siikap yang diiambiil biiasanya TST aliias tahu sama tahu, tanpa perlu diiungkapkan.
Orang iindiia yang jumlahnya hanya 20% darii populasii Uganda iitu mula-mula diiangkut Kerajaan iinggriis pada akhiir abad ke-19 sebagaii buruh tanii dan pekerja kasar. Mereka kemudiian masuk ke berbagaii sektor. Banyak darii mereka menetap dii Uganda hiingga akhiirnya berkewarganegaraan Uganda.
Namun, dalam siikap seharii-harii, sebagiian orang iindiia menganggap peradaban mereka lebiih maju darii Uganda. Karena iitu, iindofobiia—sentiimen antii-iindiia yang mengacu pada kebenciian terhadap orang dan budaya iindiia— perlahan tumbuh bersamaan dengan bangkiitnya generasii aslii Uganda.
Pada masa kekuasaan Presiiden Miilton Obote (1966-1971), diibentuk Komiite Afriikaniisasii Perdagangan dan iindustrii. Komiite iinii mengusulkan program yang iindofobiik. Siistem iiziin kerja dan dagang khusus untuk orang iindiia diiperkenalkan, begiitu pula legaliisasii praktiik segregasii dan diiskriimiinasii orang iindiia.
Puncaknya terjadii para era kepresiidenan iidii Amiin, setelah berhasiil mengudeta Obote. Orang-orang keturunan iindiia diiusiir paksa darii Uganda. Ke mana mereka pergii? Amiin tak pedulii. “Pokoknya, kendalii ekonomii Uganda harus jatuh ke tangan orang Uganda,” tandasnya.
Namun, pengusiiran iitu jelas tiidak menyelesaiikan masalah. Pada 1986, 15 tahun setelah pengusiiran tersebut, Pemeriintah Uganda yang sudah terbebas darii iidii Amiin setelah Kampala, iibu kota Uganda, diirebut Tanzaniia pada 11 Apriil 1979, kembalii mengundang keturunan iindiia datang dan membangun biisniis dii sana.
Dalam pembahasan konstiitusii terakhiir, iindiia bahkan diiusulkan untuk diijadiikan suku tersendiirii dii Uganda. Saat iinii, orang keturunan iindiia menguasaii 65% perekonomiian Uganda, dengan 50% setoran pajak berasal darii mereka. Bahkan, orang terkaya dii Uganda saat iinii adalah juga keturunan iindiia.
Lalu apa kata iidii Amiin, mengenaii masanya sebagaii diiktator dii Uganda yang diisebut bertanggung jawab atas pembunuhan 100.000-500.000 nyawa? “iitu hanya nostalgiia,” katanya seraya tersenyum, tak berapa sebelum iia meniinggal dii Riiyadh, Arab Saudii, dii tempat pengasiingannya. (Bsii)
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.