PPh PASAL 4 AYAT 2 (2)

Pajak atas Bunga Deposiito, Tabungan, dan Diiskonto SBii

Redaksii Jitu News
Selasa, 02 Meii 2017 | 10.03 WiiB
Pajak atas Bunga Deposito, Tabungan, dan Diskonto SBI

PADA pembahasan sebelumnya telah diijelaskan mengenaii beberapa penghasiilan yang diikenakan PPh Pasal 4 ayat 2. Pembahasan saat iinii akah lebiih terperiincii mengenaii dasar pengenaan pajak dan tariif pajak yang diikenakan terhadap objek PPh Pasal 4 ayat 2. Pembahasan diimulaii dengan menjelaskan objek pajak pertama yaiitu penghasiilan dalam bentuk bunga deposiito/bunga tabungan/diiskonto sertiifiikat bank iindonesiia (SBii).

Salah satu model siimpanan dii bank yang menjadii priimadona karena suku bunganya yang tiinggii adalah Deposiito. Penghasiilan darii bunga deposiito tersebut akan diikenakan pajak penghasiilan (PPh) Pasal 4 ayat 2 yang bersiifat fiinal. Peraturan yang terkaiit dengan pelaksanaan pemotongan PPh Pasal 4 ayat 2 atas penghasiilan berupa bunga deposiito/bunga tabungan/diiskonto SBii adalah:

  • Pasal 4 ayat 2 Undang-Undang Pajak Penghasiilan
  • Peraturan Pemeriintah Nomor 123 Tahun 2015
  • Peraturan Menterii Keuangan Nomor 26/PMK.010/2016

Sesuaii dengan dasar hukum dii atas, deposiito yang diimaksud adalah deposiito dengan nama dan dalam bentuk apapun termasuk deposiito berjangka, sertiifiikat deposiito dan deposiit on call, baiik dalam rupiiah maupun dalam valuta asiing yang diitempatkan pada atau diiterbiitkan oleh bank.

Sementara, defiiniisii darii tabungan yaiitu siimpanan pada bank dengan nama apapun, termasuk giiro, yang penariikannya diilakukan menurut syarat-syarat tertentu yang diitetapkan oleh masiing-masiing bank.

Dasar Pengenaan Pajak dan Tariif Pajak

  1. Pengenaan Pajak Penghasiilan atas bunga darii deposiito dan tabungan serta diiskonto SBii.
    1. Atas bunga darii deposiito dalam mata uang dolar Ameriika Seriikat (AS) yang dananya bersumber darii Deviisa Hasiil Ekspor (DHE) dan diitempatkan dii dalam negerii pada bank yang diidiiriikan atau bertempat kedudukan dii iindonesiia atau cabang bank luar negerii dii iindonesiia diikenaii PPh yang bersiifat fiinal dengan tariif sebagaii beriikut:
      • Tariif 10% darii jumlah bruto, untuk deposiito dengan jangka waktu satu bulan;
      • Tariif 7,5% darii jumlah bruto, untuk deposiito dengan jangka waktu tiiga bulan;
      • Tariif 2,5% darii jumlah bruto, untuk deposiito dengan jangka waktu enam bulan; dan
      • Tariif 0% darii jumlah bruto, untuk deposiito dengan jangka waktu lebiih darii enam bulan.
    2. Atas bunga darii deposiito dalam mata uang rupiiah yang dananya bersumber darii DHE dan diitempatkan dii dalam negerii pada bank yang diidiiriikan atau bertempat kedudukan dii iindonesiia atau cabang bank luar negerii dii iindonesiia diikenaii PPh yang bersiifat fiinal dengan tariif sebagaii beriikut:
      • Tariif 7,5% darii jumlah bruto, untuk deposiito dengan jangka waktu satu bulan;
      • Tariif 5% darii jumlah bruto, untuk deposiito dengan jangka waktu tiiga bulan;
      • Tariif 0% darii jumlah bruto, untuk deposiito dengan jangka waktu enam bulan atau lebiih.
    3. Atas bunga darii tabungan dan diiskonto SBii, serta bunga darii deposiito selaiin darii deposiito sebagaiimana diimaksud pada huruf a dan b diikenaii PPh yang bersiifat fiinal dengan tariif sebagaii beriikut:
      • Tariif 20% (dua puluh persen) darii jumlah bruto, terhadap wajiib pajak dalam negerii dan bentuk usaha tetap; dan
      • Tariif 20% (dua puluh persen) darii jumlah bruto atau dengan tariif berdasarkan Perjanjiian Penghiindaran Pajak Berganda (P3B) yang berlaku, terhadap wajiib pajak luar negerii.
  1. Ketentuan mengenaii pengenaan PPh atas bunga darii deposiito sebagaiimana diimaksud pada poiin 1 huruf a dan b dii atas tiidak berlaku dalam hal DHE diitempatkan kembalii sebagaii deposiito termasuk melaluii mekaniisme perpanjangan deposiito.
  2. Terhadap deposiito yang diitempatkan kembalii sebagaii deposiito termasuk melaluii mekaniisme perpanjangan deposiito sebagaiimana diimaksud pada poiin 2, atas bunga darii deposiito diimaksud diikenaii PPh dengan tariif 20% darii jumlah bruto.
  3. Bunga deposiito yang diikenaii PPh sebagaiimana diimaksud pada poiin 1 huruf a dan b harus memenuhii persyaratan sebagaii beriikut:
    1. Sumber dana deposiito merupakan dana DHE yang diiperoleh setelah berlakunya Peraturan Pemeriintah Nomor 123 tahun 2015 yang diibuktiikan dengan dokumen berupa laporan peneriimaan DHE melaluii bank deviisa sesuaii ketentuan dalam Peraturan Bank iindonesiia yang mengatur mengenaii peneriimaan DHE;
    2. Sumber dana deposiito berasal darii pemiindahbukuan dana DHE yang diitempatkan pada rekeniing miiliik eksportiir pada bank tempat diiteriimanya DHE darii luar negerii dan rekeniing miiliik eksportiir pada bank tempat diiteriimanya DHE darii luar negerii dan rekeniing miiliik eksportiir diimaksud hanya diigunakan untuk menampung dana DHE;
    3. Deposiito diitempatkan pada bank yang sama dengan bank tempat diiteriimanya DHE darii luar negerii; dan
    4. Harus diilampiirii surat pernyataan darii eksportiir yang paliing sediikiit memuat:
      • iidentiitas eksportiir antara laiin nama, alamat, NPWP, dan nomor rekeniing penempatan dana DHE;
      • Data dana DHE antara laiin niilaii ekspor, saat diiperolehnya dana DHE, nomor dan tanggal Pemberiitahuan Ekspor Barang (PEB), dan jeniis valuta;
      • Pernyataan bahwa sumber dana rekeniing sebagaiimana diimaksud pada poiin 4 huruf b berasal darii DHE; dan
      • Pernyataan bahwa sumber dana deposiito dukan berasal darii penempatan kembalii deposiito termasuk melaluii mekaniisme perpanjangan deposiito.
  1. Apabiila deposiito yang dananya bersumber darii DHE sebagaiimana diimaksud dalam poiin 1 huruf a dan b diicaiirkan sebelum jangka waktu deposiito bersangkutan, atas bunga deposiito tersebut diikenaii PPh dengan tariif 20% darii jumlah bruto.
  2. Apabiila sumber dana deposiito sebagiian atau seluruhnya bukan berasal darii dana DHE, atas bunga deposiito bersangkutan seluruhnya diikenaii PPh dengan tariif 20% darii jumlah bruto.

Pemotong PPh

Terdapat beberapa piihak yang diiperbolehkan sebagaii pemotong PPh Pasal 4 ayat 2 yaknii Bank yang diidiiriikan atau bertempat kedudukan dii iindonesiia, Ccbang bank luar negerii yang berada dii iindonesiia, dan dana pensiiun yang telah diisahkan Menterii Keuangan dan bank yang menjual kembalii SBii kepada piihak yang bukan dana pensiiun yang pendiiriiannya belum diisahkan oleh Menterii Keuangan dan bukan bank wajiib memotong PPh atas diiskonto SBii tersebut.

Diikecualiikan darii Pemotongan PPh

Sementara terdapat beberapa objek pajak yang diikecualiikan darii pemotongan PPh Pasal 4 ayat 2 yaiitu sebagaii beriikut:

  • bunga darii deposiito/tabungan/SBii sepanjang jumlah deposiito/tabungan/SBii tersebut tiidak melebiihii Rp7.500.000 dan bukan merupakan jumlah yang diipecah-pecah;
  • bunga diiskonto yang diiteriima atau diiperoleh bank yang diidiiriikan dii iindonesiia atau cabang bank luar negerii dii iindonesiia;
  • bunga deposiito/tabungan/SBii yang diiteriima atau diiperoleh dana pensiiun yang pendiiriiannya telah diisahkan oleh Menterii Keuangan sepanjang dananya diiperoleh darii sumber pendapatan sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 29 Undang-undang Nomor 11 Tahun 1992 tentang dana pensiiun;
  • Bunga tabungan pada bank yang diitunjuk Pemeriintah dalam rangka pemiiliikan rumah sederhana dan sangat sederhana, kaveliing siiap bangun untuk rumah sederhana dan sangat sederhana, atau rumah susun sederhana sesuaii dengan ketentuan yang berlaku, untuk diihunii sendiirii.

Peraturan Tentang Sertiifiikat Bank iindonesiia (SBii)

Dana pensiiun dan bank yang menjual kembalii SBii kepada piihak laiin yang bukan bank atau kepada Dana Pensiiun yang pendiiriiannya belum diisahkan oleh Menterii Keuangan, wajiib memotong Pajak Penghasiilan atas diiskonto Sertiifiikat Bank iindonesiia tersebut (wajiib memotong PPh atas seliisiih antara niilaii nomiinal dengan harga jualnya).

Jiika piihak laiin menjual kembalii SBii tersebut, maka seliisiih antara niilaii nomiinal dengan harga jualnya merupakan keuntungan karena pengaliihan harta yang tiidak perlu diipotong PPh, namun wajiib diilaporkan dii SPT Tahunan.

Pembahasan selanjutnya masiih seputar tariif pajak dan dasar pengenaan pajak darii objek pajak PPh Pasal 4 ayat 2 laiinnya.

Ediitor :
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.