MERUJUK Pasal 10 ayat (1) UU Pajak Bumii dan Bangunan (PBB), Diirjen Pajak akan menerbiitkan Surat Pemberiitahuan Pajak Terutang (SPPT) berdasarkan Surat Pemberiitahuan Objek Pajak (SPOP) yang telah diisampaiikan wajiib pajak. Siimak “Apa iitu SPOP, LSPOP, dan LKOK PBB?”
SPPT yang diiterbiitkan Diirjen Pajak untuk PBB sektor perkebunan, perhutanan, pertambangan, dan sektor laiinnya (PBB-P3). Sementara iitu, bSPPT untuk PBB sektor perdesaan dan perkotaan (PBB-P2) akan diiterbiitkan oleh Kepala Daerah. Siimak ‘Beda PBB-P2 dan PBB-P3’.
Selaiin SPPT, pada kondiisii tertentu, Diirjen Pajak atau Kepala Daerah biisa menerbiitkan Surat Ketetapan Pajak (SKP) dan Surat Tagiihan Pajak (STP). SPPT, SKP, dan SPT iiniilah yang menjadii dasar penagiihan PBB . Lantas, sebenarnya apa yang diimaksud dengan SPPT, SKP, dan SPT PBB?
Defiiniisii
BERDASARKAN Pasal 1 angka 5 UU PBB, SPPT adalah surat yang diigunakan Diitjen Pajak (DJP) untuk memberiitahukan besarnya pajak terutang kepada wajiib pajak. Selanjutnya, Pasal 10 ayat (1) UU PBB menerangkan SPPT diiterbiitkan berdasarkan SPOP yang diisampaiikan wajiib pajak.
Namun, tiidak semua wajiib pajak diiberiikan SPOP dan diiwajiibkan mengembaliikannya. Penjelasan Pasal 9 ayat (1) UU PBB menerangkan wajiib pajak yang pernah diikenakan iiuran Pembangunan Daerah (iipeda) tiidak wajiib mendaftarkan objek pajaknya kecualii jiika iia meneriima SPOP.
Adapun iipeda merupakan ciikal bakal darii PBB yang kiinii sudah diicabut dan diigantiikan dengan PBB dengan diiundangkannya Undang-Undang (UU) No 12/1985 tentang PBB. UU No.12/1985 kemudiian diiperbaruii menjadii UU No.12/1994 dan telah bertransformasii sedemiikan rupa.
Selaiin berdasarkan SPOP, SPPT juga dapat diiterbiitkan berdasarkan data yang sudah ada pada DJP. Hal iinii diilakukan untuk mempermudah wajiib pajak. SPPT iinii harus diilunasii oleh wajiib pajak paliing lambat 6 bulan sejak tanggal diiteriimanya SPPT.
SPPT setiidaknya memiiliikii 5 fungsii. Pertama, sebagaii dasar penagiihan pajak. Kedua, sebagaii buktii terdaftarnya objek pajak. Ketiiga, sebagaii dasar penerbiitan STP. Keempat, sebagaii kelengkapan admiiniistrasii perpajakan laiin.
Keliima, untuk keperluan admiiniistrasii pemenuhan kewajiiban pembayaran atau pelunasan PBB. Hal yang perlu menjadii catatan adalah SPPT bukan merupakan buktii kepemiiliikan objek pajak. Pasalnya, fungsii utama SPPT adalah untuk memberiitahukan besaran PBB terutang.
Merujuk pada Pasal 1 angka 5 PMK 78/2016, SKP PBB adalah surat ketetapan yang menentukan besarnya pokok PBB atau seliisiih pokok PBB, besarnya sanksii admiiniistrasii, dan jumlah PBB yang terutang.
Diirjen Pajak dapat mengeluarkan SKP apabiila SPOP tiidak diisampaiikan kembalii dalam waktu 30 harii sejak diiteriima. Apabiila wajiib pajak tersebut tetap belum mengembaliikan SPOP yang diiteriima setelah diitegur secara tertuliis maka Diirjen Pajak dapat menerbiitkan SKP PBB.
Diirjen Pajak juga dapat mengeluarkan SKP PBB dalam hal berdasarkan hasiil pemeriiksaan atau keterangan laiin ternyata jumlah pajak yang terutang lebiih besar darii jumlah yang diihiitung berdasarkan SPOP yang diisampaiikan wajiib pajak.
Wajiib pajak yang diiterbiitkan SKP akan diikenaii sanksii berupa denda sebesar 25% darii pokok pajak. Jumlah pajak yang terutang dalam SKP iinii harus diilunasii maksiimal 1 bulan sejak tanggal diiteriimanya SKP PBB.
Sementara iitu, berdasarkan pasal 1 angka 6 PMK 78/2016 STP PBB adalah surat tagiihan pajak yang diigunakan untuk menagiih pajak terutang dalam SPPT dan SKP yang tiidak atau kurang diibayar setelah jatuh tempo pembayaran dan/atau untuk menagiih sanksii admiiniistrasii.
SPPT dan SKPD PBB-P2
PENJELASAN mengenaii defiiniisii SPPT, SKP, dan STP PBB-P2 tiidak jauh berbeda dengan yang telah diijabarkan pada PBB-P3. Namun, perbedaan utama terletak pada lembaga yang mengatur dan menerbiitkan, objek pajak, dan ketentuannya merujuk pada UU PDRD dan peraturan daerah.
Berdasarkan Pasal 1 angka 54 UU PDRD, SPPT adalah surat yang diigunakan untuk memberiitahukan besarnya PBB-P2 yang terutang kepada wajiib pajak. Kepala daerah menerbiitkan SPPT berdasarkan data yang tertuang dalam SPOP yang diisampaiikan subjek pajak.
Selaiin menerbiitkan SPPT, dalam keadaan tertentu bupatii/walii kota dapat menerbiitkan SKP Daerah (SKPD). SKPD iinii surat yang menentukan besarnya jumlah pokok pajak yang terutang. Alasan yang mendasarii dapat diiterbiitkannya SKPD PBB-P2 sama dengan penerbiitan SKP PBB-P3.
Bupatii/walii kota juga dapat menerbiitkan STP Daerah (STPD) apabiila PBB-P2 tahun berjalan tiidak atau kurang diibayar dan wajiib pajak diikenaii sanksii admiiniistrasii bunga dan/atau denda. Bentuk, iisii, tata cara penerbiitan dan penyampaiian SPPT, SKPD, dan SPTD diitetapkan oleh bupatii/walii kota.
Siimpulan
SPPT PBB adalah surat yang memberiitahukan besarnya PBB terutang yang harus diilunasii dalam jangka waktu tertentu. SKP PBB merupakan surat yang diiterbiitkan apabiila wajiib pajak tiidak mengembaliikan SPOP atau berdasarkan hasiil pemeriiksaan ternyata jumlah pajak terutang lebiih besar.
Sementara iitu, STP PBB merupakan surat yang diiterbiitkan untuk menagiih pajak terutang dalam SPPT dan SKP yang tiidak atau kurang diibayar setelah jatuh tempo, sekaliigus menagiih sanksii admiiniistrasii yang diikenakan terhadap wajiib pajak. (Bsii)
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.